Jakarta, Humas UNJ — Universitas Negeri Jakarta (UNJ) melalui Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) kembali memperkuat komitmennya dalam pengembangan wawasan global mahasiswa melalui penyelenggaraan The Eurasia International Course 2026 Sesi 9. Kegiatan yang mengangkat tema “Digitalization and AI Impact on Education and Skill Development” ini dilaksanakan pada Senin, 11 Mei 2026, pukul 13.00–15.00 WIB secara hybrid, bertempat di Ruang Serba Guna, Gedung K FISH UNJ, serta diikuti secara daring melalui Zoom.
Sesi ini menghadirkan Prof. Zainudin bin H. Hassan dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM) sebagai narasumber utama. Kegiatan berlangsung dalam Bahasa Malaysia dan Bahasa Inggris dengan Noprita Herari selaku dosen Prodi Ilmu Komunikasi sebagai moderator.
Melalui forum akademik internasional ini, peserta diajak memahami perubahan besar dalam dunia pendidikan dan dunia kerja akibat perkembangan digitalisasi serta kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Perkembangan teknologi tersebut menuntut perguruan tinggi untuk tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pada penguatan keterampilan adaptif, kreativitas, literasi digital, kecerdasan emosional, dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.

Dalam pemaparannya, Prof. Zainudin menyampaikan bahwa AI telah menjadi bagian dari transformasi berbagai sektor industri. Teknologi ini kini banyak digunakan untuk membantu proses otomasi, pengolahan data, pengambilan keputusan, hingga peningkatan efektivitas kerja. Ia menjelaskan bahwa sejumlah pekerjaan yang bersifat berulang, berisiko, membutuhkan ketepatan tinggi, serta melibatkan perhitungan kompleks dapat terbantu oleh AI. Namun, peran manusia tetap tidak tergantikan dalam pekerjaan yang memerlukan kreativitas, empati, kepekaan sosial, etika, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan situasi baru.
Menurut Prof. Zainudin, kehadiran AI seharusnya tidak dipahami sebagai ancaman tunggal terhadap masa depan pekerjaan. Sebaliknya, perubahan teknologi juga membuka ruang bagi munculnya bentuk pekerjaan dan kompetensi baru. Ia menekankan bahwa mahasiswa dari berbagai bidang keilmuan perlu memiliki literasi AI agar mampu memahami cara kerja teknologi, memanfaatkannya secara produktif, serta tetap menjaga daya kritis dalam proses belajar maupun bekerja.
Prof. Zainudin juga menegaskan bahwa AI dapat menjadi mitra strategis dalam dunia pendidikan. Dalam praktik pembelajaran, AI dapat membantu pendidik dalam pengelolaan administrasi, pemantauan kemajuan belajar, dan penyediaan dukungan belajar yang lebih personal. Dengan demikian, tenaga pendidik dapat lebih berfokus pada penguatan aspek-aspek manusiawi dalam pendidikan, seperti pembentukan karakter, etika, komunikasi, kolaborasi, dan pengembangan kecerdasan emosional mahasiswa.
Diskusi pada sesi ini berlangsung aktif melalui sejumlah pertanyaan dari peserta. Abel Elysia dari Program Studi Pendidikan Sosiologi mengangkat isu dampak penggunaan AI terhadap krisis iklim. Menanggapi hal tersebut, Prof. Zainudin menyampaikan bahwa efisiensi energi menjadi agenda penting dalam menghadapi perkembangan teknologi dan tantangan keberlanjutan. Ia juga membagikan contoh praktik di UTM, yaitu penerapan work from home bagi seluruh fakultas pada hari Selasa dan Kamis sebagai salah satu langkah untuk mendukung efisiensi energi.
Pertanyaan lain disampaikan oleh Marco dari Program Studi Ilmu Komunikasi yang menyoroti bagaimana AI dapat menciptakan pekerjaan baru, termasuk tantangan terkait hak kekayaan intelektual dan bidang seni. Prof. Zainudin menjelaskan bahwa meskipun AI dapat membantu banyak proses kerja, manusia tetap menjadi pusat penciptaan ide, pengetahuan, dan kreativitas. Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan teknologi seperti ChatGPT perlu ditempatkan sebagai sarana untuk menguji dan memperkaya pengetahuan, bukan sebagai sumber yang diterima tanpa proses refleksi dan penilaian kritis.
Penyelenggaraan Eurasia International Course 2026 Sesi 9 ini sejalan dengan penguatan Indikator Kinerja Utama (IKU) Perguruan Tinggi, khususnya dalam mendukung mahasiswa memperoleh pengalaman belajar di luar kelas melalui forum akademik internasional, memperluas kolaborasi dengan mitra luar negeri, serta mendorong proses pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan masa depan. Kegiatan ini juga memperlihatkan komitmen FISH UNJ dalam membangun ekosistem akademik yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan dinamika global.
Selain itu, kegiatan ini berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 Quality Education, melalui penguatan akses terhadap pembelajaran berkualitas dan relevan dengan perkembangan zaman. Kegiatan ini juga berkaitan dengan SDG 9 Industry, Innovation, and Infrastructure, karena membahas peran teknologi dan inovasi dalam pendidikan serta dunia kerja, serta SDG 17 Partnerships for the Goals, melalui kolaborasi akademik internasional antara UNJ dan mitra dari kawasan Asia.
Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama menggunakan hand sign Intelligentia Dignitas UNJ sebagai simbol semangat kolaborasi, kebersamaan, dan komitmen UNJ dalam mendorong pendidikan tinggi yang humanis, inovatif, dan siap menghadapi tantangan transformasi digital. Melalui kegiatan ini, UNJ terus memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya responsif terhadap perkembangan teknologi, tetapi juga konsisten menempatkan manusia sebagai pusat dari proses pendidikan dan pembangunan masa depan.