Kolaborasi SPs dan FMIPA UNJ Bersama Duta Besar Belanda Dorong Pemuda Jadi Agen Perubahan Global

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Unila Kunjungi UNJ untuk Studi Banding…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Rektor dan Sivitas Akademika UNJ Rayakan 6 Tahun GOR UNJ Lewat Fun Futsal serta Buka Puasa Bersama

UNJ dan Telkomsel Jalin Kolaborasi Strategis untuk Perkuat Ekosistem Digital dan Generasi Emas AI Indonesia

KOP Cricket UNJ Raih Juara 2 pada Rektor Cup III Cricket Universitas Udayana 2026

Tingkatkan Capaian Target IKU 2026, UNJ Adakan Workshop Tata Kelola Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni

Anggaran KIP Kuliah Meningkat, UNJ Sambut Baik Komitmen Pemerintah Jaga Akses Pendidikan Tinggi

Jakarta, Humas UNJ — Sekolah Pascasarjana  (SPs) berkolaborasi dengan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menyelenggarakan Stadium General bertajuk “Challenges and Opportunities for Youth Across the Globe” pada Rabu, 12 November 2025, di Aula Pascasarjana, Gedung Bung Hatta UNJ. Kegiatan ini menghadirkan Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Bidang Pendidikan, Pemuda, dan Ketenagakerjaan, H.E. Jurriaan Middelhoff, sebagai pembicara utama.

Pada kesempatan ini, Prof. Dedi Purwana selaku Direktur Sekolah Pascasarjana UNJ dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran perwakilan Kedutaan Besar Belanda. Ia menekankan bahwa generasi muda memiliki peran strategis sebagai motor perubahan sosial di era modern.

“Pemuda bukan hanya pemimpin masa depan, tetapi juga agen perubahan hari ini,” ujar Prof. Dedi.

Prof. Dedi menguraikan berbagai tantangan global yang dihadapi pemuda saat ini, seperti ketidakpastian ekonomi, ketimpangan pendidikan, krisis kesehatan mental, dan disrupsi teknologi. Meski demikian, ia menilai bahwa tantangan tersebut juga membuka peluang besar bagi pemuda untuk berkontribusi dalam pembangunan dunia.

“Anak muda hari ini adalah generasi paling terhubung, kreatif, dan adaptif dalam sejarah. Mereka memiliki akses terhadap ilmu pengetahuan, jaringan global, dan teknologi yang dapat menjadi sarana perubahan,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya keberanian, empati, dan integritas dalam menghadapi dinamika zaman. Menurutnya, kemajuan teknologi harus diimbangi dengan tanggung jawab moral dan kepedulian sosial.

“Dunia membutuhkan keberanian dan kepedulian kalian. Jadilah generasi yang tidak hanya berpikir kritis, tetapi juga bertindak etis,” pesannya.

Prof. Dedi berharap kegiatan ini menjadi wadah inspiratif bagi mahasiswa untuk menumbuhkan semangat kolaborasi dan kesadaran global.

“Semoga kegiatan ini menjadi pemantik semangat bagi pemuda untuk terus belajar, bermimpi besar, dan bertindak nyata demi masa depan dunia yang lebih baik,” tutupnya.

Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan kuliah umum oleh H.E. Jurriaan Middelhoff dan dimoderatori oleh Meiliasari yang merupakan Wakil Dekan I FMIPA UNJ bidang akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni

Dalam paparannya, ia menegaskan pentingnya keterlibatan pemuda dalam proses pengambilan keputusan global.

“The youth are not just the leaders of tomorrow; they are the changemakers of today,” ucapnya.

Dubes Jurriaan menjelaskan bahwa Pemerintah Belanda telah membentuk Youth Advisory Committees di tingkat nasional dan di lebih dari 20 kedutaan besar di seluruh dunia. Komite ini memberikan ruang bagi pemuda untuk terlibat langsung dalam proses kebijakan publik.

“Kita harus memahami bahwa anak muda datang dari latar belakang yang beragam. Namun, perbedaan itu tidak boleh menjadi penghalang untuk melibatkan mereka,” tegasnya.

Salah satu isu utama yang disorot adalah krisis iklim. Ia mengungkapkan bahwa 89 persen pemuda Indonesia menganggap perubahan iklim sebagai ancaman terbesar bagi masa depan mereka, namun hampir separuhnya masih memiliki literasi iklim yang rendah.

“Banyak anak muda yang peduli, tetapi belum cukup dibekali pengetahuan dan keterampilan. Di sinilah pentingnya peran lembaga pendidikan,” ujarnya.

Dubes Jurriaan menekankan bahwa lembaga pendidikan harus berinovasi untuk menyiapkan generasi muda menghadapi masa depan yang berkelanjutan. Ia juga menyoroti pentingnya civic engagement di era digital.

“Berpendapat di media sosial memang penting, tetapi melakukan aksi nyata di komunitas juga sama pentingnya. Keduanya saling melengkapi,” katanya.

Namun, ia mengingatkan bahwa ruang partisipasi publik bagi anak muda di banyak negara semakin menyempit.

“Kita harus memastikan ruang sipil tetap terbuka. Jika kesempatan berbicara dan berpartisipasi dibatasi, generasi muda bisa tersingkir dari proses sosial,” tegasnya.

Menutup kuliah umum, Dubes Jurriaan menyampaikan pesan kuat tentang pentingnya mendengarkan suara pemuda secara serius dan bermakna. “The best way to address youth concerns is by listening to them seriously, meaningfully, and doing something about it,” tutupnya.