Jakarta, Humas UNJ — Di tengah hiruk pikuk kota dan gedung-gedung yang menutup langit, semangat cinta alam terus tumbuh di Gedung KH. Hasjim Asj’arie, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Jakarta (FMIPA UNJ). Pada 5 November 2025, KPB Nycticorax FMIPA UNJ bersama Jagat Satwa Nusantara (JSN) bangkitkan kesadaran ekologis generasi muda melalui Talkshow Inspiratif bertajuk “Generasi Muda Beraksi: Bersama Melestarikan Keanekaragaman Hayati Nusantara, Aksi Muda Menginspirasi.”
Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) yang jatuh setiap 5 November. Namun bagi sivitas akademika FMIPA UNJ, peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum reflektif untuk memperkuat tanggung jawab moral terhadap bumi dan seluruh kehidupan di dalamnya yang juga bagian komitmen mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs). Dari tangan-tangan muda yang berkumpul hari itu, tumbuh tekad baru untuk menjaga kehidupan, memulihkan keseimbangan, dan menanam harapan bagi alam yang kian letih.
Dua narasumber inspiratif hadir mengisi kegiatan tersebut, yakni M. Fardhan Khan selaku Direktur Operasional Jagat Satwa Nusantara, dan Agung Sedayu selaku akademisi FMIPA UNJ sekaligus pemerhati konservasi alam. Keduanya membangkitkan kesadaran peserta yang terdiri dari mahasiswa, relawan konservasi, dan komunitas pecinta lingkungan bahwa cinta alam bukan hanya soal rasa, tetapi juga aksi yang terukur, berkelanjutan, dan berdampak.

Pada paparannya, M. Fardhan Khan menjelaskan bahwa Jagat Satwa Nusantara berdiri di atas empat pilar utama, yaitu Konservasi, Edukasi, Riset, dan Rekreasi Sehat. Empat pilar tersebut menjadi fondasi dalam menghubungkan manusia dan satwa secara harmonis, serta mendorong masyarakat untuk lebih dekat dengan isu-isu konservasi.
“Kami percaya, cinta kepada satwa adalah cinta kepada kehidupan itu sendiri. Konservasi tidak berhenti di kebun binatang, tapi terus hidup dalam setiap tindakan kecil manusia yang peduli,” ujarnya penuh keyakinan.

Sementara itu, Agung Sedayu menyoroti pentingnya vegetasi urban dan ekosistem kota yang berkelanjutan sebagai bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim. Menurutnya, menanam pohon, melindungi vegetasi asli, dan menjaga keseimbangan ekosistem merupakan bentuk nyata kontribusi terhadap SDGs 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dan SDGs 15 (Ekosistem Daratan).
“Kota yang baik bukan hanya diukur dari tingginya gedung, tapi dari seberapa banyak pohon yang tumbuh di antara manusia. Vegetasi asli adalah denyut nadi kota yang sehat, yang memberi rumah bagi burung, serangga, dan manusia itu sendiri,” tuturnya.
Selain itu, diskusi juga menyinggung pentingnya peran masyarakat pesisir dan generasi muda dalam mendukung SDGs 14 (Ekosistem Lautan). Perlindungan habitat laut dan pesisir dinilai tidak terlepas dari kondisi daratan dan aktivitas perkotaan yang menghasilkan limbah. Dalam konteks tersebut, FMIPA UNJ melalui berbagai kegiatan akademik dan pengabdian masyarakat berkomitmen memperkuat literasi sains lingkungan dan mendorong praktik keberlanjutan berbasis masyarakat.
Suasana talkshow menjelma menjadi ruang refleksi dan komitmen. Di antara tawa, diskusi, dan paparan ilmiah, terbangun kesadaran bahwa mencintai puspa dan satwa bukan sekadar slogan, tetapi wujud nyata tanggung jawab manusia terhadap keberlanjutan bumi. Menanam pohon, mengurangi sampah plastik, menjaga kebersihan air, serta melindungi flora dan fauna lokal menjadi bagian dari gerakan kecil yang bermakna besar bagi masa depan planet ini.
Pada kesempatan ini, Hadi Nasbey selaku Dekan FMIPA UNJ, menegaskan bahwa kegiatan ini sejalan dengan komitmen UNJ sebagai kampus yang berpihak pada keberlanjutan dan berkontribusi langsung pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadikannya sebagai alat untuk menjaga bumi. Dari ruang kampus inilah lahir generasi yang bukan hanya berpikir untuk dunia, tetapi juga bertindak untuk bumi,” ujarnya dengan nada optimistis.
Melalui kolaborasi antara Jagat Satwa Nusantara dan KPB Nycticorax FMIPA UNJ, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa keberlanjutan alam tidak akan tercapai tanpa aksi nyata manusia. Di tangan generasi muda, masa depan bumi ditulis ulang. Bukan dengan tinta, melainkan dengan pohon yang tumbuh, laut yang pulih, dan satwa yang kembali bernyanyi. Karena menjaga bumi bukan pilihan, melainkan warisan tanggung jawab bagi setiap insan yang ingin hidup di dunia yang tetap hijau, teduh, dan bernafas panjang.