Mendikdasmen: UNJ dan Labschool Mitra Strategis dalam Penyelenggaraan Pendidikan Bermutu

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Mendikdasmen: UNJ dan Labschool Mitra Strategis…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Tingkatkan Reputasi Global, Lima Mahasiswa UNJ Ikuti Student Exchange ke Jeonbuk National University Korea Selatan melalui Program EQUITY

Mengenal Lebih Dekat Dana Abadi UNJ

Perkuat Mutu dan Daya Saing Global, UNJ Pertahankan Status Akreditasi Unggul hingga 2027

Trilogi Pesan Rektor UNJ Saat Pelantikan OPMAWA dan ORMAWA

Perkuat Daya Saing Lulusan, FIKK UNJ Gelar Pendampingan Penyusunan Skema Sertifikasi Profesi

Jakarta, Humas UNJ — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Prof.  Abdul Mu’ti, menegaskan komitmen pemerintah terhadap pendidikan berkualitas yang inklusif dan berkarakter dalam “Sarasehan Kependidikan Labschool 2025” yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan Labschool di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta pada Rabu, 9 Juli 2025.

Dalam pidatonya, Prof. Mu’ti menyampaikan apresiasi kepada UNJ dan Labschool atas kontribusinya dalam penyelenggaraan pendidikan bermutu dan membentuk generasi Indonesia yang unggul.

“Saya ingin menyampaikan terima kasih kepada UNJ dan Labschool yang telah menjadi mitra strategis dalam menyelenggarakan pendidikan bermutu dan membentuk generasi hebat Indonesia,” ujarnya.

Prof. Mu’ti memaparkan arah kebijakan strategis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk periode 2025–2029 yang mengusung visi “Pendidikan Bermutu untuk Semua.” Visi ini, menurutnya, sejalan dengan amanat konstitusi dan Asta Cita Presiden dalam pembangunan sumber daya manusia yang unggul, menguasai teknologi, dan tetap berkepribadian Indonesia.

Sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter, Kementerian meluncurkan program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yang bertujuan membentuk kepribadian anak melalui kebiasaan positif yang dilakukan secara konsisten. Ketujuh kebiasaan tersebut meliputi:

  1. Bangun pagi;
  2. Beribadah;
  3. Berolahraga;
  4. Makan sehat;
  5. Rajin belajar;
  6. Bermasyarakat; dan
  7. Tidur lebih awal

“Kebiasaan ini sederhana, tetapi jika dilaksanakan bersama secara konsisten, Insya Allah akan membawa perubahan besar,” ujar Prof. Mu’ti.

Ia juga menekankan pentingnya pendidikan karakter yang ditanamkan melalui empat pusat pendidikan: sekolah, keluarga, masyarakat, dan media. Pendekatan holistik ini dinilai relevan di era digital yang penuh tantangan.

Dalam paparannya, Prof. Mu’ti menyoroti ketimpangan kualitas pendidikan antardaerah, khususnya di wilayah Indonesia bagian timur. Ia menegaskan bahwa akses dan mutu pendidikan harus merata, tanpa diskriminasi atas latar belakang sosial, ekonomi, agama, suku, maupun kemampuan fisik dan intelektual.

“Semua anak Indonesia, tanpa kecuali, berhak mendapatkan layanan pendidikan yang bermutu,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan pendidikan nasional.

“Kementerian tidak bisa bekerja sendiri. Kita perlu gotong royong dengan masyarakat, organisasi, dan individu, termasuk kampus seperti UNJ,” tambahnya.

Prof. Mu’ti menegaskan bahwa guru memiliki peran sentral dalam keberhasilan pendidikan. Ia menolak pandangan bahwa teknologi dapat menggantikan peran guru, dan justru menekankan pentingnya memperkuat posisi guru sebagai pendamping, pembimbing, dan teladan bagi siswa.

“Guru bukan sekadar fasilitator, tetapi agen peradaban,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi peran UNJ dalam program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi guru yang belum memenuhi kualifikasi akademik minimal. Program ini dinilai sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru.

Sebagai penutup, Prof. Mu’ti mengumumkan peluncuran program Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang akan dimulai pada November 2025 untuk jenjang SMA/sederajat, dan Maret 2026 untuk jenjang SMP dan SD. Tes ini tidak bersifat wajib dan tidak menentukan kelulusan, namun menjadi indikator capaian belajar siswa secara individual.

“Tes ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk memberi ruang bagi anak-anak menunjukkan capaian terbaiknya,” jelasnya.

TKA juga disebut sebagai alternatif dari sistem evaluasi berbasis sampling seperti Asesmen Nasional, dan dapat menjadi referensi objektif dalam proses penerimaan mahasiswa baru oleh perguruan tinggi.

Di akhir sambutannya, Prof. Mu’ti menyampaikan apresiasi kepada UNJ dan Labschool atas kontribusinya dalam pembangunan pendidikan nasional.

“Terima kasih kepada Labschool yang telah memberi contoh penyelenggaraan pendidikan yang bermutu, dan kepada UNJ yang terus menyumbangkan pemikiran strategis dalam kebijakan pendidikan nasional,” tutupnya. Acara ini turut dihadiri oleh Rektor UNJ Prof. Komarudin, Ketua Senat, para wakil rektor, dekan fakultas, kepala dan wakil kepala sekolah, guru, serta tenaga kependidikan dari enam satuan pendidikan Labschool UNJ, yakni Rawamangun, Kebayoran, Cibubur, Cirendeu, Bintaro, dan Ciracas.