Dari Ragu Menjadi Mampu, Kisah Wisudawati UNJ Kalimah Thoyyibah yang Raih IPK 4.00

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Konsistensi dan Manajemen Waktu Jadi Kunci…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Kisah Perjuangan Tiara, Wisudawati Disabilitas yang Raih Gelar Sarjana Pendidikan Bahasa Arab UNJ

Konsistensi dan Manajemen Waktu Jadi Kunci Sukses Naura Meraih Wisudawati Terbaik UNJ

Kisah Ikhlas, Anak Rantau dari Barabai Kalsel dengan Puluhan Prestasi yang Raih Wisudawan Terbaik UNJ

Kisah Syara Wisudawati Asal Malaysia yang Menemukan “Rumah Kedua” dan Makna Belajar di UNJ

FT dan PLPBK UNJ Kolaborasi dengan Kemnaker RI Gelar Seminar Nasional Karier Profesional di Era Ekonomi Hijau

Jakarta, Humas UNJ — Perjalanan akademik tidak selalu dimulai dengan kemudahan. Bagi Kalimah Thoyyibah, langkah menuju gelar magister justru dimulai dari rasa cemas, ketidaktahuan, dan perjuangan yang kelak menjadi bagian penting dari kisah besarnya. Kini, pada Wisuda Tahun Akademik 2025/2026 Sesi 1 yang digelar pada 13 April 2026 di GOR UNJ, namanya tercatat sebagai salah satu wisudawan terbaik Program Studi Manajemen Pendidikan S-2 Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (FIP UNJ), sebuah pencapaian yang ia sambut dengan rasa syukur mendalam.

Setelah lulus dari Program Studi Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK) IPB, ia bimbang akan melanjutkan studi di mana. Berbekal pengalaman membantu pengelolaan sekolah saat pandemi, ia mulai tertarik lebih dalam di dunia pendidikan. Setelah mencari banyak perguruan tinggi yang memiliki program studi manajemen pendidikan, pilihan jatuh kepada Universitas Negeri Jakarta yang memiliki predikat tinggi di bidangnya.

Kalimah masih mengingat jelas awal perjalanannya saat mendaftar pascasarjana melalui gelombang 2. Kala itu, ia sempat mengira proses tes bisa dilakukan dari rumah, sebagaimana opsi yang ia lihat saat pendaftaran. Namun kenyataan berkata lain, ia harus mengikuti tes langsung di UNJ, di tempat yang bahkan belum ia kenal jalan menuju kampusnya.

“Rupanya saya harus tes di UNJ, dan saya tidak tahu jalan,” kenangnya. Karena itu, sehari sebelum tes ia diantar ibunya terlebih dahulu untuk mengenali lokasi kampus. Keesokan harinya, ia kembali berangkat bersama adiknya untuk mengikuti tes komputer dan wawancara. Dengan penuh harap, ia menyerahkan seluruh hasil perjuangannya kepada Allah SWT.

Hari pengumuman pun tiba. Dengan hati berdebar, ia membuka hasil seleksi di rumah. Dan syukurlah, kabar yang ia terima adalah jawaban atas doa-doa panjangnya, ia diterima menjadi mahasiswa magister UNJ.

Setelah dinyatakan lolos, Kalimah menjalani rangkaian proses akademik berikutnya, mulai dari daftar ulang, kelas bahasa Inggris, hingga PKKMB di kampus yang kini ia sebut sebagai UNJ tercinta. Dari masa orientasi itulah ia mulai mengenal teman-teman seperjuangan. Menariknya, pada hari PKKMB itu pula ia ditunjuk menjadi ketua kelas Reguler B oleh Bu Zulaikha, yang saat itu menjabat sebagai Koorprodi S-2 Manajemen Pendidikan.

“Jujur saya deg-degan saat ditunjuk menjadi ketua kelas S-2, meskipun saya pernah juga menjadi ketua kelas saat S1, tapi tentu saja ada hal-hal yang berbeda antara kelas S-2 dan S1,” ujarnya. Meski sempat diliputi rasa gugup, Kalimah bersyukur karena teman-teman sekelasnya saling mendukung dan dapat diandalkan satu sama lain. Kebersamaan itulah yang kemudian menjadi salah satu tenaga utama dalam menempuh kerasnya studi magister.

Perkuliahan di Program Studi Manajemen Pendidikan S-2 FIP UNJ menghadirkan pengalaman yang padat sekaligus berharga. Ia bertemu dengan para dosen yang menurutnya luar biasa dalam transfer ilmu dan pembentukan cara berpikir akademik. Namun di balik proses belajar yang bermakna itu, tantangan juga datang silih berganti. Tugas, presentasi, penulisan buku, publikasi artikel, kunjungan lapang, hingga seminar nasional menjadi bagian dari rutinitas yang harus ia hadapi dengan sungguh-sungguh.

