Jakarta, Humas UNJ – Berada di balik layar sebuah perayaan megah bukanlah perkara sederhana. Begitulah yang dirasakan oleh Panitia Wisuda Semester Genap Tahun Akademik 2024/2025 Universitas Negeri Jakarta (UNJ), yang pada tahun ini menorehkan sejarah baru. Untuk pertama kalinya dalam perjalanan panjang kampus hijau Rawamangun ini, wisuda dilaksanakan dalam dua gelombang dan delapan sesi penuh. Gelombang pertama berlangsung pada 6–9 Oktober 2025, dan disusul gelombang kedua pada 27–30 Oktober 2025. Rangkaian yang tampak anggun dan lancar di panggung megah Gelanggang Olahraga Kampus B UNJ sesungguhnya adalah hasil kerja keras lintas unit, fakultas, hingga sekolah pascasarjana, di bawah arahan Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni bersama Direktur Akademik.
Kilas balik pada hari-hari pelaksanaan, suasana GOR Kampus B UNJ terasa seperti denyut jantung universitas yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Sejak subuh, panitia sudah bersiap. Dari memeriksa kembali tata kursi ratusan wisudawan, mengatur posisi kamera dan pencahayaan, berlatih ulang jalannya prosesi, hingga memastikan perlengkapan medis. peralatannya. Di balik layar, radio komunikasi penuh dengan koordinasi cepat: “Rektor sudah di posisi,” “Gelombang wisudawan masuk lima menit lagi,” “Lighting siap di area tengah.” Semuanya bergerak dalam harmoni, dan nyaris seperti sebuah orkestra besar yang dipimpin oleh konduktor tak terlihat.
Namun di tengah kesibukan itu, ada satu hal yang menjadi denyut moral panitia, yakni semangat untuk menghadirkan momen terbaik bagi setiap wisudawan dan keluarganya. Setiap kursi yang disusun, setiap nama yang dipanggil, dan setiap kain toga yang dilipat adalah bentuk penghormatan atas perjuangan panjang yang dilalui mahasiswa UNJ hingga akhirnya mencapai titik ini. Bagi panitia, wisuda bukan sekadar seremoni akademik. Namun ia adalah ritual peradaban sebagai penanda bahwa ilmu pengetahuan telah menumbuhkan manusia-manusia baru yang siap berbakti.
Di bawah koordinasi Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni, seluruh proses ini dirancang dengan teliti. Tak hanya soal teknis, tetapi juga soal nilai. Kolaborasi antarunit menjadi roh utama pelaksanaan kali ini. Fakultas-fakultas, sekolah pascasarjana, unit kerja, dosen, tenaga kependidikan, unit kegiatan mahasiswa, hingga keamanan kampus bekerja seperti satu tubuh. Tidak ada sekat birokratis, karena yang diutamakan adalah keberhasilan bersama. Direktur Akademik memegang peranan penting dalam memastikan bahwa setiap sesi wisuda berjalan sesuai standar akademik, sementara panitia dari berbagai fakultas memastikan bahwa suasana tetap hidup, hangat, dan bermartabat.
Membagi pelaksanaan menjadi dua gelombang bukanlah keputusan sederhana. Hal ini dilakukan sebagai langkah adaptif terhadap jumlah wisudawan yang kian meningkat, sekaligus komitmen UNJ menjaga kualitas pengalaman akademik. Dengan delapan sesi terpisah, setiap wisudawan mendapatkan ruang untuk benar-benar menikmati momen kelulusannya tanpa terburu-buru. Keputusan ini juga menjadi bukti kedewasaan kelembagaan UNJ sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) yang menekankan tata kelola profesional dan berorientasi mutu.
Namun di antara semua dinamika itu, sosok Rektor UNJ, Prof. Komarudin, menjadi figur sentral yang meninggalkan kesan mendalam. Demi bisa memindahkan kuncir secara langsung kepada seluruh wisudawan dan wisudawati, ia rela berdiri selama tiga hingga empat jam setiap hari, selama delapan hari penuh. Sebuah keteguhan yang melampaui sekadar tugas seremonial. Di balik senyum dan ketegasannya di panggung, tersimpan rasa hormat yang mendalam terhadap perjuangan mahasiswa UNJ. Dalam setiap gerak tangannya memindahkan kuncir toga, seolah terkandung doa dan restu yang meneguhkan langkah para lulusan memasuki babak baru kehidupan.
Pemandangan itu menjadi simbol kepemimpinan yang berakar pada empati. Ketika banyak pemimpin memilih efisiensi, Prof. Komarudin memilih kebermaknaan. Ia hadir bukan hanya sebagai rektor yang memberi legitimasi akademik, tetapi sebagai figur ayah yang melepas anak-anaknya menuju masa depan. Banyak wisudawan yang menitikkan air mata saat kuncir toga mereka disentuh langsung olehnya, dan bukan semata karena lulus, melainkan karena mereka merasa benar-benar dihargai sebagai manusia yang tumbuh dan berjuang.
Dalam ruang GOR yang sesak oleh haru dan tepuk tangan, para panitia bekerja tanpa henti. Mereka tidak tampil di panggung, tapi jejak tangan mereka terlihat di setiap detil, dari kelancaran antrean, keindahan panggung, hingga kesempurnaan prosesi. Tim tata acara memastikan tempo berjalan dengan khidmat, dan tim humas menulis naskah berita dan menangkap momen-momen penuh emosi untuk dokumentasi sejarah universitas, sambil menyiarkan langsung jalannya acara agar keluarga yang tidak hadir tetap bisa menyaksikan kebahagiaan itu dari jauh.
