Edura Cafe UNJ: Dari Tempat Ngopi, Diskusi, hingga Mencari Inspirasi

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Pengumuman
  4. »
  5. UKT UNJ 2024 TIDAK NAIK

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Kawal Akreditasi Unggul, UNJ Perkuat Sistem Penjaminan Mutu Institusi Berbasis Aturan Terbaru

Perkuat Jejaring Akademik Global, Dua Guru Besar UNJ Jadi Keynote Speaker Konferensi Internasional DCEST 2026 di Vietnam

Peringatan Nuzulul Qur’an Jadi Momentum Soft Launching Dies Natalis ke-62 dan Penyaluran Bantuan UKT Mahasiswa dari Rumah Amal UNJ

UNJ Luncurkan Innovation Challenge 2026 untuk Perkuat Ekosistem Inovasi Berdampak

Dukung Kemdiktisaintek, UNJ Jadi Lokasi Seleksi Cakepsek dan Cawakepsek SMA Unggul Garuda

Jakarta, Humas UNJ — Universitas Negeri Jakarta (UNJ) kini memiliki Edura Cafe yang dirancang untuk mendukung aktivitas para civitas akademika UNJ. Edura Cafe yang berada di Gedung SFD Kampus A UNJ, bukan hanya menjadi tempat untuk menikmati makanan, minuman, dan ngopi, tetapi juga tempat berdiskusi, bersantai, mengerjakan tugas kuliah, hingga mencari inspirasi bagi para civitas akademika UNJ.

Edura Cafe dikelola oleh PT Edura Cipta Gemilang yang merupakan Badan Usaha Milik UNJ yang sahamnya mayoritas dimiliki oleh universitas. Kehadiran Edura Cafe merupakan bagian dari strategi UNJ dalam membangun ekosistem ekonomi internal, seiring dengan transformasi statusnya menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH).

Pada kesempatan ini, Hernawan Tri Wibowo selaku Direktur PT Edura Cipta Gemilang menjelaskan bahwa Edura Cafe didirikan sebagai unit bisnis strategis untuk mendukung kemandirian UNJ. “Harapannya, sirkulasi ekonomi di UNJ dapat berputar di dalam kampus dan salah satu inisiatif kami adalah menghadirkan Edura Cafe sebagai ruang diskusi yang representatif,” ujar mas Bowo sapaan akrabnya.

Gagasan awal pendirian Edura Cafe berasal dari kompetisi wirausaha muda yang diselenggarakan oleh Badan Pengelola Usaha UNJ. Dan Bowo, menjadi salah satu finalis terpilih yang mengusulkan adanya ruang diskusi yang nyaman dan fleksibel di lingkungan kampus. Menurutnya, saat itu UNJ belum memiliki fasilitas yang memadai untuk menjamu tamu atau menjadi tempat berkumpul bagi sivitas akademika.

“Saya mengusulkan adanya spot diskusi dan ngopi di UNJ, karena kampus lain sudah memiliki fasilitas serupa. Ide ini kemudian disampaikan kepada tim dan pimpinan, lalu kami memanfaatkan salah satu ruangan di Gedung SFD untuk dijadikan kafe,” jelasnya. Ruangan tersebut kini dilengkapi dengan dua dapur yang sedang dalam proses optimalisasi.

Edura Cafe mengusung semangat edukatif dalam konsep, desain, dan pelayanannya. Nama “Edura” merupakan singkatan dari “Education of Rawamangun”, merujuk pada lokasi kampus utama UNJ. Meski masih dalam tahap awal operasional, kafe ini telah menarik minat mahasiswa, dosen, alumni, hingga tamu dari luar kampus.

“Awalnya kami menyasar dosen dan mahasiswa S2/S3, tetapi ternyata mahasiswa S1 dan D4 juga banyak yang datang. Bahkan beberapa dosen menerima tamu di sini. Itu menjadi kebanggaan tersendiri karena kafe ini mampu menjangkau segmen yang lebih luas,” kata Bowo.

Dari sisi produk, Edura Cafe menawarkan racikan kopi houseblend yang terdiri dari campuran 50% biji arabika dan 50% robusta, menciptakan keseimbangan rasa yang sesuai untuk berbagai selera. Untuk mendukung penyajian kopi berkualitas, kafe ini menggunakan mesin espresso Bezzera Dal1901 Single Group buatan Italia yang dikenal memiliki standar profesional.

