Bogor, Humas UNJ – Dalam rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-61 tahun, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menyelenggarakan diskusi publik bertajuk “Penguatan Kampus Berdampak: Inovasi, Hilirisasi, dan Kerja Sama Industri Menuju Kemandirian dan Reputasi Global” pada 13–14 September 2025 di Nemuru Grand Bhuvana, Ciawi, Bogor. Kegiatan strategis ini dihadiri oleh jajaran pimpinan UNJ, Majelis Wali Amanat (MWA), Senat Akademik Universitas (SAU), dan para perwakilan pimpinan dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dan perguruan tinggi negeri non-LPTK.
Diskusi menghadirkan sejumlah tokoh penting di bidang riset, pembangunan, dan pendidikan tinggi, di antaranya Fauzan Adziman selaku Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Dirjen Risbang Kemdiktisaintek), Prof. Abdul Haris selaku Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Desa, Kemenko PMK, Prof. Mohamad Nasir selaku Guru Besar Universitas Diponegoro sekaligus Mendikbudristek periode 2014-2019, Prof. Nizam selaku Ketua MWA UNJ sekaligus Dirjen Diktiristek periode 2020-2024, dan Prof. Ainun Nai’m selaku Guru Besar Universitas Gadjah Mada sekaligus Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Sesjen Kemendikbud) periode 2019-2022.
Pada kesempatan ini, Fauzan Adziman selaku Dirjen Risbang Kemdiktisaintek memaparkan materi bertajuk “Penguatan Kampus Berdampak: Inovasi, Hilirisasi, dan Kerja Sama Industri Menuju Kemandirian dan Reputasi Global”. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki posisi yang sangat strategis dalam peta pembangunan bangsa. Kampus, menurutnya, bukan hanya tempat penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran, melainkan juga simpul ekonomi sekaligus pusat pemecahan masalah yang dihadapi masyarakat dan dunia industri.

Fauzan menjelaskan bahwa kemajuan suatu bangsa tidak dapat dilepaskan dari kekuatan riset dan inovasi yang lahir di perguruan tinggi. Ekosistem ekonomi dan industri yang tangguh pada hakikatnya tumbuh dari laboratorium, pusat studi, dan kegiatan penelitian di kampus. Oleh sebab itu, universitas harus memperkuat kapasitas riset, mendorong hilirisasi hasil penelitian, serta membangun jejaring yang luas dengan dunia usaha dan pemerintah. “Ekosistem yang paling mendasar dari kemajuan ekonomi dan industri itu sesungguhnya ada di dunia kampus. Untuk itu, peran riset dan inovasi perguruan tinggi harus diperkuat dan didukung penuh,” tegasnya.
Dalam konteks kebijakan nasional, Fauzan menambahkan bahwa Presiden Prabowo memberikan dukungan yang besar terhadap kontribusi para dosen dan peneliti. Dukungan tersebut mencerminkan keseriusan pemerintah untuk menjadikan ilmu pengetahuan, riset, dan teknologi sebagai motor penggerak pembangunan. Dengan dorongan politik yang kuat, riset di perguruan tinggi diharapkan tidak berhenti di tahap publikasi ilmiah, tetapi juga mampu melahirkan inovasi yang berdampak nyata, baik dalam bentuk produk, teknologi, maupun solusi sosial yang menjawab kebutuhan bangsa.
Lebih jauh, Fauzan menekankan pentingnya membangun sinergi triple helix antara kampus, pemerintah, dan sektor swasta. Kolaborasi ini diyakini dapat mempercepat hilirisasi hasil riset sehingga memiliki nilai tambah bagi masyarakat sekaligus memperkuat daya saing bangsa di kancah internasional. Kampus berperan sebagai pusat penciptaan ide dan teknologi, pemerintah bertugas memberikan regulasi serta dukungan kebijakan, sementara dunia usaha menjadi mitra dalam mengimplementasikan hasil penelitian ke dalam industri. Dengan pola kolaborasi seperti ini, universitas akan semakin dekat dengan dunia nyata, mahasiswa lebih siap menghadapi tantangan global, dan riset tidak lagi berhenti di rak perpustakaan, melainkan benar-benar menjadi energi pembangunan nasional.
Paparan Fauzan Adziman sekaligus menjadi penegasan bahwa era baru pendidikan tinggi harus mengedepankan kebermanfaatan riset. Kampus diharapkan tidak hanya berfokus pada reputasi akademik, tetapi juga pada impact atau dampak langsung bagi masyarakat. Dengan demikian, perguruan tinggi Indonesia dapat melangkah lebih jauh menuju kemandirian sekaligus membangun reputasi global sebagai pusat ilmu pengetahuan yang solutif, inovatif, dan berdaya saing tinggi.
Sementara itu, Prof. Komarudin selaku Rektor UNJ menyampaikan bahwa diskusi publik ini merupakan bagian dari komitmen UNJ dalam membangun ekosistem akademik yang berdampak nyata bagi masyarakat, dunia usaha, maupun pemerintahan.
“ UNJ terus berupaya menghadirkan terobosan riset, inovasi, dan kerja sama yang tidak hanya memperkuat reputasi akademik, tetapi juga memberi manfaat langsung bagi bangsa. Sebagai kampus PTNBH, UNJ memiliki tanggung jawab untuk memperkuat hilirisasi riset, menjalin kolaborasi industri, serta menyiapkan lulusan yang berdaya saing global,” jelas Prof. Komarudin.
Prof. Komarudin menyampaikan ucapan terima kasih atas kehadiran para narasumber dan para peserta undangan, khususnya Rektor dari LPTK dan perguruan tinggi negeri non-LPTK.
“terima kasih atas kehadiran para narasumber dan juga peserta undangan, baik pimpinan di lingkungan UNJ maupun para pimpinan di LPTK maupun non-LPTK. Semoga kegiatan ini menjadi forum konstruktif dalam pengembangan riset dan inovasi di kampus kita,” ujar Prof. Komarudin.
Melalui kegiatan ini, UNJ berharap dapat memperkuat perannya sebagai Kampus Berdampak yang mengedepankan prinsip keberlanjutan, kemandirian, dan kontribusi nyata untuk bangsa dan dunia. Selain itu juga menjadi wadah bertukar gagasan antarperguruan tinggi, khususnya LPTK dan non-LPTK, dalam memperkuat peran kampus sebagai pusat inovasi.