“Presentasi sehari bisa sampai tiga kali, menulis buku, menerbitkan artikel, kunjungan lapang, serta melaksanakan seminar nasional. Semua hal kami kerjakan dengan sungguh-sungguh dan tak jarang diiringi linangan air mata,” tuturnya. Kalimat itu seolah merangkum betapa perjalanan akademik tak hanya soal prestasi, tetapi juga tentang ketahanan hati.

Selain belajar di kelas, ia aktif dalam penulisan karya ilmiah dan penelitian bersama dosen-dosen. Beberapa artikel hasil penelitian tersebut diantaranya yaitu “Implementation of Dyadic Leadership in Total Quality Management Education in Indonesia” terbit di International Journal of Social Science and Human Research (IJSSHR), “Kualitas Layanan dan Kepuasan Siswa dalam Pendidikan: Tinjauan Prisma Berbasis Scopus (2015-2025)” terbit di Prosiding Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta, “Student Satisfaction in Learning Services: A Systematic Review of Scopus Data-Based in the PRISMA Approach (2015-2025)” terbit di Journal of Educational Sciences.

Selain itu, Kalimah bersama rekan-rekan mahasiswa sekelasnya menerbitkan dua buku dengan judul “Rambu Jalan Menuju Pendidikan Bermutu” yang diterbitkan oleh UNJ Press, Jakarta dan “Mendidik untuk Masa Depan: Paradigma Baru dalam Pendidikan Abad ke-21” yang diterbitkan oleh CV. Sahabat Akademia Group di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kalimah juga membantu dalam tim pengambilan data penelitian dosen ke guru-guru SDN se-Jakarta Timur dan menjadi tim penulis beberapa proposal yang diajukan ke tingkat fakultas.

Selain kegiatan akademik, Kalimah turut aktif dalam kegiatan non-akademik. Ia terlibat dalam beberapa agenda di Magister Manajemen Pendidikan sebagai MC dan moderator pada acara “International Visiting Lecturer 2025” dengan dosen tamu dari Malaysia, “Kuliah Dosen Tamu dengan tema Pedagogik Abad 21: Tantangan dan Peluang bagi Manajer Pendidikan”, dan panitia divisi acara “Seminar Nasional Manajemen Pendidikan 2026” dengan jumlah peserta 75 orang dari berbagai kampus di Indonesia.

Dalam tesisnya yang berjudul “Pengaruh Sistem Zonasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dan Interaksi Guru-Siswa terhadap Kepuasan Siswa SMP Negeri di Kota Bogor”, Kalimah mengkaji bagaimana kebijakan zonasi dan kualitas interaksi pembelajaran berperan dalam membentuk kepuasan siswa di sekolah.

“Penelitian ini berangkat dari pertanyaan sederhana yang terpantik di benak saya, apakah kebijakan zonasi benar-benar berdampak pada kepuasan siswa, atau justru interaksi guru-siswa yang lebih menentukan,” jelasnya. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa meskipun sistem zonasi memiliki pengaruh, kontribusinya relatif kecil, sedangkan interaksi guru-siswa menjadi faktor yang lebih dominan dalam meningkatkan kepuasan siswa. Ia pun berharap temuan ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah dan sekolah untuk tidak hanya berfokus pada kebijakan, tetapi juga meningkatkan kualitas interaksi pembelajaran agar siswa merasa lebih dihargai, didengar, dan nyaman dalam proses belajar.

Salah satu momen penting dalam perjalanannya adalah saat ujian proposal yang berhasil ia lalui pada 19 November 2025. Tak lama berselang, ia menjalani sidang pada 19 Januari 2026, sebuah proses yang ia sebut dapat berlangsung cepat atas izin dan dukungan dari para dosennya, termasuk Bu Winda Dewi Listyasari, yang ia sebut dengan penuh hormat dan kasih. “Bu Winda sangat mendukung saya untuk menyelesaikan kuliah hanya 3 semester. Dorongan kuat dari Bu Winda menguatkan hati dan tekad saya.” Hingga akhirnya, seluruh rangkaian itu mengantarnya pada hari yang selama ini dinantikannya: hari wisuda.

Bagi Kalimah, tantangan terbesar selama menempuh studi bukanlah semata-mata tugas atau ujian, melainkan dirinya sendiri. Ia mengakui bahwa rasa malas dan keinginan untuk menunda pekerjaan kerap menjadi lawan yang paling berat. Namun di titik itulah dukungan teman-teman menjadi sangat berarti.

“Tantangan terbesar adalah diri sendiri. Banyak momen di mana rasa malas dan mager itu menang. Namun teman-teman dekat selalu saling menyemangati dan mengajak untuk mengerjakan tugas bersama,” katanya. Ia pun mengaku senang mengerjakan tugas di luar kos, sehingga sering mencari teman untuk belajar bersama. Dalam candanya yang hangat, ia menyebut teman-temannya sebagai orang-orang yang kerap “diculik” untuk mengerjakan tugas bersama.