Bagi banyak anggota panitia, kelelahan adalah bagian yang tidak bisa dihindari. Tapi setiap hari mereka menemukan alasan untuk terus tersenyum. “Ketika melihat mahasiswa berdiri gagah di depan orang tua mereka, semua lelah seolah hilang,” ujar salah satu panitia yang bertugas di bagian registrasi. Ada kepuasan batin tersendiri dalam menjadi bagian dari peristiwa yang akan diingat seumur hidup oleh ribuan orang. Sebagian panitia bahkan harus bekerja dari pagi hingga malam, memastikan peralihan antar sesi berjalan sempurna tanpa jeda yang mengganggu.
Kekuatan kolektif inilah yang menjadikan wisuda kali ini bukan sekadar perayaan kelulusan, melainkan perayaan integritas dan dedikasi sivitas akademika UNJ. Seluruh elemen kampus bergandeng tangan menunjukkan bahwa keberhasilan besar hanya bisa dicapai melalui kolaborasi lintas peran. Di bawah koordinasi Direktur Akademik dan dukungan penuh Wakil Rektor, setiap detail teknis dikelola dengan presisi. Dari sistem antrian, manajemen lalu lintas tamu, hingga kontrol akustik di dalam GOR. Semuanya dirancang agar pengalaman wisuda terasa lancar, hangat, dan berkelas.
Namun yang membuat penyelenggaraan kali ini istimewa bukan hanya skala dan kompleksitasnya, melainkan semangat kemanusiaan yang menyertainya. UNJ menempatkan nilai-nilai kepedulian, kebersamaan, dan penghormatan terhadap proses belajar sebagai jantung dari perayaan. Dalam setiap wajah wisudawan, terlihat cerminan perjuangan, dari mahasiswa yang menempuh kuliah sambil bekerja, hingga mereka yang menempuh perjalanan panjang dari daerah untuk menuntut ilmu di Jakarta. Panitia menyadari bahwa setiap toga yang dikenakan hari itu adalah hasil dari ratusan malam tanpa tidur, dari kerja keras orang tua yang tak kenal lelah, dan dari harapan besar untuk masa depan yang lebih baik.
Tidak sedikit kisah menyentuh yang muncul di sela-sela wisuda. Ada orang tua yang datang dari luar Jawa dengan menumpang kapal demi bisa melihat anaknya diwisuda. Ada pula seorang putri yang hadir menggantikan ayahnya yang telah wafat sebelum sempat menyandang gelar doktor. Bagi panitia, kisah-kisah seperti itu menjadi pengingat bahwa wisuda adalah puncak dari perjalanan kemanusiaan, dan bukan sekadar akademik. Mereka tidak hanya mengatur kursi dan panggung, tetapi juga menjaga ruang agar setiap kisah mendapat tempat yang layak untuk dikenang.
Selama delapan hari pelaksanaan, GOR Kampus B UNJ berubah menjadi ruang simbolik yang menyatukan seluruh unsur universitas. Di sana ada ilmu, ada pengabdian, ada cinta. Para panitia tidak hanya mengelola acara, tetapi merawat nilai-nilai yang selama ini menjadi napas UNJ, yakni kejujuran, dedikasi, dan pengabdian tanpa pamrih. Setiap sore, setelah sesi terakhir usai dan lampu-lampu panggung dimatikan, mereka duduk di tribun dengan wajah letih namun mata berbinar. Di antara tumpukan toga dan buket bunga yang tertinggal, mereka tahu bahwa kerja mereka berarti.
Ketika wisuda gelombang kedua berakhir pada 30 Oktober 2025, gema tepuk tangan masih bergema di hati setiap panitia. Bukan hanya karena acara selesai dengan sukses, tetapi karena mereka tahu telah menjadi bagian dari sejarah baru UNJ. Sejarah tentang bagaimana universitas ini terus bertransformasi menjadi institusi yang tidak hanya mengejar keunggulan akademik, tetapi juga keunggulan moral dan kemanusiaan.
Pada setiap sesi, di antara ribuan toga hitam yang bergerak serempak, ada satu pesan yang tidak pernah pudar, bahwa pendidikan bukan semata urusan pengetahuan, tetapi perjalanan menumbuhkan keinsafan. Panitia wisuda memahami hal itu lebih dari siapa pun. Mereka tidak hanya menyiapkan panggung kelulusan, tetapi juga menyiapkan ruang bagi lahirnya generasi baru yang membawa semangat “Kampus Berdampak”, yang di mana UNJ yang tidak hanya mencetak sarjana, tetapi manusia yang berdaya, berkarakter, dan berjiwa pelayan bagi masyarakat.
Maka, ketika tirai terakhir ditutup dan kursi-kursi dikembalikan ke tempatnya, yang tersisa bukan hanya kenangan, melainkan kebanggaan kolektif. Di bawah bimbingan para pimpinan universitas dan dedikasi ratusan panitia, wisuda UNJ 2025 bukan hanya menjadi peristiwa akademik terbesar, tetapi juga cermin dari jiwa universitas yang tak pernah berhenti belajar untuk melayani. Dalam setiap langkah Rektor yang berdiri selama berjam-jam, dalam setiap peluh panitia yang bekerja hingga larut malam, dan dalam setiap senyum wisudawan yang penuh haru, terpatri makna mendalam tentang apa artinya menjadi bagian dari Universitas Negeri Jakarta, yakni bekerja dengan hati, melayani dengan ilmu, dan merayakan manusia dengan sepenuh kemanusiaan.