Tujuh Tahun Perjuangan, Anggito Akhirnya Jadi Wisudawan UNJ: “Kelulusan Ini untuk Almarhumah Ibu Saya”

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. UNJ Kembali Pertahankan Predikat “Badan Publik…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Jawab Tantangan “Mismatch” Dunia Kerja, UNJ Siapkan Ratusan Skema Sertifikasi Kompetensi Futuristik

FISH UNJ Gelar Employer Meeting untuk Perkuat Lulusan Adaptif dan Kompeten dalam Dunia Kerja

Batavia Team UNJ Raih Juara 5 Kategori Battery Electric di Shell Eco-Marathon Asia Pacific and the Middle East 2026

Comdev Program EQUITY UNJ Hadirkan Trauma Healing bagi Siswa di Daerah Rawan Bencana Cianjur

FT UNJ Gelar Employer Meeting 2026, Perkuat Kolaborasi Industri untuk Revitalisasi Kurikulum Berbasis OBE dan Kebutuhan Dunia Kerja

Jakarta, Humas UNJ – Kutipan “Skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai” kerap berseliweran di media sosial, menggambarkan perjuangan mahasiswa dalam menyelesaikan tugas akhir. Bagi Anggito, lulusan Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) angkatan 2018, kutipan tersebut menjadi nyata setelah tujuh tahun menempuh pendidikan tinggi.

Dengan senyum lega, Anggito mengaku kini bisa bernapas lebih tenang setelah menyelesaikan seluruh proses akademiknya. “Alhamdulillah, rasanya sangat lega. Sudah tidak dikejar deadline maupun bimbingan dosen. Akhirnya bisa menyelesaikan apa yang selama ini saya perjuangkan,” ujarnya kepada tim Humas UNJ.

Anggito memulai kuliah di UNJ pada tahun 2018. Ia tidak menyangka perjalanan studinya akan berlangsung selama tujuh tahun. “Awalnya saya pikir akan selesai lebih cepat, tetapi banyak rintangan yang datang, mulai dari masalah ekonomi, pandemi COVID-19, hingga kehilangan motivasi di tengah jalan,” tuturnya.

Saat pandemi melanda, kondisi ekonomi keluarga memaksanya untuk membiayai kuliah secara mandiri. Ia sempat bekerja sebagai kurir Shopee Food sebelum akhirnya mendapat kesempatan menjadi pegawai Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) di UNJ. “Sejak pandemi, biaya kuliah saya tanggung sendiri. Jadi, saya harus pintar membagi waktu antara kuliah dan kerja,” jelasnya.

Meski sempat kehilangan semangat, Anggito tidak menyerah. Ia menemukan kembali motivasinya dari sosok-sosok penting dalam hidupnya. “Saya adalah anak angkat. Saat pandemi, ayah saya memberi tahu hal itu, setelah ibu saya meninggal ketika saya masih SMA. Sejak saat itu, saya bertekad menyelesaikan kuliah untuk memenuhi keinginan almarhumah ibu, Ibu Yuni Ciptoningsih, yang ingin anaknya lulus S1,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Selain dukungan keluarga, Anggito juga mendapat semangat dari sosok yang ia sebut sebagai “orang tua di kampus”, yakni Ibu Martini. “Beliau seperti keluarga di kampus, selalu mendukung dan memberi dorongan agar saya tidak menyerah,” tambahnya.

Bagi Anggito, kelulusan bukan sekadar akhir dari masa studi, tetapi juga bentuk penghormatan atas perjuangan sang ibu. “Lulus berarti saya sudah menunaikan kewajiban sebagai seorang anak untuk mewujudkan impian almarhumah ibu saya,” ucapnya haru.

Kini, setelah resmi menyandang gelar sarjana, Anggito berencana tetap bekerja di UNJ sambil mencari peluang karier baru. Ia ingin terus berkembang dan berkontribusi di lingkungan yang telah banyak memberinya pengalaman hidup.

Di akhir wawancara, Anggito menyampaikan pesan kepada mahasiswa UNJ lainnya yang tengah berjuang menyelesaikan studi. “Jangan patah semangat dalam hidup, apalagi dalam perkuliahan. Percayalah, selalu ada orang baik yang akan membantu entah itu dosen, teman, atau seseorang yang datang di waktu yang tepat. Teruslah berjuang, karena setiap langkah pasti akan sampai pada tujuan,” tutupnya.