Di balik capaian akademik yang gemilang, Kalimah tidak pernah melihat dirinya berdiri sendirian. Ia justru menempatkan pencapaiannya sebagai hasil dari dukungan banyak pihak. Dukungan terbesar, katanya, datang dari Allah SWT melalui keluarga, terutama orang tua, kakak serta ipar, adik, keponakan, dan keluarga besar. Selain itu, ada pula orang-orang yang menjadi penguat langkahnya selama studi: Zahra sebagai diary berjalan yang selalu ada, Antini sebagai partner “penculikan” nugas, Nadiah dan Afnan sebagai teman diskusi, Ka Tami, Jeje, Ingka, serta member grup sayur dan iseng lama sebagai supporter jarak jauh. Tak lupa, ia menyebut Bu Winda, Bu Sepuh serta kedua pembimbingnya, Pak Sugiarto dan Pak Takdir, yang menurutnya sangat berjasa dalam menyelesaikan perjalanan akademik ini.

Ketika ditanya tentang bagaimana caranya bisa meraih IPK 4.00, Kalimah menjawab dengan sederhana namun penuh makna. Menurutnya, kunci utama adalah mengerjakan tugas sebaik mungkin, tidak segan bertanya kepada dosen jika ada hal yang belum dipahami, aktif berdiskusi dengan teman, dan tetap tawakal kepada Allah SWT.

“Setelah itu semua, tawakal kepada Allah dan berdoa supaya diberikan hasil terbaik oleh-Nya,” ujarnya. Bagi Kalimah, nilai sempurna bukanlah hasil dari kebetulan, melainkan dari ikhtiar yang sungguh-sungguh, konsistensi, serta doa yang tak putus.

Momen paling emosional bagi Kalimah justru hadir ketika ia menyadari bahwa namanya tercantum sebagai wisudawan terbaik. Ia mengaku terkejut sekaligus bahagia. Ada haru yang sulit dijelaskan, sebab pencapaian itu akhirnya berhasil menandai target yang ia buat sejak tahun 2017. Perjalanan selama sembilan tahun itu akhirnya sampai di garis akhir yang indah.

“Akhirnya saya bisa men-checklist target yang saya buat di tahun 2017 saat orientasi mahasiswa baru IPB. Dulu peserta diminta untuk menuliskan 100 mimpi, beberapa yang saya tulis yaitu memiliki IP 4.00 dan IPK 4.00. Alhamdulillah mimpi-mimpi itu tercapai walau harus menunggu selama 9 tahun,” katanya penuh syukur. Ia berharap pencapaian ini bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga dapat memberi manfaat bagi dirinya dan orang lain.

Lebih jauh, Kalimah memaknai predikat wisudawan terbaik bukan sekadar penghargaan akademik, melainkan bukti bahwa ia mampu menyelesaikan apa yang telah ia mulai dengan bantuan Allah SWT. Menurutnya, gelar terbaik juga mengajarkan kerendahan hati, karena keberhasilan tidak pernah lahir dari usaha satu orang semata.

“Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan keluarga, dosen, teman, dan lingkungan sekitar,” ujarnya. Secara profesional, predikat tersebut menjadi titik awal untuk terus menjaga dan meningkatkan kualitas diri di masa mendatang.

Soal masa depan, Kalimah belum menutup pintu untuk melanjutkan studi. Namun saat ini ia ingin lebih dulu mengumpulkan pengalaman, baik melalui dunia kerja maupun sebagai peneliti. Bagi mahasiswa dan calon mahasiswa UNJ yang ingin melanjutkan studi hingga jenjang magister, ia menitipkan pesan, pilihlah program studi yang benar-benar lahir dari kata hati dan minat yang sungguh-sungguh.

“Karena rasa burn out dan tertinggal dari yang lain itu pasti ada. Dengan mengerjakan atau mempelajari sesuatu yang kamu minati, kamu bisa menjaga kestabilan emosi dan semangatmu,” pesannya.

Jika diminta menggambarkan pengalaman kuliah di UNJ dalam satu kata, Kalimah memilih satu jawaban ”berani”. Berani mempelajari hal baru, berani bertanya, dan berani memperjuangkan studi hingga tuntas. Satu kata itu tampaknya memang sangat mewakili perjalanan panjangnya, perjalanan yang dimulai dari rasa cemas, ditempa oleh kerja keras, dan berakhir dengan kebahagiaan yang tidak singkat.

Kini, di balik toga dan senyum wisuda, Kalimah Thoyyibah membawa pulang lebih dari sekadar gelar. Ia membawa kisah tentang ketekunan, doa, dukungan keluarga, persahabatan, dan keberanian untuk terus melangkah sampai tujuan tercapai.