PLT. Rektor UNJ Menghadiri Education Roundtable di National Institute of Education, Singapura

keragaman kondisi pendidikan tinggi di Indonesia harus diperhitungkan ketika menentukan kebijakan dan strategi nasional.
  • Rektor UNJ, Wakil Rektor IV UNJ

Humas UNJ - Universitas Negeri Jakarta berkolaborasi dengan National Institute of Education (Singapura), serta School of Education (University of Queensland), menyelenggarakan Education Roundtable yang membahas tentang fenomena meningkatnya berbagai jenis pemangku kepentingan dan bagaimana keterlibatan mereka dalam dalam dunia pendidikan. Education Roundtable yang berlangsung 26 Juli 2018 bertempat di National Institute of Education Singapura dan mengambil tema “Stakeholders and the Changing Landscape of Education”.

Pendidikan saat ini  menjadi lanskap yang diisi oleh berbagai pemangku kepentingan, seperti negara, organisasi non-pemerintah, kelompok orang tua, serikat guru dan yang baru-baru ini muncul, berkembang dan semakin kuat yaitu pihak “edu-businesses”. Munculnya McKinsey, Pearson dan bahkan KPMG, merupakan salah satu contoh edu-businesses dari organisasi swasta yang mendapatkan peran menonjol dalam penelitian pendidikan.

Pada Roundtable ini, para pakar pendidikan dari berbagai negara akan berdiskusi dan menganalisis secara kritis lanskap dunia pendidikan yang terus berubah. Hadir dalam roundtable ini antara lain Plt. Rektor UNJ, Prof. Intan Ahmad, Ph.D., Dr Vicente Reyes- University of Queensland, Prof Bob Lingard-University of Queensland, Prof Robyn Gillies Jude Chua- National Institute of Education, Mr Low Soon How-NIE Singapore, Dr Hairon Salleh, Assistant Dean, Doctor in Education-NIE Singapore, Dr Sandra Wu –NIE Singapore, dan Dr Uma Natarajan – HEAD Foundation.

Dalam paparannya, Plt. Rektor UNJ yang didampingi oleh Wakil Rektor IV, Dr. Achmad Ridwan, Dr. Yuli Rahmawati dan Dr. RA. Hirmana menyampaikan bahwa pendidikan tinggi merupakan elemen kunci untuk memfasilitasi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Dalam paparannya yang berjudul “Mapping and Empowering Higher Education Stakeholders in Indonesia”, Plt Rektor menyebutkan bahwa pada tahun 2050, Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi terbesar peringkat ke-4 dunia setelah China, India dan Amerika Serikat. “Dalam konteks ini, pendidikan tinggi memainkan peran penting dalam mempersiapkan generasi muda Inonesia untuk menjadi kompetitif secara global. Pendidikan tinggi Indonesia menghadapi tantangan untuk bersaing dengan lembaga pendidikan tinggi global dan harus menyesuaikan diri dengan cepat terhadap perubahan nasional dan internasional. Tantangan global telah mengarah pada transformasi organisasi, kebijakan, dan strategi pendidikan tinggi. Transformasi ini berfokus pada pengembangan kompetensi dan pemberdayaan peserta didik sebagai individu, sebagai warga negara, dan sebagai agen perubahan yang bertanggung jawab, kreatif, inovatif dan mampu memberikan kontribusi kepada masyarakat, bangsa, dan peradaban dunia,” papar Plt. Rektor.

Menutup paparannya, Plt. Rektor menekankan bahwa keragaman kondisi pendidikan tinggi di Indonesia harus diperhitungkan ketika menentukan kebijakan dan strategi nasional. Untuk meningkatkan kompetensi, kredibilitas, dan kualitas pendidikan ada persyaratan mendasar yang dibutuhkan, melalui kolaborasi diantara para pemangku kepentingan, yang pada akhirnya akan mengarah pada kualitas kehidupan manusia yang lebih baik. Pemerintah bertanggung jawab untuk membuat kebijakan dan merespon peluang serta tantangan ini dengan cara strategis.


Berita Terbaru