
Padang, Humas UNJ – Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Prof. Komarudin, hadir sebagai narasumber pada Plenary Session I Simposium Nasional Kependudukan 2025 dengan tema “Dinamika Kependudukan dan Pembangunan Keluarga”. Acara ini diselenggarakan pada Kamis, 11 September 2025 di Auditorium Universitas Negeri Padang, hasil kerja sama Universitas Negeri Padang (UNP) dengan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN.
Simposium Nasional Kependudukan 2025 mengangkat tema “Membangun Penduduk Berkualitas, Keluarga Tangguh, dan Ekonomi Inklusif untuk Indonesia Maju.” Forum ini menjadi wadah kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat untuk mendiskusikan isu strategis kependudukan, membangun jejaring antar Perguruan Tinggi Peduli Kependudukan (PTPK), serta menyusun langkah-langkah strategis dalam mendukung lahirnya Generasi Emas 2045 yang tangguh dan berdaya saing global.

Dalam konteks simposium, Prof. Komarudin yang mengangkat topik materi“Perceraian dan Dampaknya terhadap Anak serta Pembangunan Keluarga”, menegaskan bahwa tantangan dan peluang bonus demografi harus dikelola dengan tepat. Peningkatan kualitas penduduk melalui pendidikan, kesehatan, dan keterampilan kerja perlu berjalan seiring dengan penguatan ketahanan keluarga sebagai fondasi utama bangsa. Selain itu, pembangunan ekonomi harus bersifat inklusif agar manfaat pertumbuhan dapat dirasakan secara merata oleh semua kelompok, termasuk usia muda, perempuan, dan masyarakat di berbagai wilayah.
“ Sinergi antara kualitas penduduk, ketangguhan keluarga, dan ekonomi inklusif menjadi kunci agar bonus demografi dapat menghasilkan generasi emas yang membawa Indonesia melesat maju, ” ujar Prof. Komarudin.
Dalam pemaparannya, Prof. Komarudin menyoroti isu perceraian yang semakin meningkat di Indonesia. Menurutnya, perceraian bukan sekadar masalah pribadi, tetapi memiliki dampak luas terhadap tumbuh kembang anak, stabilitas keluarga, dan bahkan pembangunan nasional. Oleh karena itu, isu perceraian harus ditempatkan dalam kerangka pembangunan keluarga dan kebijakan kependudukan nasional.
Lebih lanjut, Prof. Komarudin menguraikan empat strategi penanggulangan perceraian, yaitu: Pertama, Strategi Pendidikan Pra-Nikah, seperti membekali calon pasangan dengan pengetahuan dan keterampilan mengelola rumah tangga; Kedua, Strategi Layanan Konseling, seperti menyediakan ruang konsultasi dan pendampingan bagi pasangan yang menghadapi konflik keluarga; Ketiga, Strategi Kolaborasi Lintas Kementerian, seperti memperkuat sinergi antar-lembaga untuk mendukung ketahanan keluarga; dan Keempat, Strategi Pembangunan Keluarga, seperti mendorong program-program penguatan nilai keluarga, parenting, dan kesejahteraan anak.
Simposium ini juga menegaskan kontribusi nyata perguruan tinggi dalam implementasi peta jalan pembangunan kependudukan. Perguruan tinggi didorong untuk aktif meneliti, memberikan rekomendasi kebijakan, serta menjadi mitra pemerintah dan masyarakat dalam mengatasi tantangan kependudukan.
Dengan adanya forum ini, diharapkan lahir komitmen bersama untuk memperkuat peran akademisi dalam isu-isu strategis, khususnya membangun penduduk berkualitas, keluarga tangguh, dan ekonomi inklusif menuju Indonesia Maju 2045.