Tak Sekolah Tinggi, Tapi Sekolahkan Anak hingga Raih Sarjana di UNJ, Kisah Sutarwo Petani Hebat dari Tegal

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. UNJ Kembali Pertahankan Predikat “Badan Publik…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Jawab Tantangan “Mismatch” Dunia Kerja, UNJ Siapkan Ratusan Skema Sertifikasi Kompetensi Futuristik

FISH UNJ Gelar Employer Meeting untuk Perkuat Lulusan Adaptif dan Kompeten dalam Dunia Kerja

Batavia Team UNJ Raih Juara 5 Kategori Battery Electric di Shell Eco-Marathon Asia Pacific and the Middle East 2026

Comdev Program EQUITY UNJ Hadirkan Trauma Healing bagi Siswa di Daerah Rawan Bencana Cianjur

FT UNJ Gelar Employer Meeting 2026, Perkuat Kolaborasi Industri untuk Revitalisasi Kurikulum Berbasis OBE dan Kebutuhan Dunia Kerja

Jakarta, Humas UNJ – Raut haru dan bangga terpancar jelas di wajah Sutarwo, seorang petani asal Tegal, Jawa Tengah, saat menghadiri wisuda putrinya di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Senin (6/10/2025). Putrinya merupakan lulusan Program Studi Pendidikan Tata Boga, Fakultas Teknik UNJ.

Sutarwo duduk di Aula Lantai 3 Gedung Olahraga UNJ, tempat para orang tua wisudawan menunggu dengan penuh antusias. Ia berbagi kisah perjuangannya mengantarkan sang anak hingga meraih gelar sarjana, sebuah pencapaian yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Alhamdulillah, acaranya meriah sekali dan luar biasa. Ini kali kedua saya ke Jakarta, dan kali ini sangat istimewa karena bisa melihat anak sendiri memakai toga dan apalagi langsung bersalaman dengan Pak Rektor,” ujar Sutarwo dengan senyum ramah.

Sebagai petani, penghasilan Sutarwo sangat bergantung pada hasil panen. Ia mengaku harus menyisihkan sebagian besar pendapatan untuk membiayai kuliah anaknya. Bahkan, tak jarang ia harus menjual barang-barang yang ada demi memenuhi kebutuhan pendidikan sang anak.

“Kalau habis panen, disisihkan buat biaya kuliah. Tapi kalau belum panen dan anak butuh bayar kos atau semester, ya kadang sampai jual apa yang ada,” tuturnya lirih.

Meski hidup dalam keterbatasan, keluarga Sutarwo memegang teguh prinsip kerja keras dan keikhlasan. Putrinya pun turut berjuang, tidak hanya mengandalkan kiriman dari orang tua.

“Dia pernah bantu mamanya di warung, kerja paruh waktu di hotel, bantu masak dan dekorasi gedung. Namanya juga anak Tata Boga, ya dia manfaatkan ilmunya,” kata Sutarwo dengan bangga.

Bagi Sutarwo, pendidikan adalah jalan perubahan. Ia sendiri hanya menamatkan pendidikan hingga kelas dua SMP karena harus membantu orang tua di kampung. Namun, keterbatasan itu tidak menyurutkan tekadnya untuk menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi.

“Saya enggak sekolah tinggi, tapi anak jangan sampai kayak bapaknya. Zaman sudah beda. Kalau anak mau sekolah, orang tua jangan minder. Usaha dulu, Tuhan pasti kasih jalan,” ujarnya penuh keyakinan.

Sutarwo juga mengenang masa sulit saat pandemi COVID-19 melanda. Usaha warung keluarga di Jakarta terpaksa tutup, dan penghasilan pun terhenti. Namun, semangat anaknya untuk terus belajar tidak pernah padam.

“Waktu corona itu berat banget. Warung enggak bisa buka, penghasilan berhenti, tapi anak tetap harus kuliah. Ya sudah, dibawa pulang dulu ke kampung, bantu saya di sawah. Tapi dia tetap semangat belajar online,” kenangnya.

Kini, setelah empat tahun perjuangan, semua pengorbanan itu terbayar. Putrinya resmi menyandang gelar sarjana.

“Saya cuma bisa bersyukur. Yang penting ilmunya bermanfaat. Mau kerja di Jakarta atau pulang ke kampung, saya cuma berharap dia bisa pakai ilmunya buat orang lain,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Di akhir perbincangan, Sutarwo menyampaikan pesan menyentuh bagi para orang tua lainnya.

“Kalau anak punya keinginan buat sekolah, dukung saja. Jangan takut enggak mampu. Selama kita mau usaha, pasti ada jalan. Jangan lupa banyak bersyukur. Punya lima ribu pun kalau disyukuri, rasanya cukup,” tuturnya menutup dengan senyum penuh kebahagiaan.

Kisah Sutarwo menjadi pengingat bahwa di balik toga dan gelar sarjana, ada doa, keringat, dan pengorbanan orang tua. Pendidikan bukan sekadar proses belajar di kelas, tetapi juga tentang keberanian untuk bermimpi dan keteguhan dalam mewujudkannya.