Dosen FISH UNJ Perkuat Kompetensi Guru Sosiologi Hadapi Tantangan Sosial di Sekolah

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. UNJ Tuan Rumah Sarasehan Diaspora Indramayu,…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Mengenal Batavia Team UNJ, Wadah Inovasi Kendaraan Hemat Energi dan Mobilitas Berkelanjutan

UNJ Tuan Rumah Sarasehan Diaspora Indramayu, Bahas Pengembangan Potensi Daerah

Dit. Mawani UNJ Apresiasi Peran Ormawa dan Opmawa Sukseskan PKKMB 2026

Kembangkan Layanan Kesehatan dan Sport Science, UNJ Resmikan UUK Pusat Rehabilitasi Medik

UNJ dan Royal University of Bhutan Jajaki Kerja Sama di Bidang Pendidikan

JAKARTA, Humas UNJ — Tim dosen Program Studi (Prodi) Sosiologi dan Pendidikan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ), menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bagi guru yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sosiologi DKI Jakarta.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Syafei, Lantai 8, Kampus A UNJ, pada 31 Agustus 2026 tersebut mengangkat tema “Membangun Ekosistem Pendidikan yang Aman, Inklusif, dan Responsif terhadap Tantangan Sosial”. Sebanyak 100 guru MGMP Sosiologi di DKI Jakarta mengikuti kegiatan tersebut. Kegiatan ini juga melibatkan peran serta mahasiswa Prodi Sosiologi dan Pendidikan Sosiologi FISH UNJ.

Kegiatan PkM ini dirancang untuk memperkuat kapasitas guru dalam menghadapi persoalan sosial yang semakin beragam di lingkungan sekolah. Materi yang diberikan tidak hanya berkaitan dengan penguasaan pembelajaran, tetapi juga kompetensi sosial, pemahaman mengenai kekerasan seksual, serta kemampuan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi yang terkait dengan pendidikan kependudukan dan lingkungan hidup.

Guru Besar Prodi Sosiologi FISH UNJ, Prof. Evy Clara, mengangkat tema “Pengembangan Kompetensi Sosial bagi Guru dalam Proses Pembelajaran di Sekolah”. Dalam materinya, Prof. Evy menekankan bahwa kompetensi sosial guru merupakan bagian penting dalam membangun interaksi pendidikan yang sehat. Guru tidak hanya dituntut menyampaikan materi, tetapi juga mampu memahami karakter peserta didik, membangun komunikasi yang terbuka, serta menciptakan suasana belajar yang menghargai perbedaan.

“Guru memiliki posisi penting dalam membangun hubungan sosial yang sehat di sekolah. Karena itu, kemampuan berkomunikasi, memahami kondisi peserta didik, dan merespons perbedaan menjadi bagian dari kompetensi yang perlu terus dikembangkan,” ujar Prof. Evy.

Menurut dia, lingkungan pembelajaran yang baik tidak hanya ditentukan oleh metode mengajar, tetapi juga kualitas relasi antara guru dan peserta didik. Relasi tersebut perlu dibangun berdasarkan penghargaan, empati, dan komunikasi yang memungkinkan siswa merasa aman untuk belajar.

Sementara itu, dosen Prodi Sosiologi FISH UNJ, Ikhlasiah Dalimonthe, memberikan materi bertema “Peningkatan Pemahaman Kekerasan Seksual di Sekolah bagi Guru Sosiologi di DKI Jakarta”. Ikhlasiah menjelaskan pentingnya meningkatkan pemahaman guru mengenai bentuk, faktor penyebab, serta dampak kekerasan seksual di lingkungan pendidikan. Guru juga perlu memiliki kemampuan untuk mengenali tanda-tanda kekerasan dan memahami langkah yang tepat ketika menghadapi kasus yang melibatkan peserta didik.

“Guru perlu memiliki pemahaman yang memadai agar dapat mengenali kekerasan seksual sejak dini, mencegah terjadinya kekerasan, serta memberikan respons yang tepat ketika menemukan kasus di lingkungan sekolah,” kata Ikhlasiah.

