Dosen Desain Mode FT UNJ Bedah Outfit Skena yang menjadi Gaya, dan Identitas Generasi Muda Masa Kini

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Pengumuman
  4. »
  5. UKT UNJ 2024 TIDAK NAIK

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Kawal Akreditasi Unggul, UNJ Perkuat Sistem Penjaminan Mutu Institusi Berbasis Aturan Terbaru

Perkuat Jejaring Akademik Global, Dua Guru Besar UNJ Jadi Keynote Speaker Konferensi Internasional DCEST 2026 di Vietnam

Peringatan Nuzulul Qur’an Jadi Momentum Soft Launching Dies Natalis ke-62 dan Penyaluran Bantuan UKT Mahasiswa dari Rumah Amal UNJ

UNJ Luncurkan Innovation Challenge 2026 untuk Perkuat Ekosistem Inovasi Berdampak

Dukung Kemdiktisaintek, UNJ Jadi Lokasi Seleksi Cakepsek dan Cawakepsek SMA Unggul Garuda

Jakarta, Humas UNJ — Di tengah derasnya arus tren global dan dinamika media sosial, fenomena outfit skena mencuat sebagai simbol kebebasan berekspresi di kalangan generasi muda, khususnya Gen Z. Gaya berpakaian yang penuh warna, kontras, dan tak jarang eksentrik ini bukan sekadar estetika, melainkan bentuk pernyataan identitas yang kuat.

Di balik gemerlap visual yang tampak di feed Instagram dan TikTok, terdapat dinamika sosial dan budaya yang menarik untuk ditelaah. Hal ini menjadi perhatian Vera Utami Gede Putri, dosen Desain Mode Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta (FT UNJ), yang melihat fenomena ini dari sudut pandang budaya, psikologi, dan identitas.

Menurut Vera, outfit skena tidak dapat dipahami sebatas “gaya berpakaian kekinian”. Ia merupakan bagian dari subculture fashion yang mengandung makna identitas simbolik. “Apa yang dikenakan seseorang selalu mengkomunikasikan siapa dirinya dan bagaimana ia ingin dilihat oleh orang lain,” jelas Vera, membuka wawancara.

Ia menekankan bahwa skena adalah semacam ruang dialog sosial melalui mode. Di dalamnya, individu terutama remaja dan dewasa muda, menemukan medium untuk menunjukkan keunikan, kegelisahan, serta aspirasi mereka. “Karakter pakaian ini lebih menunjukkan personality seseorang,” tegasnya.

Vera mengungkapkan bahwa gaya skena, meskipun tampak sebagai tren baru, sesungguhnya adalah daur ulang dari elemen fashion alternatif seperti grunge, punk, emo, dan gaya indie sleaze awal 2000-an. “Dalam dunia fashion, tidak ada yang benar-benar baru. Ia selalu berputar dan tumbuh mengikuti zamannya,” katanya. Ia mencontohkan bagaimana blazer ala Lady Diana atau renda-renda klasik kini dikombinasikan dengan elemen gaya Korea atau aksesori cyberpunk.

Transformasi ini tidak lepas dari peran media digital yang memungkinkan proses pencarian inspirasi secara cepat dan visual. “Dulu fashion berkembang lewat peragaan busana atau majalah, kini cukup dari TikTok atau Instagram,” tambahnya.

Vera menempatkan fenomena skena dalam kerangka psikologi perkembangan generasi Z. Menurutnya, generasi ini tumbuh dalam iklim sosial yang lebih terbuka dan demokratis dibanding generasi sebelumnya. “Mereka ingin tampil beda, menonjol, dan punya identitas yang khas. Itu sebabnya pilihan fashion mereka sering terasa eksperimental, bahkan ekstrem,” ujarnya.

Jika generasi sebelumnya mengikuti gaya yang dianggap “pantas” oleh masyarakat, generasi Z justru menciptakan standar baru: menjadi diri sendiri. “Mereka berpakaian sesuai dengan apa yang mereka suka. Tren fashion kini tidak lagi berasal dari satu sumber, tetapi saling memengaruhi satu sama lain,” jelasnya.

Hal ini, lanjut Vera, mencerminkan perubahan sosial yang lebih luas, di mana otentisitas dan keunikan lebih dihargai dibanding keseragaman. Fashion menjadi arena demokratis: semua orang boleh masuk, semua gaya bisa hidup.

Vera juga menyoroti besarnya pengaruh para influencer dalam membentuk selera dan gaya berpakaian remaja. Mereka menjadi referensi visual sekaligus panutan simbolik. Namun, ia mengingatkan pentingnya kesadaran budaya dalam menyerap pengaruh global. “Kebebasan berekspresi dalam fashion sebaiknya tetap berpijak pada akar budaya kita,” pesannya.

Menurutnya, generasi Z memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya kreatif dan ekspresif, tapi juga reflektif. Gaya bisa bebas, tetapi nilai-nilai lokal tetap penting untuk dijaga.

Sebagai penutup, Vera menekankan bahwa fashion tidak pernah netral. Ia selalu membawa makna, baik sebagai ekspresi pribadi maupun refleksi sosial. Dalam hal ini, outfit skena menjadi salah satu bentuk komunikasi paling kontemporer dari generasi muda hari ini, seperti berani, cair, bebas, namun tetap sarat makna.

“Fashion memberi ruang bagi siapa pun untuk merepresentasikan identitasnya secara simbolik,” pungkas Vera.

Dengan pemahaman yang mendalam ini, Vera Utami Gede Putri tidak hanya menjadi saksi perkembangan gaya berpakaian anak muda, tetapi juga juru bicara dari transformasi sosial dan kultural yang tengah berlangsung. Melalui kacamata mode, ia mengajak kita untuk lebih memahami bahwa di balik setiap pakaian, ada cerita tentang zaman, identitas, dan cara manusia muda menjelajahi dunia.