Jakarta, Humas UNJ — Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menyelenggarakan ujian wawancara bagi peserta disabilitas sebagai bagian dari rangkaian Penerimaan Mahasiswa Baru (PENMABA) Mandiri UNJ Jalur Disabilitas tahun 2025. Sebanyak 125 peserta dari berbagai kategori disabilitas, seperti ADHD, autisme, tuna grahita, tuna daksa, tuna netra, dan tuna rungu, mengikuti proses seleksi yang terdiri atas ujian tulis dan wawancara. Kegiatan ini diselenggarakan pada 10 Juli 2025.
Kepala Admisi UNJ, I Wayan Sugita, menyampaikan bahwa pelaksanaan seleksi berjalan lancar tanpa kendala teknis. “Ujian tulis berlangsung pada pagi hari, dilanjutkan dengan sesi wawancara pukul 13.00. Seluruh proses berjalan tertib dan aman,” ujarnya.
Wayan menambahkan bahwa jalur disabilitas ini mendapat sambutan positif dari para orang tua peserta. “Saya sempat berbincang dengan salah satu orang tua peserta. Mereka sangat mengapresiasi inisiatif ini karena tidak semua perguruan tinggi menyediakan jalur khusus bagi penyandang disabilitas,” jelasnya.

Sementara itu Rektor UNJ, Prof. Komarudin, turut hadir meninjau langsung pelaksanaan sesi wawancara bersama jajaran pimpinan universitas. Dalam kunjungannya, Prof. Komarudin memastikan bahwa seluruh proses seleksi berlangsung secara inklusif dan menjunjung tinggi prinsip keadilan.
“UNJ berkomitmen menjadi kampus yang ramah disabilitas. Kami ingin memberikan akses pendidikan yang merata dan berkualitas bagi semua kalangan, termasuk teman-teman difabel,” ujar Prof. Komarudin saat berbincang dengan tim pewawancara.
Sesi wawancara dilakukan oleh tim gabungan akademisi dan psikolog dari berbagai program studi. Penilaian difokuskan pada motivasi, kesiapan akademik, serta potensi peserta untuk menjalani dan beradaptasi dalam lingkungan pendidikan tinggi.

Salah satu peserta, Willem Mathias, penyandang ADHD yang juga merupakan atlet renang Paragames asal Tangerang Selatan, mengikuti ujian dengan semangat tinggi. Ia memilih Program Studi Pendidikan Seni Musik karena sesuai dengan bakat dan minatnya.
“Mathias bisa memainkan keyboard dan sangat tertarik pada musik. Menurut kami, bidang seni lebih fleksibel dan dapat terus dikembangkan,” ujar ayah Mathias, Julius.
Julius mengapresiasi pelayanan langsung di kampus. “Pendamping mahasiswa sangat sigap dan ramah. Mereka memahami kebutuhan anak-anak disabilitas,” katanya.
Peserta lainnya, Daffa asal Cileungsi, penyandang tuna daksa, juga menunjukkan antusiasme tinggi saat mengikuti seleksi dan mendaftar di Program Studi Pendidikan Sejarah dan Geografi. Ia menyebut UNJ sebagai kampus yang bersih, nyaman, dan memiliki fasilitas yang mendukung mahasiswa disabilitas.

“Alhamdulillah, semua pertanyaan saat wawancara bisa saya jawab dengan lancar, meskipun sempat tegang di awal. Saya sangat ingin kuliah di UNJ,” ujar Daffa usai mengikuti tes.
Ayahnya, Drajat, mengungkapkan rasa syukurnya atas kesempatan yang diberikan UNJ. “Pelayanannya sangat baik. Kakak relawan mahasiswa sangat informatif dan sangat membantu Daffa dalam proses ujian hari ini,” katanya.
UNJ berharap jalur khusus bagi penyandang disabilitas ini dapat menjadi wujud nyata komitmen kampus dalam mewujudkan inklusivitas dan kesetaraan akses pendidikan tinggi. Melalui program ini, UNJ memberikan ruang yang lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk melanjutkan pendidikan tinggi, sekaligus menegaskan peran perguruan tinggi dalam mendukung sistem pendidikan yang inklusif dan berkeadilan di Indonesia.