Operasional Edura Cafe didukung oleh kerja sama dengan coffee shop Sajenak yang berbasis di Duren Sawit. Kolaborasi ini membantu memperkenalkan Edura Cafe ke khalayak yang lebih luas. Beberapa mahasiswa UNJ juga terlibat langsung sebagai Barista, sejalan dengan tujuan Edura sebagai tempat praktik dan pembelajaran keterampilan.

“Saat ini ada dua mahasiswa yang menjadi Barista, didampingi satu Barista profesional. Kami juga sedang menjajaki kerja sama dengan Prodi Tata Boga agar mahasiswa dapat praktik langsung di sini, termasuk mengembangkan menu khas Edura,” tambah Bowo.

Salah satu pengunjung, Mitha, mahasiswi UNJ, mengungkapkan kesan positif terhadap Edura Cafe. “Tempatnya nyaman, cocok untuk nongkrong maupun mengerjakan tugas. Interiornya minimalis dan modern, enak dilihat,” ujarnya. Ia juga memuji pelayanan yang ramah dan responsif dari para Barista.
“Super ramah dan helpful! Kalau bingung mau pesan apa, baristanya membantu. Mereka juga terbuka terhadap saran dan memastikan pesanan sesuai,” tambahnya.

Mitha menilai Edura Cafe sangat mendukung aktivitas belajar dan diskusi. “Nyaman untuk belajar atau diskusi, bisa indoor maupun outdoor. Bahkan ada private room, itu nilai tambah. Saya bisa datang ke sini 3–4 kali seminggu,” jelasnya.

Pengunjung lain, Daniswara, mahasiswa tingkat akhir, juga memberikan kesan serupa. “Vibes-nya hangat, modern, dan adem. Langsung ingin buka laptop dan kerja,” ujarnya. Ia menyarankan agar pengelola menyediakan Wi-Fi khusus pelanggan dan menambah jumlah kursi serta meja karena sering ramai.

“Menu favorit saya Caramel Macchiato, rasanya legit dan tidak terlalu manis. Harganya juga ramah di kantong mahasiswa,” tambahnya.

Saat ini, program rutin di Edura Cafe sedang dalam tahap penyusunan. Pengelola berencana menghadirkan berbagai kegiatan komunitas seperti diskusi buku, edukasi pendidikan, hingga pertunjukan seni seperti musik akustik dan stand-up comedy. Kafe ini juga menyediakan ruang rapat berkapasitas 8–10 orang untuk diskusi kelompok atau pertemuan kecil.

Bowo menegaskan bahwa Edura Cafe bukan sekadar tempat minum kopi, tetapi juga ruang pembelajaran dan pemberdayaan mahasiswa. “Kami ingin kafe ini menjadi tempat mahasiswa berkembang, bukan hanya sebagai konsumen tetapi juga pelaku. Mulai dari barista, promosi, hingga pengembangan menu,” ujarnya.

Tantangan terbesar saat ini adalah efisiensi layanan karena keterbatasan dapur dan peralatan. “Kami belum bisa menggunakan kompor gas karena belum ada exhaust. Makanan disiapkan dengan alat listrik seperti air fryer dan steamer, yang memerlukan waktu lebih lama. Kami sedang mengajukan penambahan fasilitas kepada pihak UNJ,” terangnya.

Meski demikian, performa operasional Edura Cafe menunjukkan tren positif. “Setelah Lebaran, operasional mulai stabil. Dari sisi profitabilitas sudah cukup untuk bertahan. Ke depan, kami menargetkan perluasan kehadiran Edura Cafe, baik di dalam maupun luar kampus,” tambahnya.
Sebagai bentuk sinergi antarunit, Edura Cafe juga terbuka bagi dosen atau sivitas akademika lain yang ingin menitipkan produk kuliner. “Beberapa dosen menitipkan makanan untuk dijual di sini, dan kami menyambut baik partisipasi tersebut,” ujarnya.

Dengan semangat kolaboratif dan fokus pada pemberdayaan komunitas kampus, Edura Cafe diharapkan menjadi pusat interaksi produktif yang merepresentasikan semangat UNJ sebagai universitas modern, inklusif, dan mandiri. Edura Cafe bukan sekadar tempat ngopi, tetapi ruang baru untuk tumbuh dan belajar bersama.