Jakarta, Humas UNJ — Universitas Negeri Jakarta (UNJ) terus memperluas jejaring strategis dengan kementerian dan lembaga negara. Kali ini, Rektor, Wakil Rektor, Sekretaris Universitas, Kepala Badan Pengelola Usaha (BPU) UNJ bersama Majelis Wali Amanat (MWA) dan Senat Akademik Universitas (SAU), melakukan kunjungan resmi ke Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Kemenaker RI) pada 6 Oktober 2025. Rombongan diterima langsung oleh Prof. Yassierli selaku Menteri Ketenagakerjaan RI beserta Prof. Sukro Muhab selaku Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan RI dalam suasana dialog yang hangat, akrab, dan konstruktif di kantor Kemenaker, Jakarta.
Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi UNJ dalam menguatkan kolaborasi dengan Kemenaker, khususnya di bidang pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan pendidikan vokasi. Dalam pertemuan ini, sejumlah program kolaborasi konkret mengemuka, di antaranya: (1) Pelatihan Bahasa Asing Berasrama (Jepang, Korea, Inggris, Jerman) melalui Pusat Bahasa UNJ untuk mempersiapkan tenaga kerja vokasional yang siap ditempatkan di berbagai negara; (2) Penguatan IT Creative Skills berupa pelatihan digital seperti desain grafis, manajemen media sosial, e-commerce, hingga produksi konten kreatif; dan (3) Pengembangan Kewirausahaan Vokasional, yaitu inkubator usaha berbasis teknologi dan ekonomi kreatif yang berfokus pada kemandirian mahasiswa dan alumni.
Prof. Komarudin selaku Rektor UNJ menegaskan bahwa kunjungan ini merupakan bentuk silaturahmi kelembagaan sekaligus inisiatif konkret untuk memperkuat kemitraan strategis dengan Kemenaker. Ia menyampaikan bahwa UNJ memiliki sejumlah program studi di bidang bahasa dan vokasional yang sangat relevan dengan kebutuhan pengembangan tenaga kerja nasional. Menurutnya, dunia pendidikan tinggi saat ini tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga kompeten secara praktikal dan siap bersaing di dunia kerja yang semakin dinamis. UNJ ingin berperan aktif dalam penyiapan generasi muda Indonesia, terutama generasi Z, agar mampu menghadapi perubahan struktur ekonomi, disrupsi teknologi, serta pola kerja baru yang menuntut fleksibilitas dan inovasi.

Prof. Komarudin juga menyampaikan bahwa pendidikan vokasi bukan jalur alternatif, melainkan arus utama pembangunan SDM Indonesia. “Kami ingin mahasiswa UNJ memiliki kompetensi ganda, yakni akademik dan profesional. Dengan sinergi bersama Kemenaker, lulusan UNJ akan semakin siap kerja, siap berkarya, dan siap menciptakan lapangan kerja baru,” tegasnya.
Pada kesempatan ini juga, Prof. Yassierli selaku Menteri Ketenagakerjaan RI menyambut baik inisiatif UNJ. Ia menekankan bahwa kompleksitas permasalahan ketenagakerjaan nasional tidak bisa ditangani hanya oleh pemerintah, melainkan membutuhkan peran strategis perguruan tinggi. “Kampus harus menjadi motor pembangunan SDM, bukan hanya mencetak sarjana, tetapi juga melahirkan tenaga profesional dan wirausaha muda yang siap menghadapi tantangan global,” ungkap Menteri.
Menteri Ketenagakerjaan juga menekankan pentingnya sertifikasi kompetensi melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) agar lulusan perguruan tinggi memiliki pengakuan resmi di dunia industri.
“Generasi Z membutuhkan model pembelajaran baru, berbasis pengalaman langsung dan pembinaan berasrama. Dengan begitu, mahasiswa dapat ditempa disiplin, mandiri, dan berorientasi pada hasil,” jelasnya.
Sementara itu Prof. Sukro Muhab selaku Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan RI yang berfokus pada peningkatan kualitas SDM dan daya saing tenaga kerja Indonesia, terutama di era digital dan globalisasi yang juga Guru Besar UNJ menambahkan bahwa kolaborasi antara Kemenaker dan UNJ akan memperkuat ekosistem ketenagakerjaan nasional. UNJ dinilai memiliki posisi strategis karena selain unggul di bidang pendidikan, juga memiliki prodi vokasi dan bahasa yang relevan dengan kebutuhan industri.
Kunjungan ini ditutup dengan penegasan komitmen bersama untuk melanjutkan kerja sama dalam bidang pelatihan dan vokasi. UNJ dan Kemenaker sepakat bahwa investasi terbesar bangsa adalah peningkatan kualitas manusia, terutama generasi muda.
Kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi model bagi perguruan tinggi lain di Indonesia. Melalui penguatan vokasi, sertifikasi, keterampilan digital, dan kewirausahaan, UNJ bersama Kemenaker berkomitmen menyiapkan SDM unggul generasi Z menuju Indonesia Emas 2045.