Jakarta, Humas UNJ – Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menerima kunjungan dari Perwakilan Kedutaan Besar Republik Myanmar untuk Indonesia pada Selasa, 10 Maret 2026, di ruang VIP Gedung Rektorat UNJ. Pertemuan ini menjadi langkah strategis dalam mempererat hubungan bilateral sekaligus menjajaki peluang kerja sama pendidikan, khususnya penyelenggaraan kelas internasional pada bidang Teknik Sipil bagi mahasiswa asal Myanmar.
Delegasi Myanmar dipimpin oleh Chargé d’Affaires Kedutaan Besar Myanmar untuk Indonesia, Mr. Mang Hau Thang, yang didampingi oleh Mrs. Shwe Yi Phyo dan Mrs. San Nyunt Aung. Kehadiran mereka disambut oleh Dekan Fakultas Teknik (FT) UNJ beserta jajaran Wakil Dekan, Kepala Kantor Admisi dan Urusan Internasional, serta sejumlah pimpinan dan dosen terkait di lingkungan UNJ.
Dalam sambutannya, Mr. Mang Hau Thang menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat dari pihak UNJ. Ia menjelaskan bahwa kunjungan ini bertujuan untuk mengenal lebih dekat potensi akademik UNJ serta membuka peluang kerja sama pendidikan, khususnya dalam pengembangan kapasitas sumber daya manusia di bidang teknik sipil.

Menanggapi hal tersebut, Dekan Fakultas Teknik UNJ, Prof. Neneng, memaparkan secara komprehensif keunggulan Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Rekayasa Konstruksi Bangunan Gedung. Program ini berfokus pada penguasaan teknologi konstruksi dan manajemen proyek bangunan yang dirancang untuk menjawab kebutuhan industri konstruksi yang terus berkembang.
“Program Sarjana Terapan Teknologi Rekayasa Konstruksi Bangunan Gedung di UNJ dirancang dengan pendekatan yang mengintegrasikan pengetahuan dasar teknik, teknologi konstruksi, serta keterampilan aplikatif yang dibutuhkan industri. Kami membuka peluang seluas-luasnya bagi mahasiswa internasional, termasuk dari Myanmar, untuk belajar dan berkembang bersama di UNJ,” jelas Prof. Neneng.
Ia menambahkan bahwa program ini memiliki beban studi 144 satuan kredit semester (SKS) yang dapat diselesaikan dalam waktu empat tahun. Lulusan akan memperoleh gelar Sarjana Terapan Teknik (S.Tr.T.) dengan kompetensi profesional yang siap terjun langsung di dunia industri.

Dalam proses pembelajaran, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori di kelas seperti teknologi beton, ilmu ukur tanah, hingga manajemen proyek, tetapi juga diwajibkan mengikuti praktik laboratorium, pembelajaran berbasis proyek, serta program magang di perusahaan konstruksi. Pendekatan ini diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang kompeten untuk mengisi berbagai posisi strategis, mulai dari site engineer, pengawas konstruksi, hingga konsultan manajemen proyek.
Pada kesempatan yang sama, Mutia Delina selaku Staf Ahli Urusan Kerja Sama Internasional pada Kantor Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Bisnis UNJ, mempresentasikan kesiapan UNJ dalam menyambut mahasiswa internasional, baik dari sisi infrastruktur maupun sistem pendukung akademik. Ia menyampaikan bahwa UNJ saat ini telah menjadi rumah bagi 225 mahasiswa internasional dari berbagai negara dan terus memperkuat reputasinya di tingkat global.
“UNJ berkomitmen untuk menjadi kampus yang inklusif dan ramah bagi mahasiswa internasional. Kami telah menyiapkan berbagai fasilitas pendukung, mulai dari asrama mahasiswa, laboratorium yang memadai, klinik kesehatan, pusat bahasa, hingga layanan pendampingan dari International Office untuk memastikan mahasiswa internasional dapat beradaptasi dengan baik selama menempuh studi di UNJ,” ujar Mutia.
Ia juga menambahkan bahwa kualitas pendidikan di UNJ telah mendapat pengakuan internasional. Saat ini, UNJ berada pada rentang peringkat 951–1000 pada QS World University Rankings serta 1501+ pada Times Higher Education (THE) Rankings. Selain itu, sebanyak 59 program studi di UNJ telah memperoleh akreditasi internasional dari lembaga kredibel asal Jerman, yakni AQAS, ASIIN, dan FIBAA.
Terkait mekanisme penerimaan mahasiswa internasional, Mutia menjelaskan bahwa calon mahasiswa diwajibkan memiliki ijazah sekolah menengah atas atau sederajat, sertifikat kemampuan bahasa Inggris dengan skor TOEFL minimal 450, sehat jasmani dan rohani, serta lulus Tes Potensi Akademik (TPA) dan wawancara. Untuk mendukung keberhasilan studi, mahasiswa yang diterima juga akan mengikuti program persiapan bahasa secara intensif.
Melalui pertemuan ini, UNJ berharap terbangun sinergi yang lebih kuat dengan Kedutaan Besar Myanmar dalam bidang pendidikan tinggi. Penjajakan kerja sama ini tidak hanya membuka peluang mobilitas mahasiswa internasional, tetapi juga memperkuat peran UNJ sebagai perguruan tinggi yang aktif membangun jejaring global serta berkontribusi dalam pengembangan sumber daya manusia di tingkat internasional.