Jakarta, Humas UNJ – Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bekerja sama dengan Dewan Pengurus Pusat Gerakan Dakwah Kebangsaan (GDK) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Reformulasi Pendidikan Integratif yang Berdampak Menuju Indonesia Emas 2045”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 28 Januari 2026, bertempat di Ruang Pertemuan Lantai 10, Gedung A SFD, Kampus A UNJ.
Forum diskusi ini digelar sebagai respon strategis terhadap tantangan globalisasi dan perubahan sosial yang pesat. Pendidikan saat ini dituntut tidak hanya mencetak generasi yang cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki karakter kebangsaan yang kokoh.
Mewakili Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Bisnis, Andy Hadiyanto yang berhalangan hadir, Sekretaris Universitas UNJ, Prof. Suyono, menyampaikan sambutan pembuka. Dalam sambutannya, Prof. Suyono menekankan bahwa tantangan pendidikan saat ini semakin kompleks akibat dinamika global dan perkembangan teknologi.

“Dunia pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada aspek kognitif semata, tetapi harus mengintegrasikan nilai-nilai karakter, sosial, spiritual, dan kemanusiaan. Oleh karena itu, gagasan tentang pendidikan integratif menjadi sangat relevan dan mendesak untuk dikaji kembali,” ujar Prof. Suyono.
Lebih lanjut, Prof. Suyono berharap FGD ini tidak berhenti pada tataran wacana, melainkan mampu menghasilkan rekomendasi yang aplikatif.
“Melalui diskusi ini, kita ingin menggali gagasan strategis untuk reformulasi pendidikan yang lebih holistik, inklusif, dan berkeadilan. Hasilnya diharapkan dapat ditindaklanjuti dalam kebijakan maupun praktik pembelajaran di masa depan,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Umum Gerakan Dakwah Kebangsaan (GDK), KH. Wahid Nuruddin, dalam sambutannya menyoroti pentingnya menjaga jati diri bangsa di tengah arus perubahan. Ia mengungkapkan kebanggaannya bahwa Indonesia yang majemuk masih tetap damai berkat nilai-nilai Pancasila, yang bahkan dikagumi oleh bangsa lain seperti Afghanistan.

Namun, KH. Wahid juga mengingatkan adanya tantangan serius. Merujuk pada kajian MPR dan temuan MUI, ia menyebutkan adanya potensi radikalisme dan krisis moral di kalangan pelajar dan mahasiswa.
“Kita menghadapi krisis akhlak di mana rasa hormat murid kepada guru atau santri kepada kiai mulai luntur. Tugas kita melalui pendidikan adalah mengedukasi nilai-nilai Pancasila tanpa henti. Jangan sampai orang Indonesia kehilangan ‘keindonesiaannya’ yang ramah, santun, dan toleran,” tegas KH. Wahid.
Ia mengajak seluruh elemen intelektual untuk berbicara kebenaran dan mendidik dengan cara yang bijaksana. “Kita mengajak dengan ramah, bukan marah. Mendidik, bukan menghardik. Inilah cara kita merawat kebhinekaan untuk menyongsong Indonesia Emas,” tutupnya.
