Perkuat Mental Training untuk Atlet Berprestasi, Prodi PKO FIKK UNJ Gelar Seminar Nasional

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. UNJ Tutup PKKMB 2025, Lebih dari…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Pembekalan Keprotokolan Duta UNJ untuk Meningkatkan Profesionalisme Representasi Universitas

Perkuat Link and Match, FPsi UNJ Gelar Employer Meeting untuk Siapkan Lulusan Psikologi Future Ready

Monitoring Awal Program EQUITY, UNJ Tegaskan Komitmen Akuntabilitas dan Dampak Internasional

Employer Meeting FEB UNJ 2026, Dorong Kolaborasi Kampus, Industri, dan Pemerintah untuk Siapkan Lulusan Tangguh dan Berkualitas

Prodi Pendidikan Masyarakat FIP UNJ Selenggarakan Konferensi Internasional, Pendidikan Era Digital Jadi Fokus Pembahasan

Jakarta, Humas UNJ — Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO), Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Universitas Negeri Jakarta (FIKK UNJ) menggelar seminar nasional bertajuk “Teori dan Praktik Mental Training dalam Pengembangan High Performance”, Rabu (12/6), di Aula Gedung Olahraga Kampus UNJ.

Seminar ini bertujuan memperkuat pemahaman dan praktik mental training dalam dunia kepelatihan olahraga, khususnya dalam mendukung pencapaian prestasi atlet.

Dalam sambutannya, Tirto Apriyanto, dosen FIKK yang mewakili Koordinator Prodi PKO, menyampaikan bahwa psikologi olahraga saat ini mengalami perkembangan pesat. Ia juga menekankan pentingnya penguatan laboratorium psikologi olahraga di UNJ sebagai bagian dari upaya meningkatkan prestasi atlet melalui pendekatan ilmiah.

“Psikologi olahraga menjadi bagian penting dalam pencapaian prestasi. Kami berharap ke depan laboratorium psikologi olahraga dapat menjadi pusat pengembangan keilmuan dan praktik,” ujarnya.

Wakil Dekan Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni, Kuswahyudi, yang hadir mewakili Dekan FIKK Prof. Nofi Marlina Siregar, menambahkan bahwa mental training merupakan aspek krusial dalam sport science, meskipun masih sedikit peminatnya.

“Seminar ini menjadi momentum penting untuk menggali potensi dan memperluas wawasan dalam bidang mental training. Mental menjadi salah satu kelemahan dalam pembinaan olahraga kita,” jelasnya.

Ia juga berharap mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan ini dapat mengembangkan kompetensi baik secara teoretis maupun praktis.

Salah satu narasumber utama, Prof. Yusuf Hidayat, pakar Psikologi Olahraga dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, menegaskan bahwa psikologi olahraga merupakan bagian tak terpisahkan dari mental training.

“Aspek psikologis sama pentingnya dengan pelatih teknik dan fisik. Pelatih perlu memahami sport and exercise psychology untuk mendukung performa atlet,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya dokumen standar dalam desain besar olahraga nasional. “Di negara seperti Tiongkok, pelatih sudah mengacu pada dokumen standar. Kita juga perlu menyusun kurikulum yang seragam agar pembinaan lebih terarah,” tambahnya.

Iman Sulaiman, dosen Psikologi Kepelatihan FIKK UNJ sekaligus pakar Kemenpora 2021–2025, memaparkan materi bertema “Kebaruan Dunia Kepelatihan dalam Rangka Indonesia Emas 2024: Target DBON”. Ia menjelaskan bahwa pembinaan atlet kini berbasis sport science dan data, sesuai arahan Presiden dalam peringatan Hari Olahraga Nasional.

“Pembinaan atlet harus didukung peta konsep dan tabel periodesasi latihan untuk mencapai peak performance. Dalam pertandingan, 85 persen kemenangan ditentukan oleh atlet, sisanya oleh perencanaan pelatih,” jelasnya.

Aryati, dosen FIKK UNJ sekaligus mental coach POPB 2024, turut membagikan pengalaman dalam pembinaan atlet di DKI Jakarta melalui program Pengembangan Olahraga Prestasi Berkelanjutan (POPB). Ia menekankan pentingnya peran pelatih mental dalam setiap jenjang pembinaan, mulai dari POPP, Pelatda, hingga tingkat nasional.

Ia juga memaparkan empat prosedur utama dalam mental training:

  1. Mengutamakan pendekatan preventif daripada kuratif,
  2. Melakukan edukasi, konseling, dan asesmen,
  3. Berkolaborasi dengan pelatih dan orang tua,
  4. Membangun sinergi internal tim dalam mendampingi cabang olahraga.

“Konseling, mental training, dan asesmen adalah bagian penting dari layanan psikologi olahraga. Pemahaman psikologi membantu menjaga kesiapan dan kepercayaan diri atlet dalam mencapai performa terbaik,” pungkasnya.