I-CIRCALLED FBS UNJ 2025 Bahas Integrasi Seni, Sastra, dan Bahasa dalam Pembangunan Berkelanjutan

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Perkuat Pemeringkatan Internasional Kampus, UNJ Turut…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

UNJ Gelar Program Pengembangan Karakter bagi Mahasiswa Mappi

UNJ Lantik Kepala Bagian dan Kepala Subbagian Labschool Periode 2026–2030

Fragmen Suara Abadi, Resital Mahasiswa Pendidikan Musik FBS UNJ

UNJ Jajaki Kerja Sama Internasional dengan Royal Thai Army untuk Pengembangan SDM

Dua Mahasiswi UNJ Berhasil Taklukkan Puncak Gokyo Ri Nepal

Jakarta, Humas UNJ – Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menyelenggarakan seminar dan lokakarya internasional bertajuk International Conference on Innovation, Reflection, and Creativity in Arts, Literature, and Language Education (I-CIRCALLED) pada Selasa, 14 Oktober 2025, bertempat di Aula Bung Hatta, Kampus UNJ.

Konferensi internasional ini mengusung tema “Transformative and Impactful Education: Integrating Arts, Literature, and Language in Achieving the Sustainable Development Goals (SDGs)”, yang berfokus pada pendidikan transformatif melalui integrasi seni, sastra, dan bahasa dalam mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari lima negara, yaitu:

Prof. Ifan Iskandar (Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni UNJ),

Salman Al-Farisi (Universitas Pendidikan Sultan Idris, Malaysia),

Prof. Suraiya Sulaiman (Prince of Songkla University, Thailand),

Phillippe Grange (La Rochelle Université, Prancis),

Menasri Wafa (University Center of El Bayadh, Aljazair).

Ketua panitia, Nursilah, yang juga merupakan dosen FBS UNJ, menyampaikan bahwa kegiatan ini diikuti oleh sekitar 250 peserta dari berbagai perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan komunitas seni, baik dari dalam maupun luar negeri.

“Forum ini menjadi ruang akademik yang komprehensif dan interdisipliner untuk berbagi gagasan, hasil penelitian, dan praktik kreatif di bidang bahasa, sastra, dan seni,” ujar Nursilah.

Dekan FBS UNJ, Samsi Setiadi, menegaskan bahwa I-CIRCALLED merupakan wujud komitmen fakultas dalam mendorong inovasi, refleksi, dan kreativitas lintas bidang. Ia menekankan pentingnya kolaborasi internasional untuk memperkuat praktik pendidikan yang berdampak.

Sementara itu, Prof. Ifan Iskandar menyampaikan bahwa pelaksanaan seminar ini sejalan dengan prinsip pendidikan UNESCO, yaitu:

Belajar untuk mengetahui,

Belajar untuk melakukan,

Belajar untuk menjadi,

Belajar untuk hidup bersama,

Belajar untuk belajar.

Ia juga menyoroti tantangan global seperti perubahan iklim, krisis pangan dan air, konflik, serta hilangnya biodiversitas, yang menuntut pendidikan hijau dan perdamaian melalui pendekatan transformatif.

Prof. Ifan Iskandar membawakan materi berjudul “Humanizing Education Through Digital Literacy and Ecopedagogy Contextualization in Transformative and Impactful Education”. Ia menekankan pentingnya literasi digital dan pendekatan ekopedagogi dalam membentuk generasi pembelajar yang kritis dan adaptif terhadap perubahan global.

Salman Al-Farisi mengangkat tema “Applying Theory and Artistic Inquiry and Creative Practice: Bridging the Knowledge-Practice Gap for Arts Students”. Ia menyoroti perlunya pembelajaran berbasis pengalaman untuk menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik dalam pendidikan seni.

Phillippe Grange dalam paparannya “Why France Lost Its Linguistic Diversity and How Indonesia is Maintaining It” membahas hilangnya bahasa daerah di Prancis akibat kebijakan sentralisasi, serta mengapresiasi Indonesia yang berhasil menjaga keberagaman linguistik melalui kebijakan pelestarian bahasa daerah.

Prof. Suraiya Sulaiman membawakan materi “From Telescreen to Spyware: Using George Orwell’s 1984 to Develop Critical Thinking Skills and Media Literacy in Literature Classrooms”. Ia mengaitkan novel 1984 dengan kondisi masyarakat modern yang hidup di bawah pengawasan digital, serta pentingnya literasi media dan keberanian menyuarakan kebenaran.

Menasri Wafa dalam paparannya “Language, Technology, and Diplomacy for a Sustainable World” menyoroti tantangan keberagaman linguistik di era pascamodern. Ia menekankan pentingnya kebijakan politik yang berdaulat untuk melindungi bahasa ibu dan mencegah dominasi bahasa global yang berpotensi menciptakan hegemoni baru.