Dari Ruang Akademik Hingga Panggung Olahraga Dunia, Dosen FISH UNJ Robertus Robet Sukses Jadi Event Director IFSC World Cup Bali 2025

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Prodi PPKn UNJ Berkolaborasi dengan Undiksha…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Perkuat Link and Match, FPsi UNJ Gelar Employer Meeting untuk Siapkan Lulusan Psikologi Future Ready

Monitoring Awal Program EQUITY, UNJ Tegaskan Komitmen Akuntabilitas dan Dampak Internasional

Employer Meeting FEB UNJ 2026, Dorong Kolaborasi Kampus, Industri, dan Pemerintah untuk Siapkan Lulusan Tangguh dan Berkualitas

Prodi Pendidikan Masyarakat FIP UNJ Selenggarakan Konferensi Internasional, Pendidikan Era Digital Jadi Fokus Pembahasan

Reputasi Ilmu Sosial UNJ Menguat di THE WUR 2026, Tembus 12 Besar PTN Terbaik Nasional

Pada tanggal 2 hingga 4 Mei 2025, Bali – Indonesia menjadi tuan rumah International Federation of Sport Climbing (IFSC) Climbing World Cup untuk pertama kalinya. Hal ini menandai langkah besar Indonesia dalam dunia panjat tebing internasional. Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah, piala dunia panjat tebing diselenggarakan di Indonesia.

Acara ini berlangsung di Peninsula Island, Nusa Dua, dengan latar belakang pemandangan laut yang memukau yang menciptakan suasana kompetisi yang unik dan menarik perhatian global. IFSC World Cup 2025 diikuti 241 peserta dari 32 negara, termasuk Inggris, Jepang, Italia, Amerika Serikat, hingga China. Adapun, Indonesia diwakili 30 atlet yang dua di antaranya berasal dari Bali. Indonesia sendiri menyumbangkan dua medali perunggu di kategori speed. Perunggu itu disumbangkan oleh Kadek Adi Asih asal Bali dan Kiromal Katibin asal Jawa Tengah.

(Sumber Foto: NAKAJIMA IFSC)

Namun, di balik suksesnya pergelaran kejuaraan internasional ini, ada sosok akademisi sekaligus sosiolog yang berperan penting dalam terlaksananya IFSC Climbing World Cup 2025 di Bali-Indonesia. Ia adalah Robertus Robet, dosen sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ), yang juga aktivis hak asasi manusia yang konsisten bersuara membela demokrasi dan keadilan sosial.

Dari panggung perjuangan hak asasi manusia ke gelanggang olahraga dunia, Robertus Robet menunjukkan wajah Indonesia yang inklusif, progresif, dan profesional. Bagi Robet, lompatannya dari dunia akademik dan advokasi menuju industri olahraga internasional ini adalah lanjutan dari komitmennya membangun ruang publik yang sehat, terbuka, dan berdaya.

“Olahraga adalah ekspresi kolektif kemanusiaan. Ia menyatukan, bukan memecah. Dan inilah nilai yang ingin kami rayakan di Bali,” ujar Robet, dalam keterangannya, Minggu (4/5/2025).

Sebagai Event Director IFSC World Cup Bali 2025, Robet berperan penting dalam mengintegrasikan standar internasional federasi panjat tebing dunia (IFSC) dengan kearifan lokal Bali serta prinsip keberlanjutan lingkungan. Ketua Bidang Panjat Tebing Alam dan Rekreasi, Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia, ini menjadikan IFSC Climbing World Cup bukan sekadar kompetisi, tetapi juga panggung untuk promosi budaya, pariwisata, dan diplomasi olahraga Indonesia.

“Bukan hanya atlet yang akan bertanding. Indonesia pun sedang menunjukkan kapasitasnya sebagai tuan rumah yang unggul dan berkelas dunia,” ujar Robet yang juga Guru Besar Sosiologi FISH UNJ.

Penunjukan Robet sebagai event director dipandang sebagai bentuk kepercayaan terhadap kapasitas manajerial dikalangan intelektual progresif Indonesia. Kolaborasi lintas disiplin antara akademisi, aktivis, kreator, dan penggiat olahraga menjadi fondasi kuat dari penyelenggaraan event internasional yang tak hanya profesional, tapi juga membawa pesan nilai dan karakter bangsa.

Dengan keberhasilan IFSC World Cup Bali 2025, Robet menegaskan bahwa pengabdian pada bangsa dapat dilakukan dari berbagai arena, dari ruang akademik, mimbar publik, hingga panggung olahraga dunia.