Bogor, Humas UNJ — Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menyelenggarakan diskusi publik bertajuk “Penguatan Kampus Berdampak: Inovasi Hilirisasi dan Kerja Sama Industri Menuju Kemandirian dan Reputasi Global” di Bogor pada 13-14 September 2025. Kegiatan yang merupakan rangkaian dari Dies Natalis UNJ ke-61 tahun ini bertujuan untuk memperkuat peran perguruan tinggi dalam membangun ekosistem riset dan inovasi yang berdampak bagi masyarakat dan dunia industri.
Rektor UNJ, Prof. Komarudin, dalam sambutannya menyampaikan harapan agar melalui diskusi ini, UNJ dan peserta lainnya dapat bersama-sama mengembangkan inovasi, hilirisasi, serta memperluas kerja sama dengan dunia industri. Menurutnya, hal tersebut penting untuk membangun reputasi global dan kemandirian bagi perguruan tinggi berstatus Badan Hukum (PTNBH).
“Tantangan perguruan tinggi saat ini adalah menjembatani kesenjangan antara riset dan inovasi. Melalui forum ini, diharapkan muncul solusi strategis untuk hilirisasi hasil riset,” ujar Prof. Komarudin.

Dirjen Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan Adziman, sebagai narasumber pertama, menekankan pentingnya riset berbasis pemecahan masalah dan dampak nyata bagi masyarakat. Ia menyampaikan bahwa kampus harus menjadi simpul perekonomian dan pusat solusi atas tantangan sosial dan industri.
“Ekosistem kemajuan ekonomi dan industri sesungguhnya berakar dari dunia kampus. Oleh karena itu, riset dan inovasi perguruan tinggi harus diperkuat dan didukung penuh,” tegas Fauzan.
Ia juga menyampaikan bahwa Presiden Prabowo memberikan dukungan besar terhadap kontribusi dosen dan peneliti, sebagai bentuk keseriusan pemerintah menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai motor pembangunan. Fauzan turut mengingatkan pentingnya strategi triple helix dalam mempercepat hilirisasi riset dan meningkatkan daya saing bangsa.

Guru Besar Universitas Diponegoro sekaligus anggota Majelis Wali Amanat (MWA), Prof. Muhamad Nasir, memaparkan materi bertema “Membangun Kerja Sama Industri untuk Penguatan PTNBH”. Ia menyoroti pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
“Banyak penelitian bagus, tetapi belum mampu mengakomodasi kebutuhan industri. Tanpa kolaborasi, perguruan tinggi bisa tertinggal,” ujarnya.
Prof. Nasir juga menekankan perlunya pengukuran tingkat kesiapan teknologi untuk menilai relevansi riset terhadap kebutuhan industri, serta pentingnya riset yang tidak berhenti pada publikasi, tetapi berlanjut hingga tahap scale-up.
Sementara itu, Prof. Nizam, Guru Besar Universitas Gadjah Mada dan Ketua MWA UNJ, dalam paparannya bertema “Strategi Penataan Ulang Tata Kelola PTNBH untuk Mendorong Reputasi Global”, menegaskan bahwa status PTNBH bukan bentuk privatisasi, melainkan katalis untuk membangun kampus berdampak.
“PTNBH adalah sarana membangun academic exchange yang menghasilkan karya bermanfaat bagi masyarakat,” jelasnya.
Ia juga mendorong penerapan ISO 37000 dan prinsip AUN-QA sebagai standar tata kelola dan penjaminan mutu akademik, serta pentingnya birokrasi akademik yang lincah dan berorientasi pada inovasi.
Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu (KPMDDTDT), Abdul Haris, menyampaikan materi bertema “Transformasi Perguruan Tinggi dalam Pemberdayaan Masyarakat”. Ia menekankan perlunya transformasi kampus melalui visi, growth mindset, kolaborasi, dan narasi institusional berbasis data dan regulasi.
“Perguruan tinggi harus berperan aktif dalam menyelesaikan masalah kemiskinan melalui program Tri Dharma yang tepat sasaran,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kampus dapat berkontribusi konkret dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kolaborasi dengan program strategis pemerintah.
Prof. Ainun Na’im, Guru Besar Universitas Gadjah Mada, dalam sesi terakhir menyampaikan materi bertema “Peningkatan Kualitas SDM untuk Penguatan Kampus Berdampak”. Ia menekankan bahwa kampus berdampak harus berkontribusi dalam pengentasan kemiskinan dan pengurangan ketimpangan ekonomi.
“Memajukan pendidikan bagi anak desa memiliki dampak besar, dan ini harus didukung oleh pendidikan tinggi yang berkualitas,” katanya.
Ia juga mengkritisi kebijakan dosen yang terlalu birokratis, yang menurutnya menghambat semangat riset dan inovasi. Prof. Ainun menyerukan agar pemerintah memperhatikan tata kelola dosen demi mewujudkan perguruan tinggi yang berdampak.