UNJ Gelar Pelatihan Ecoprint untuk Guru SD di Indramayu: Dorong Kreativitas dan Kepedulian Lingkungan

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Dukung Proyek Lingkungan Berkelanjutan, Peserta BSBI…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

UNJ Luncurkan Innovation Challenge 2026 untuk Perkuat Ekosistem Inovasi Berdampak

Dukung Kemdiktisaintek, UNJ Jadi Lokasi Seleksi Cakepsek dan Cawakepsek SMA Unggul Garuda

Perkuat Integritas dan Tata Kelola, UNJ Gelar Kosinyering Strategi Pemenuhan WBK/WBBM 2026

Wamen Diktisaintek Tinjau Pelaksanaan Seleksi Cakepsek dan Cawakepsek SMA Unggul Garuda di UNJ

FISH UNJ Jalin Kemitraan Strategis dengan NIDA Thailand untuk Perkuat Riset dan Mobilitas Internasional

Indramayu, Humas UNJ — Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menyelenggarakan pelatihan ecoprint bagi para guru sekolah dasar di Gugus Mekarwaru, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, pada Sabtu, 17 Mei 2025. Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong pembelajaran yang ramah lingkungan sekaligus mengembangkan kreativitas para pendidik.

Pelatihan ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) UNJ yang secara rutin dilaksanakan sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap dunia pendidikan. Kegiatan dipimpin oleh Mudjiati selaku ketua pelaksana, serta didampingi oleh dosen seni rupa UNJ, Indro Moerdisoeroso.

Dalam sambutannya, Mudjiati menekankan pentingnya pendekatan pembelajaran yang kontekstual dan berwawasan lingkungan. “Melalui teknik ecoprint, guru tidak hanya mempelajari keterampilan seni yang baru, tetapi juga diajak untuk lebih peka terhadap potensi alam sekitar. Hal ini dapat menjadi inspirasi dalam menciptakan pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan bagi siswa,” ujarnya.

Pelatihan menggunakan bahan ajar yang berasal dari lingkungan sekitar, seperti daun dan tumbuhan lokal. Para peserta diajak memahami proses ecoprint mulai dari pemilihan daun, penataan pola, hingga teknik pewarnaan alami dengan metode kukus. Metode ini dirancang agar mudah diterapkan dalam pembelajaran di kelas, baik sebagai aktivitas tematik maupun sebagai bagian dari pendidikan lingkungan hidup.

Indro Moerdisoeroso menambahkan bahwa praktik seni seperti ecoprint dapat memperkuat kesadaran estetika dan nilai-nilai keberlanjutan sejak dini. “Kegiatan ini bukan sekadar mencetak motif di atas kain, tetapi juga membangun hubungan yang lebih dekat antara manusia dan alam,” tuturnya.

Pelatihan ini disambut antusias oleh para guru. Banyak peserta mengaku baru pertama kali mengenal teknik ecoprint dan merasa terinspirasi untuk menggunakannya sebagai media pembelajaran kreatif. Mereka juga berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak sekolah di wilayah Indramayu.