Ia menambahkan, upaya pencegahan membutuhkan ekosistem sekolah yang melibatkan guru, peserta didik, orangtua, dan seluruh unsur pendidikan. Penanganan tidak cukup dilakukan setelah kasus terjadi, tetapi harus dibangun melalui edukasi dan budaya sekolah yang memberikan perlindungan kepada peserta didik.

Adapun dosen Prodi Pendidikan Sosiologi FISH UNJ, Syaifudin, mengangkat tema “Pengembangan Kompetensi Profesional bagi Guru dalam Pembelajaran Berdiferensiasi Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup”. Syaifudin memberikan pemahaman mengenai penerapan pembelajaran berdiferensiasi dengan mengaitkan isu kependudukan dan lingkungan hidup dengan kondisi sosial yang dihadapi peserta didik. Pendekatan tersebut memungkinkan guru menyesuaikan proses pembelajaran dengan kebutuhan, karakteristik, dan kemampuan siswa.

“Pembelajaran berdiferensiasi bukan sekadar membedakan tugas siswa, tetapi bagaimana guru memahami keragaman peserta didik dan merancang pengalaman belajar yang relevan. Isu kependudukan dan lingkungan hidup dapat menjadi konteks pembelajaran yang dekat dengan kehidupan mereka,” ujar Syaifudin.

Menurut Syaifudin, isu lingkungan hidup perlu ditempatkan sebagai bagian dari persoalan sosial, bukan hanya persoalan ekologis. Dengan demikian, pembelajaran dapat membantu siswa memahami hubungan antara perubahan lingkungan, pertumbuhan penduduk, pola konsumsi, ketimpangan, dan kualitas kehidupan masyarakat.

Atas terlaksananya kegiatan ini, Dewi Okfiwati Roslim selaku salah satu peserta sekaligus Ketua MGMP Sosiologi DKI Jakarta mengatakan, materi yang disampaikan dosen FISH UNJ relevan dengan kebutuhan guru dalam menghadapi dinamika sosial di sekolah.

“Kegiatan ini memberikan perspektif dan pemahaman baru bagi kami sebagai guru Sosiologi. Materinya tidak hanya memperkuat kompetensi mengajar, tetapi juga membantu kami memahami bagaimana merespons persoalan sosial yang muncul di lingkungan sekolah,” ujar Dewi.

Menurut Dewi, pembahasan mengenai kompetensi sosial guru, kekerasan seksual, serta pembelajaran berdiferensiasi menjadi hal penting karena guru berhadapan langsung dengan peserta didik yang memiliki latar belakang, karakter, dan kebutuhan yang beragam.

“Kami mendapatkan banyak hal yang bisa diterapkan dalam pembelajaran. Guru perlu terus mengembangkan kompetensi agar mampu menciptakan suasana belajar yang aman, inklusif, dan tetap relevan dengan kondisi sosial yang dihadapi siswa,” katanya.

Ia berharap kolaborasi antara FISH UNJ dan MGMP Sosiologi DKI Jakarta dapat terus berlanjut melalui kegiatan pengembangan kompetensi guru yang lebih berkelanjutan.

“Kami berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi dapat menjadi ruang kolaborasi yang berkelanjutan antara perguruan tinggi dan guru. Dengan begitu, hasilnya dapat dirasakan langsung dalam proses pembelajaran di sekolah,” ujar Dewi.

Melalui kegiatan PkM tersebut, tim dosen Prodi Sosiologi dan Pendidikan Sosiologi FISH UNJ mendorong penguatan kapasitas guru agar mampu merespons perubahan sosial yang berlangsung di lingkungan sekolah. Kolaborasi dengan MGMP Sosiologi DKI Jakarta juga diharapkan menjadi ruang berbagi pengalaman dan pengembangan praktik pembelajaran yang lebih aman, inklusif, serta sesuai dengan kebutuhan peserta didik.