Langkah Mungkin Terbatas, Tapi Tekad Tak Berbatas: Abdul Rauf, Guru Disabilitas yang Menggapai Gelar Sarjana Pendidikan Khusus lewat Program RPL UNJ

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. UNJ Kembali Pertahankan Predikat “Badan Publik…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Jawab Tantangan “Mismatch” Dunia Kerja, UNJ Siapkan Ratusan Skema Sertifikasi Kompetensi Futuristik

FISH UNJ Gelar Employer Meeting untuk Perkuat Lulusan Adaptif dan Kompeten dalam Dunia Kerja

Batavia Team UNJ Raih Juara 5 Kategori Battery Electric di Shell Eco-Marathon Asia Pacific and the Middle East 2026

Comdev Program EQUITY UNJ Hadirkan Trauma Healing bagi Siswa di Daerah Rawan Bencana Cianjur

FT UNJ Gelar Employer Meeting 2026, Perkuat Kolaborasi Industri untuk Revitalisasi Kurikulum Berbasis OBE dan Kebutuhan Dunia Kerja

Jakarta, Humas UNJ — Abdul Rauf melangkah mantap menuju panggung wisuda untuk prosesi pemindahan tali toga oleh Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Prof. Komarudin. Kehadirannya sontak mendapat sambutan hangat dari para peserta wisuda. Banyak yang merasa haru, kagum, dan bangga menyaksikan semangat Rauf dalam meraih mimpi, meski dengan segala keterbatasan fisik yang dimilikinya.

Rauf mengikuti Wisuda Akademik Tahun Akademik 2024/2025 Gelombang Kedua, Sesi Keempat, yang digelar pada 30 Oktober 2025 di Gedung Olahraga Kampus UNJ, Jakarta Timur. Ia menyelesaikan studi melalui Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) di Program Studi Pendidikan Khusus.

Pria berusia 49 tahun ini merupakan penyandang disabilitas tuna daksa akibat ledakan bom di Timor Timur pada tahun 1986 yang membuat kakinya tidak berfungsi dengan maksimal. Meski demikian, semangatnya untuk terus belajar tidak pernah surut. “Saya angkatan pertama RPL tahun 2021, di tengah masa Covid. Walaupun saya disabilitas, saya diterima dengan baik tanpa diskriminasi,” ujarnya.

Rauf bekerja sebagai guru di SLB Negeri 12 Jakarta. Ia mengaku motivasi utama melanjutkan pendidikan adalah untuk meningkatkan kompetensi profesional di bidang pendidikan khusus. “Saya bekerja di SLB, jadi saya harus menambah ilmu agar bisa diterapkan di tempat saya bekerja,” tuturnya.
Selama menjalani perkuliahan, Rauf tidak mengalami kendala akademik yang berarti. “Perkuliahan tidak ada masalah,” ungkapnya. Meski begitu, ia tetap mandiri dan berangkat kuliah menggunakan motor yang telah dimodifikasi dari rumahnya di Bintaro, Tangerang Selatan.

Dalam interaksi sosial di kampus, Rauf merasa diterima sepenuhnya oleh dosen dan mahasiswa. “Baik dosen maupun teman-teman kuliah semuanya sangat ramah dan mendukung. Tidak ada perbedaan,” katanya. Ia juga menyampaikan pesan menyentuh kepada mahasiswa lain agar menghargai perjuangan orang tua. “Hargailah orang tua yang sudah bersusah payah membiayai dan memotivasi kita. Selama mereka masih ada, hormati mereka,” ujarnya penuh makna.

Bagi Rauf, pendidikan adalah pondasi penting dalam kehidupan. “Walaupun kita punya kemauan dan kemampuan, tapi kalau tidak didukung pendidikan yang cukup, tidak akan maksimal. Jadi, pendidikan harus dijemput, apa pun kondisinya,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para dosen di Program Studi Pendidikan Khusus Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNJ. “Semua dosen sangat welcome. Saya berterima kasih atas ilmu yang diberikan. Walaupun sedikit, tapi sangat bermanfaat bagi saya,” ucapnya.

Menyelesaikan tugas akhir bukan tanpa tantangan, namun Rauf memaknai setiap proses akademik sebagai bagian dari pembelajaran. “Kalau ada revisi atau perbaikan, saya anggap itu untuk kebaikan,” tuturnya dengan senyum.
Kini, setelah resmi menyandang gelar sarjana, Rauf merasa lega dan bersyukur. Ia berharap ilmu yang diperolehnya dapat memberikan manfaat, baik di lingkungan kerja maupun masyarakat luas. “Alhamdulillah, akhirnya bisa sampai di titik ini. Mudah-mudahan ilmu yang saya dapat bisa saya amalkan,” tutupnya penuh syukur.

Kisah Abdul Rauf menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita. Dengan semangat dan tekad kuat, ia menunjukkan arti sejati dari inklusivitas dan semangat belajar sepanjang hayat.