Khrisnamurti Dosen UPW FISH UNJ Bawa Pelajaran dari Skotlandia untuk Kemajuan Pariwisata Indonesia

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Perkuat Pemeringkatan Internasional Kampus, UNJ Turut…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

UNJ Gelar Program Pengembangan Karakter bagi Mahasiswa Mappi

UNJ Lantik Kepala Bagian dan Kepala Subbagian Labschool Periode 2026–2030

Fragmen Suara Abadi, Resital Mahasiswa Pendidikan Musik FBS UNJ

UNJ Jajaki Kerja Sama Internasional dengan Royal Thai Army untuk Pengembangan SDM

Dua Mahasiswi UNJ Berhasil Taklukkan Puncak Gokyo Ri Nepal

Jakarta, Humas UNJ – Di tengah gempuran globalisasi yang membawa perubahan cepat pada wajah pariwisata dunia, Khrisnamurti yang biasa akrab disapa Nino yang merupakan dosen Program Studi Sarjana Terapan Usaha Perjalanan Wisata Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (Prodi D4 UPW FISH) UNJ ini punya pandangan yang teguh mengenai pariwisata harus berangkat dari identitas.

“Identitas berfungsi untuk menunjukkan siapa kita dan dari mana asal kita. Tapi yang lebih penting adalah memperkenalkan nilai-nilai yang kita miliki,” katanya saat diwawancarai tim Humas pada 13 Agustus 2025 di ruang Prodi Usaha Perjalanan Wisata, FISH-UNJ.

Bagi Nino, pariwisata bukan sekadar perjalanan melihat tempat indah, melainkan upaya memahami sesuatu yang berbeda dari kebiasaan. Itu sebabnya, ia menekankan pentingnya tenggang rasa dalam menghormati nilai-nilai lokal. “Jangan sampai kita membangun pariwisata secara latah, tanpa perencanaan yang matang,” tegasnya.

Nino percaya, pariwisata yang sehat adalah pariwisata yang inklusif. Pemerintah, industri, dan masyarakat harus duduk satu meja, berbagi visi, dan memastikan bahwa warga lokal tetap menjadi aktor utama. “Pariwisata harus menjadi ruang kolaboratif, bukan eksklusif,” katanya. Sebab, dalam pandangannya, kehadiran wisatawan bukan hanya membawa kamera dan cerita pulang, tapi juga memicu interaksi, pertukaran nilai, dan dialog budaya.

Ilustrasi sumber: indonesia.travel

Ia mengingatkan, setiap konsep pariwisata harus dirancang dengan logika yang benar, agar tidak merusak kehidupan masyarakat setempat. Baginya, membangun dan mem-branding identitas lokal adalah kunci agar pariwisata punya karakter dan daya tarik yang berkelanjutan.

Perjalanan akademik Nino membentang jauh, dari Jakarta hingga ke dataran tinggi Skotlandia. Setelah menyelesaikan S2 di Bournemouth University, Inggris (2004), ia kembali melanjutkan S3 di University of the West of Scotland (UWS) pada 2020 melalui beasiswa Saudi Fund Development (SFD).

Ketertarikannya pada perencanaan pariwisata dan heritage tourism mendorongnya untuk menimba ilmu di luar negeri. Skotlandia, negara yang kerap disebut “the land of the brave” ini memberinya pelajaran berharga tentang keseimbangan hidup dan studi, kesejahteraan psikologis, dan kesetaraan. Dukungan komunitas Ph.D. di kampus turut menjadi penopang dalam menghadapi dinamika studi doktoral.

“Komitmen dan kemampuan untuk beradaptasi (shifting) sangat penting dalam studi S3,” tuturnya. Ia juga terkesan dengan bagaimana Skotlandia menempatkan identitas sebagai pondasi pariwisata, yang membuat heritage tourism mereka bertahan dan terus berkembang.

Bagi Nino, membangun pariwisata berbasis warisan budaya (heritage) adalah proses jangka panjang yang membutuhkan kesabaran, riset, dan keterlibatan banyak pihak. Dan di titik ini, Indonesia punya modal yang tak ternilai berupa keberagaman etnis, bahasa, tradisi, serta bentang alam yang memesona.

“Pariwisata idealnya tidak hanya menjual pemandangan, tapi juga menghadirkan suasana yang mencerminkan karakter dan nilai-nilai lokal. Inilah daya tarik yang membedakan suatu destinasi,” ujarnya mengakhiri.

Dari ruang kelas UNJ hingga lanskap budaya Skotlandia, pandangan Khrisnamurti tentang pariwisata selalu kembali pada satu titik, yakni identitas adalah jiwa dari setiap perjalanan.