Jakarta, Humas UNJ– Dalam wawancara dengan Tim Humas UNJ pada 18 Februari 2025 melalui sambungan telepon, Britania Sari, alumni Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta (FBS UNJ), berbagi kisah inspiratifnya. Britania, yang lulus pada tahun 2006, kini aktif mengajar sebagai guru bahasa Prancis dan guru berkebun.
Pandemi COVID-19 menjadi titik balik bagi Britania untuk memulai gerakan pangan sehat dan pangan murah bagi masyarakat. Kesadaran ini muncul ketika ia menyadari bahwa di lingkungan tempat tinggalnya, banyak keluarga yang hidup dalam kondisi kekurangan makanan. Hal ini memicu pertanyaan dalam benaknya: mengapa makanan sehat semakin sulit dan mahal?
Perjuangan Britania dan suaminya dimulai pada tahun 2020, ketika mereka memutuskan pindah ke Parung Panjang, Kabupaten Bogor Barat, Jawa Barat. Dengan pengetahuan dan keahlian suaminya dalam bidang permakultur serta keterampilan berkebun yang dimilikinya, Britania mulai menginisiasi gerakan sosial.
“Kami melihat bahwa banyak masyarakat di sekitar lingkungan rumah yang tidak bisa membeli makanan sehat karena faktor ekonomi,” ungkap Britania.
Berdasarkan kenyataan tersebut, Britania memulai gerakan sosial dengan memberikan pangan sehat kepada sejumlah kepala keluarga. Namun, ia menyadari bahwa bantuan ini tidak akan berdampak pada kemandirian warga dalam jangka panjang. Oleh karena itu, Britania terus berupaya mengembangkan program yang dapat membantu masyarakat menjadi lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan sehat mereka.
Mengubah Strategi untuk Pemberdayaan Masyarakat
“Tahun 2023 kami ganti strategi karena bantuan sosial butuh modal besar dan sifatnya hanya memberi dan tidak berdampak pada pemberdayaan masyarakat,” kata Britania.
Strategi berikutnya adalah mengajak warga untuk menggarap program ketahanan pangan melalui berkebun, beternak, dan mengompos. “Setelah warga mendapat ilmunya, kami membuat kebun sayur persis di depan halaman mereka agar mereka bisa melakukan praktik dan memiliki banyak eksperimen dalam menghasilkan makanan sendiri,” ungkapnya.
Saat ini, terdapat delapan kebun warga dan enam kandang ternak di mana daging dan telurnya dibagikan kepada keluarga pra-sejahtera. Pada tahun 2024, program ketahanan pangan yang digagas Britania berkembang menyasar Posyandu. Hasil panen sayur dan ternak dapat menjadi bawaan para ibu untuk dikonsumsi oleh anak-anak mereka. Sebelumnya, Posyandu yang kekurangan pendanaan hanya mampu memberikan makanan olahan yang kurang memenuhi standar gizi.
“Maka kami buatlah kebun untuk Posyandu. Setiap bulannya, kami panen sayuran, daging, dan telur yang kami bagikan untuk balita sekitar,” katanya.
Saat ini, program ketahanan pangan melalui makanan sehat yang diproduksi sendiri oleh masyarakat tidak hanya tumbuh di area tempat tinggal Britania, tetapi juga telah menjalar ke desa dampingan lainnya seperti Desa Delanggu di Klaten.
“Banyak masyarakat tidak punya banyak akses pendidikan, ilmu, dan pengalaman. Jadi, kami ingin masyarakat sama-sama mau belajar, mandiri, dan berdaya melalui gerakan kecil ini,” terangnya.
Britania merasa bersyukur dengan gerakan yang digagasnya. Kini, gerakan tersebut mampu memberikan pemahaman, terutama dalam aspek pengetahuan dan kemauan untuk memproduksi pangan sendiri dari rumah. Selain itu, beberapa warga telah mampu menjadikannya sebagai sumber penghasilan.
Respon Positif dari Berbagai Kalangan
Gerakan kecil yang diinisiasi Britania kini telah mendapat respon positif tidak hanya dari warga dan akademisi, tetapi juga dari staf khusus Presiden dan Gubernur yang membawahi TP PKK (Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga). “Mereka melihat bahwa ini sifatnya benar-benar pemberdayaan, bukan sekedar bantuan sosial,” ungkap Britania.
Di akhir ceritanya, Britania menyampaikan pesan kepada para mahasiswa yang kini berkuliah bahwa kesempatan untuk mengakses ilmu pengetahuan, relasi, dan pengalaman adalah hak istimewa. Ia berharap keistimewaan tersebut dapat diturunkan kepada masyarakat. “Dampingi masyarakat agar terus berdaya,” katanya.