BALI, Humas UNJ – Transformasi digital tidak selalu identik dengan perubahan yang menghilangkan nilai-nilai tradisi. Di Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali, digitalisasi justru menjadi jalan untuk memperkuat identitas budaya sekaligus memperluas akses pasar bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Gagasan tersebut diwujudkan melalui program pengabdian kepada masyarakat internasional yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dalam The 2nd Sustainable International Community Service (ICS) 2026.
Selama empat hari, 29 Juni hingga 2 Juli 2026, dosen dan mahasiswa FEB UNJ bersama mitra akademisi dari Indonesia dan Malaysia mendampingi UMKM Loh-Loh Cem-Cem, produsen minuman herbal tradisional khas Bali, untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha dalam literasi digital, pengembangan merek, dan strategi pemasaran berbasis teknologi tanpa mengesampingkan kekayaan budaya lokal yang menjadi identitas produk.
Program tersebut mengusung tema Strengthening Social Digital Entrepreneurship Through Integrated Digital Literacy and Digital Branding for the Sustainability of Loh-Loh Cem-Cem MSMEs in Penglipuran Tourism Village. Tema ini menegaskan pentingnya kewirausahaan digital yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan penjualan, tetapi juga mampu menjaga keberlanjutan usaha melalui penguatan identitas budaya dan pemberdayaan masyarakat.

Tim pengabdian FEB UNJ dipimpin oleh Darma Rika Swaramarinda bersama Fajri Hamdani, Alifah Kusumaningrum, dan Bayu Suhendry. Melalui pendekatan Social Digital Entrepreneurship, tim mengintegrasikan literasi digital, digital branding, kewirausahaan, serta pelestarian nilai-nilai budaya dalam proses pendampingan UMKM.
Menurut Darma Rika Swaramarinda, digitalisasi seharusnya menjadi sarana untuk memperkuat nilai autentik sebuah produk, bukan menghilangkannya.
“Digitalisasi UMKM tidak berarti meninggalkan identitas lokal. Justru teknologi dapat menjadi media untuk membawa cerita, nilai, dan keunikan budaya kepada masyarakat yang lebih luas. Kami ingin membantu Loh-Loh Cem-Cem membangun identitas digital yang kuat sekaligus mempertahankan autentisitas produk sebagai bagian dari kekayaan budaya Bali,” ujarnya.
Pendampingan diawali dengan observasi lapangan dan Focus Group Discussion (FGD) guna memetakan kondisi usaha, karakteristik produk, kebutuhan pelaku UMKM, serta tantangan yang dihadapi dalam pemasaran. Hasil identifikasi tersebut menjadi dasar penyusunan materi pelatihan sehingga seluruh kegiatan dirancang sesuai kebutuhan riil mitra.
Dalam sesi pelatihan, peserta memperoleh materi mengenai pengembangan identitas merek, penyusunan product storytelling, pembuatan konten digital, hingga strategi pemasaran melalui berbagai platform digital. Selain penyampaian materi, peserta juga mengikuti praktik langsung agar mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam pengelolaan usaha sehari-hari.

Salah satu aspek yang menjadi perhatian utama adalah penyusunan narasi produk. Tim pendamping membantu pelaku UMKM menggali cerita di balik minuman herbal Loh-Loh Cem-Cem, mulai dari penggunaan bahan-bahan alami, proses pembuatannya, hingga filosofi budaya yang melekat pada produk tersebut. Cerita tersebut kemudian dikemas menjadi bagian dari strategi komunikasi merek untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus membangun kedekatan dengan konsumen.
Pendekatan ini dinilai penting karena di tengah persaingan pasar digital, konsumen tidak hanya membeli produk, tetapi juga menghargai cerita, nilai, dan identitas yang menyertainya. Dengan demikian, kekuatan budaya lokal dapat menjadi pembeda yang meningkatkan daya saing produk di pasar yang semakin kompetitif.
Hasil pendampingan menunjukkan peningkatan pemahaman pelaku UMKM mengenai pentingnya literasi digital, pengelolaan identitas merek, serta pemanfaatan media digital sebagai sarana promosi. Identitas visual produk mulai dibangun secara lebih konsisten, materi promosi menjadi lebih menarik, dan pelaku usaha semakin percaya diri dalam memasarkan produknya melalui platform digital.

Program ini juga menjadi bukti bahwa transformasi digital dapat berjalan seiring dengan pelestarian budaya. Melalui pemanfaatan teknologi secara tepat, produk berbasis kearifan lokal memiliki peluang lebih besar untuk menjangkau pasar nasional maupun internasional tanpa kehilangan karakter yang menjadi keunggulannya.
Sebagai bentuk diseminasi hasil pengabdian, tim FEB UNJ juga menyiapkan artikel ilmiah berjudul Strengthening Social Digital Entrepreneurship Through Integrated Digital Literacy and Digital Branding for the Sustainability of Loh-Loh Cem-Cem MSMEs in Penglipuran Tourism Village untuk dipublikasikan pada Journal of International SDGs Community Service (IJCS).
Melalui The 2nd Sustainable International Community Service (ICS) 2026, FEB UNJ kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pengabdian kepada masyarakat yang berdampak nyata. Kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat, dan mitra internasional diharapkan mampu melahirkan model pemberdayaan UMKM yang memadukan inovasi digital, penguatan ekonomi lokal, dan pelestarian budaya sebagai fondasi pembangunan yang berkelanjutan.