Dosen dan Mahasiswa UNJ Terpilih mengikuti Japanese-Language Education Capacity Building : Southeast Asian Teachers Traning College Course in Japan 2017/2018

Frida Philiyanti, M.Pd. (Dosen Prodi Bahasa Jepang) dan Feny Oktaviany (Mahasiswa Prodi Bahasa Jepang) Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta terpilih untuk mengikuti program Japanese-Language Education Capacity Building
  • FBS UNJ

Frida Philiyanti, M.Pd. (Dosen Prodi Bahasa Jepang) dan Feny Oktaviany (Mahasiswa Prodi Bahasa Jepang) Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta terpilih untuk mengikuti program Japanese-Language Education Capacity Building : Southeast Asian Teachers Traning College Course in Japan 2017/2018. Program ini merupakan program yang diselenggarakan oleh The Japan Foundation dalam rangka memacu peningkatan kemampuan pengajar dan calon pengajar bahasa Jepang yang ada di Asia Tenggara, khususnya Indonesia sebagai negara dengan peringkat kedua di dunia dalam jumlah pemelajar bahasa Jepang. Mereka berdua merupakan bagian dari 30 orang peserta, yang terdiri dari 15 orang dosen dan 15 orang mahasiswa dari 28 perguruan tinggi terpilih di Indonesia. Sasaran program adalah perguruan tinggi yang mencetak calon pengajar bahasa Jepang.  Pada tahun ini ada 28 perguruan tinggi yang menjadi sasaran, salah satunya UNJ.

Masing-masing perguruan tinggi diperbolehkan mengajukan satu orang dosen dan satu orang mahasiswa untuk mengikuti seleksi berkas. Pemilihan dosen dan mahasiswa dikembalikan pada kebijakan program studi masing-masing dengan mengacu pada persyaratan yang ditentukan oleh The Japan Foundation. Secara umum persyaratan tersebut adalah memiliki kemampuan bahasa Jepang level N2 ke atas untuk dosen, dan tidak mengikuti program lain yang diselenggarakan oleh The Japan Foundation Pusat dalam lima tahun terakhir. Sedangkan persyaratan untuk mahasiswa adalah diperuntukan untuk mahasiswa yang bertekad ingin menjadi guru bahasa Jepang setelah menyelesaikan program sarjana (S1) dan memiliki kemampuan berbahasa setingkat N3 atau lebih.

Selanjutnya masing-masing pelamar diminta untuk menulis esai tentang permasalahan dalam pengajaran bahasa Jepang bagi dosen, dan tentang visinya apabila menjadi guru bahasa Jepang bagi mahasiswa. Dari seluruh pelamar akan diseleksi kembali menjadi 30 orang, yaitu 15 orang dosen dan 15 orang mahasiswa.

Semenjak program ini diselenggarakan sejak tahun fiskal 2014, UNJ selalu lolos seleksi baik dosen maupun mahasiswa. Program untuk dosen ditujukan untuk pengembangan metode pengajaran khususnya latihan menggunakan JF Standard sebagai acuan untuk menentukan target pembelajaran di tiap tatap muka. Bagi mahasiswa program ditujukan untuk pengembangan kemampuan bahasa dan pemahaman budaya Jepang.

Agenda kegiatan sangat padat setiap hari kecuali hari Sabtu, Minggu dan hari libur Nasional Jepang. Secara keseluruhan kegiatan selama program adalah metode pengajaran (dosen), pengembangan kemampuan berbahasa (mahasiswa) yang difokuskan pada kegiatan diskusi dan pidato; pertemuan interaktif dengan mahasiswa Jepang maupun penduduk sekitar; kunjungan ke SD, SMP, Perguruan Tinggi; Home Visit; kegiatan budaya (ikebana, shodo, taiko), dan Field Work ke Osaka, Kyoto, dan Nara. Untuk tahun ini, program diselenggarakan dari tanggal 11 Januari – 24 Februari 2018 di The Japan Foundation Japanese-Langugage Institute, Kansai Center.

Hasil yang paling dirasakan selama mengikuti program ini menurut Frida Philiyanti, adalah kesempatan untuk saling bertukar ide dan pendapat seputar metode pengajaran, semakin kritis terhadap keefektivan dan keyakinan (belief) seorang dosen ketika mengajar. Selain itu, peserta diberi tugas untuk menilai masing-masing dua orang mahasiswa yang ditentukan oleh The Japan Foundation. Dengan demikian perhatian selama program tidak hanya pada program pengembangan dosen secara pribadi, tetapi juga pada kemajuan mahasiswa. Pada titik tersebut peserta kembali mengevaluasi program yang ditentukan oleh Prodi dengan menjadikan mahasiswa perguruan tinggi lain sebagai pembanding. Tugas yang paling banyak dilakukan adalah tugas mewawancara berbagai kalangan masyarakat maupun pelajar asing yang ada di Jepang. Pemahaman lintas budaya merupakan hal yang paling mendasar dalam mempelajari sebuah bahasa. Sebagai pengajar dan calon pengajar, para peserta dituntut untuk peka terhadap perubahan sosial yang tentunya akan berdampak pada perkembangan bahasa Jepang itu sendiri.

Sedangkan bagi mahasiswa, Feny Oktaviany menyatakan program ini merupakan kesempatan untuk aktualisasi diri. Seberapa besar pemahaman mereka pada tatabahasa, sebanyak apa kosakata dan huruf kanji yang mereka kuasai tidak akan memberikan makna yang berarti tanpa aktualisasi.

Program tahun ini diselenggarakan di musim dingin, dengan suhu rata-rata di Kansai, Osaka berkisar antara 1ᴼ hingga 8ᴼC. Kabarnya tahun ini merupakan musim terdingin dalam 53 tahun terakhir, meskipun demikian salju jarang turun di daerah Osaka. Pada musim seperti ini influenza sangat mudah menyerang. Di jepang apabila seseorang terkena influenza maka akan langsung dikarantina selama lima hari, apa pun kondisinya. Mohon do’anya agar kedua orang dosen dan mahasiswa asal UNJ ini tetap sehat hingga program berakhir dan dapat menebar manfaat di kampus tercinta, Universitas Negeri Jakarta. (ff)


Berita Terbaru