Jakarta, Humas UNJ — Di tengah gema semangat perjuangan pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober, suasana haru menyelimuti prosesi Wisuda Semester Genap Tahun Akademik 2024/2025 Gelombang II di Sesi Kedua Universitas Negeri Jakarta (UNJ), pada Selasa, 28 Oktober 2025. Di hari bersejarah yang selalu mengingatkan bangsa ini pada janji untuk terus bersatu dan maju, sebuah kisah sederhana namun mendalam tentang perjuangan tak kenal usia mengalir dalam setiap langkah seorang putri yang mewakili ayahnya.
Imaniar Bandiono hadir menggantikan sang ayah, Almarhum (Alm) Dr. H. Bandiono, M.Pd., yang wafat empat hari sebelum momen yang seharusnya menjadi puncak perjalanan panjangnya sebagai doktor. Di kursi yang seharusnya ditempati sang ayah, Imaniar duduk memeluk erat sebuah bingkai foto besar yang menghadirkan senyum ayahnya dalam keheningan duka.
Alm. Bandiono adalah peserta wisuda Program Doktor Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ. Ia menghembuskan nafas terakhir pada Jumat, 24 Oktober 2025 di usia 74 tahun menjelang hari yang telah ia perjuangkan selama bertahun-tahun. Hari ketika gelar doktor tak lagi sekadar impian baginya namun tuntas terwujud dan selesai.

Bagi Imaniar, ayahnya yang merupakan lulusan program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) pada Program Studi Manajemen Pendidikan yang dahulu bernaung di Sekolah Pascasarjana dan kini prodi tersebut bernaung di FIP UNJ ini bukan hanya pejuang keluarga, melainkan pejuang ilmu. “Ayah memiliki semangat belajar yang tinggi, disiplin, dan tidak pernah menyerah. Ibadahnya tidak pernah putus,” ucapnya penuh haru. Ia menambahkan bahwa pesan ayahnya selalu sama, yakni terus belajar, terus berbuat baik, jadilah bermanfaat. Pesan yang hari itu terasa seperti amanat terakhir seorang pahlawan kecil dalam keluarga.
Perjalanan almarhum mencapai gelar doktor tidak pernah mulus. “Pernah kehilangan laptop berisi seluruh data, pernah harus berhenti karena sakit dan menjalani operasi,” kenang Imaniar. Namun, setiap kali jatuh, ayahnya kembali bangkit. Setiap hambatan justru menguatkan tekadnya untuk menjadi teladan bagi anak dan cucunya bahwa belajar adalah perjuangan seumur hidup.
Bahkan beberapa hari sebelum wisuda, ketika tubuhnya semakin lemah, sang ayah masih menunjukkan binar kecil ketika keluarga berkata, “Sebentar lagi ayah akan wisuda.” Kalimat itu seolah menjadi napas tambahan baginya untuk terus melawan.

Namun Tuhan berkata lain. Dan pada hari itu, Imaniar bersama kedua kakaknya hadir bukan untuk sekadar menerima gelar ayah mereka, tetapi untuk menunaikan janji hidup ayahnya, yakni menyelesaikan perjuangan sang ayah sampai garis akhir.
Duka tidak hanya menyentuh keluarga. Para promotor dan akademisi yang membimbing pun merasakannya sebagai kehilangan besar.
Prof. Eliana Sari selaku promotor almarhum dan Guru Besar Manajemen Pendidikan FIP UNJ, dengan mata berkaca-kaca mengenang sosok yang ia sebut sebagai “guru kehidupan”. “Meski sakit, meski tertatih-tatih, ia tetap mengikuti semua tahapan ujian disertasi dengan penuh kesabaran,” tuturnya. Ia mengingat betul bagaimana almarhum kehilangan istri pada 2019, dihantam pandemi COVID-19, dan berkali-kali harus memulai kembali proses akademiknya. Namun ia tidak pernah menyerah.
Prof. Suryadi selaku ko-promotor almarhum dan Guru Besar Manajemen Pendidikan FIP UNJ, berkata bahwa semangat perjuangan almarhum adalah contoh paling nyata dari apa yang disebut komitmen terhadap ilmu. “Dengan usia lanjut dan kondisi yang tidak lagi prima, semangat juang beliau adalah teladan bagi kita semua,” ungkapnya.
Di tengah peringatan Sumpah Pemuda yang menjadi momen ketika sejarah mencatat janji generasi muda untuk memperjuangkan cita-cita bangsa, kisah almarhum Bandiono menjadi cerminan bahwa perjuangan tidak hanya milik mereka yang muda. Perjuangan adalah milik setiap insan yang memilih untuk tidak berhenti.
Karya disertasinya yang berjudul “Pengaruh Kepemimpinan Transformasional, Iklim Organisasi, dan Motivasi terhadap Kinerja Dosen Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) Jakarta”, kini menjelma menjadi warisan intelektual dan simbol bahwa ilmu adalah jalan paling panjang yang bisa ditempuh manusia menuju keabadian.
Saat nama Alm. Bandiono dipanggil, seluruh ruangan berdiri. Tepuk tangan menggema, bukan hanya sebagai penghormatan akademik, tetapi sebagai salam perpisahan bagi seorang pejuang yang telah menunaikan tugasnya hingga akhir.
Hari itu, di Hari Sumpah Pemuda, UNJ menyaksikan bahwa perjuangan untuk bangsa tidak hanya berada di medan pertempuran, melainkan juga dalam ruang-ruang belajar, dalam doa, dan dalam langkah kecil mereka yang tidak pernah menyerah. Dan hari itu juga, seorang ayah tidak datang untuk menerima gelar doktornya. Namun ilmunya telah selesai. Mimpinya telah sempurna. Dan putrinya telah memastikan bahwa namanya tetap berdiri tegak di hadapan dunia. Dan perjuangan seorang ayah berakhir dengan sebuah pesan yang akan selalu hidup dalam hati keluarganya, “Belajarlah, sampai Tuhan sendiri yang meminta kita berhenti.”
