Bangkitkan Cita Rasa Nusantara, Prodi Pendidikan Tata Boga FT UNJ Gelar Festival Kuliner Betawi

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Tingkatkan Strategi Bisnis Global, FEB UNJ…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Perkuat Mutu dan Daya Saing Global, UNJ Pertahankan Status Akreditasi Unggul hingga 2027

Trilogi Pesan Rektor UNJ Saat Pelantikan OPMAWA dan ORMAWA

Perkuat Daya Saing Lulusan, FIKK UNJ Gelar Pendampingan Penyusunan Skema Sertifikasi Profesi

UNJ dan BRI Resmikan Kantor Layanan di Kampus serta Serah Terima CSR untuk Dukung Mobilitas Sivitas Akademika

UNJ Perkuat Kompetensi Dosen PPG melalui Pelatihan PEKERTI

Jakarta, Humas UNJ — Program Studi S1 Pendidikan Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta (FT UNJ) menggelar Festival Kuliner Betawi bertajuk “Ngulik Dapur Betawi: Rasa, Cerita, dan Kreasi” pada Kamis, 4 Juli 2025, di Aula Bung Hatta, Kampus UNJ. Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan kekayaan kuliner Betawi kepada generasi muda sekaligus melestarikan warisan budaya melalui kreasi makanan tradisional.

Festival ini merupakan proyek pembelajaran mahasiswa angkatan 2024 yang dikemas dalam suasana khas Betawi. Para peserta mengenakan pakaian adat Betawi, menghias ruangan dengan dekorasi tradisional, dan menghadirkan musik-musik khas Betawi yang menambah semarak acara.

Sebanyak 31 jenis makanan dan minuman khas Betawi ditampilkan dalam festival ini, di antaranya: Ketan Tetel, Urap Betawi, Gabus Pucung, Sayur Godog, Sambal Goang, Nasi Ulam, Kue Ongol-ongol, Kue Rangi, Pancong Gula, Sate Lembut, Gorengan Betawi, Sate Asam, Dodol, Bruluk, Kue Sengkulun, Pesmol Ikan Bandeng, Gado-gado, Kerak Telor, Kue Lupis, Putu Mayang, Pecak Gurame, Bubur Ase, Sayur Babanci, Sayur Kunci, Cincau, Nasi Uduk Minyak, Talam Ebi, Asinan Betawi, Selendang Mayang, dan Bir Pletok.

Ketua pelaksana kegiatan, Alifah Haya Maulida, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh peserta dan panitia. Ia menekankan bahwa festival ini bukan hanya ajang unjuk keterampilan memasak, tetapi juga sarana untuk mengenal lebih dalam sejarah dan cerita di balik setiap hidangan Betawi.

“Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami teknik memasak, tetapi juga mengenal nilai budaya dan cerita yang terkandung dalam setiap sajian,” ujar Alifah.

Dosen pengampu mata kuliah Pengolahan Makanan Nusantara, Cucu Cahyana, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kuliner Betawi merupakan hasil akulturasi budaya Tionghoa, Melayu, dan Belanda. Ia menyoroti pentingnya mengangkat kembali makanan khas Betawi yang mulai terlupakan oleh generasi muda.

“Banyak anak muda tidak mengenal makanan seperti sate asam atau kue sengkulun. Inilah alasan mengapa festival ini penting untuk diselenggarakan,” ungkapnya.

Menurutnya, melalui festival ini, mahasiswa diajak untuk mengemas kuliner tradisional dengan sentuhan modern agar lebih menarik dan relevan bagi masyarakat masa kini.

Dekan Fakultas Teknik UNJ, Prof. Neneng Siti Silfi Ambarwati, turut hadir dan membuka acara secara resmi. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi kurikulum Outcomes Based Education (OBE), di mana pembelajaran tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung di lapangan.

“Melalui kegiatan budaya seperti ini, mahasiswa belajar mengolah rasa, memahami identitas budaya, dan mengembangkan kreativitas dalam menyajikan makanan yang indah dan menggugah selera,” jelas Prof. Neneng.

Festival Kuliner Betawi ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan vokasi dapat berperan aktif dalam pelestarian budaya sekaligus membekali mahasiswa dengan kompetensi yang relevan dan bermakna.

Sementara itu, dua mahasiswa peserta festival, Nurul Aini dan Nazrin Yulandia, yang menyajikan menu Sate Lembut, Gorengan Betawi (Gulai Betawi), dan Sate Asem, mengungkapkan tantangan dalam proses pembuatan Sate Lembut. Menurut mereka, selain tekstur daging yang harus benar-benar halus, proses penggilingan dan penyatuan bahan membutuhkan ketelitian tinggi agar hasilnya sesuai dengan karakteristik hidangan.

“Membuat Sate Lembut cukup menantang. Dagingnya harus sangat halus karena sesuai dengan namanya, dan proses pemanggangan juga harus dilakukan dengan suhu yang stabil agar tidak gosong,” ujar Nazrin.

Keduanya berharap kegiatan Festival Kuliner Betawi ini dapat memberikan manfaat besar, khususnya dalam memperkaya pengetahuan mahasiswa mengenai kuliner tradisional. Selain belajar teknik memasak, mereka juga merasa mendapatkan pemahaman lebih dalam tentang cerita dan nilai budaya yang terkandung dalam setiap sajian khas Betawi.