Bogor, Humas UNJ – Universitas Negeri Jakarta (UNJ) gelar Semiloka Pengembangan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) dan Rencana Strategis (Renstra) UNJ sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) dengan mengangkat tema “Transformasi Pendidikan Tinggi dan Peran PTNBH Menuju Indonesia Emas 2045”. Kegiatan yang digelar di Bogor, Jawa Barat, pada 5–7 Agustus 2025 ini, selain dihadiri oleh para pimpinan dan staf ahli di lingkungan UNJ, juga turut dihadiri oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek), Prof. Fauzan.
Pada kesempatan ini, Prof. Fauzan yang menjadi keynote speaker dalam kegiatan ini memberikan arahan mengenai bagaimana UNJ mengembangkan RPJP dan Renstra PTNBH agar dapat melesat reputasinya.
Selain itu Prof. Fauzan juga memaparkan materi yang berjudul “Menyiapkan Perguruan Tinggi Berdampak”. Pada paparannya, Prof. Fauzan menekankan pentingnya transformasi paradigma pendidikan tinggi di Indonesia. Ia mendorong agar perguruan tinggi tidak hanya berfokus pada pengajaran dan penelitian, tetapi juga menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat luas.

Prof. Fauzan menjelaskan evolusi model universitas dari generasi 1.0 hingga 4.0. Universitas generasi pertama berorientasi pada pengajaran (teaching university), generasi kedua berfokus pada penciptaan pengetahuan melalui riset (research university), generasi ketiga menekankan kolaborasi dengan industri dan komersialisasi hasil riset (entrepreneurial university), dan generasi keempat adalah universitas transformatif (transformative university) yang berfokus pada inovasi inklusif, keberlanjutan, serta dampak sosial melalui pendekatan quadruple helix yang melibatkan akademisi, industri, pemerintah, dan masyarakat
“Universitas harus mampu mengenali tujuan institusionalnya, memiliki kejelasan nilai yang ditawarkan, memahami kebutuhan dunia, serta berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi dan sosial,” ujar Prof. Fauzan
Dalam semangat tersebut, perguruan tinggi dituntut mencetak pemimpin masa depan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu memberi solusi atas tantangan global. Prof. Fauzan juga menyampaikan kutipan inspiratif dari tokoh dunia seperti Jeff Bezos dan Ralph Waldo Emerson untuk menekankan pentingnya inovasi, kepemimpinan, dan keberanian dalam menciptakan perubahan.
Pada kesempatan yang sama, Prof. Mukhamad Najib, Direktur Kelembagaan Ditjen Dikti, turut memberikan paparan bertema “Transformasi UNJ sebagai PTNBH: Membangun Keunggulan Menuju Universitas Bereputasi Global”. Ia mengungkapkan tantangan yang dihadapi UNJ dalam transformasi ini, mulai dari peningkatan kualitas SDM, dorongan inovasi, hingga peningkatan reputasi internasional melalui publikasi ilmiah.

UNJ, menurut Prof. Najib, harus menjadikan beberapa kampus terbaik di Indonesia sebagai referensi dalam membangun ekosistem akademik yang berdampak. Ia juga menegaskan bahwa komitmen UNJ terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-4 tentang pendidikan berkualitas, merupakan landasan penting dalam proses transformasi tersebut.
Sementara itu, Rektor UNJ, Prof. Komarudin, dalam sambutannya menyampaikan bahwa UNJ telah memiliki dokumen RPJP dan Renstra, namun keduanya masih berbasis status sebagai PTN Badan Layanan Umum (BLU). Oleh karena itu, dalam proses transformasi menuju PTNBH, UNJ perlu menyusun dokumen yang lebih sesuai dan visioner.
“Saya secara langsung memohon arahan dari Bapak Wamen agar proses penyusunan RPJP dan Renstra UNJ ini dapat lebih terarah dan kontekstual sesuai status baru kami sebagai PTNBH,” ujarnya.

Prof. Komarudin menambahkan bahwa transformasi ini menjadi bagian penting dari misi UNJ dalam mendukung Indonesia Emas 2045, dengan fokus utama pada peningkatan mutu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
UNJ berkomitmen menjadi universitas berkelas dunia yang memberikan kontribusi signifikan bagi bangsa. Proses penyusunan dokumen RPJP dan Renstra ini juga akan mengakomodasi aspirasi seluruh sivitas akademika, serta mencatat dan mengintegrasikan pemikiran-pemikiran strategis yang muncul selama semiloka, tutup Prof. Komarudin.
