Dosen FPsi UNJ Hadirkan Inovasi Psikoedukasi bagi Ibu yang Memiliki Anak dengan Hemofilia

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Dosen FPsi UNJ Hadirkan Inovasi Psikoedukasi…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Humas dan IP UNJ Raih Penghargaan Gold dan Silver di Ajang The 8th Anugerah Humas Indonesia 2026

SPs UNJ Dorong Pemanfaatan AI yang Berpusat pada Manusia dalam Pendidikan

BP3 UNJ Sambut Delegasi Capitol University Filipina dalam Program Pertukaran Mengajar SEA Teacher Batch 14

SPs UNJ dan UNIMED Jalin Kerja Sama Pengembangan Linguistik Terapan

Mahasiswa Mappi PGSD FIP UNJ Tingkatkan Kompetensi Bahasa Inggris Melalui English Camp Interaktif di Puncak Bogor

JAKARTA, Humas UNJ – Dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Jakarta (FPsi UNJ) mengimplementasikan hasil penelitian melalui program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Hilirisasi Model Komunikasi Suportif Berbasis Psikoedukasi bagi Ibu yang Memiliki Anak dengan Hemofilia”. Program ini bertujuan memperkuat kapasitas orang tua, khususnya para ibu, dalam mendampingi remaja penyandang hemofilia melalui peningkatan kemampuan komunikasi, pengelolaan stres, serta dukungan psikologis di lingkungan keluarga.

Program tersebut didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Program BIMA Tahun Anggaran 2026. Kegiatan dilaksanakan bekerja sama dengan Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia (HMHI) Cabang Jakarta sebagai mitra pelaksana.

Tim pengabdian terdiri atas Ernawati, M.Psi., Psikolog, sebagai ketua, dengan anggota Liza Yudhita W., M.Psi., Psikolog, dan Magdalena Hanoum, M.Psi., Psikolog. Program ini juga melibatkan dua mahasiswa Fakultas Psikologi UNJ, yakni Arkanul Jihan Hadi Piliang dan Chika Oktaviyanti Putri Sirait, sebagai bagian dari pembelajaran kolaboratif antara dosen dan mahasiswa dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Pelaksanaan program berlangsung dalam empat sesi, yakni pada 24 Juli, 25 Juli, 1 Agustus, dan 2 Agustus 2026. Seluruh peserta merupakan orang tua penyandang hemofilia, dengan fokus utama kepada ibu yang memiliki anak remaja dengan kondisi tersebut.

Melalui rangkaian pelatihan berbasis psikoedukasi, peserta memperoleh materi mengenai komunikasi suportif dalam keluarga, penguatan keterampilan mendampingi anak, strategi membangun hubungan yang lebih terbuka, serta teknik mengelola tekanan psikologis yang kerap muncul dalam proses pengasuhan anak dengan penyakit kronis.

Ketua tim pengabdian, Ernawati, M.Psi., Psikolog, mengatakan bahwa keluarga memiliki peran penting dalam menjaga kualitas hidup remaja penyandang hemofilia. Karena itu, kemampuan berkomunikasi secara suportif menjadi salah satu aspek yang perlu diperkuat agar anak memperoleh dukungan emosional yang memadai selama menjalani pengobatan maupun aktivitas sehari-hari.

Menurutnya, hasil penelitian yang telah dikembangkan di lingkungan akademik perlu diterjemahkan menjadi program yang dapat langsung dimanfaatkan masyarakat. Melalui pendekatan psikoedukasi, para orang tua tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga memiliki kesempatan untuk berdiskusi, berbagi pengalaman, serta mengembangkan strategi pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan keluarga masing-masing.

Pelaksanaan program didukung oleh Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia (HMHI) Cabang Jakarta. Ketua HMHI Jakarta, Henry Lie, bersama dua koordinator peserta, Siti Marwiyah dan Elli Wahyuni, berperan dalam mengoordinasikan keikutsertaan para orang tua selama seluruh rangkaian kegiatan berlangsung.

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan organisasi masyarakat tersebut dinilai penting untuk memastikan bahwa hasil riset dapat menjawab kebutuhan nyata di lapangan. Pendekatan ini juga membuka ruang bagi akademisi untuk memperoleh umpan balik dari masyarakat sehingga model yang dikembangkan dapat terus disempurnakan.

Melalui sesi diskusi dan praktik, peserta didorong untuk memahami berbagai tantangan psikologis yang dihadapi keluarga penyandang hemofilia, termasuk bagaimana membangun komunikasi yang mampu menumbuhkan rasa aman, kepercayaan diri, dan kemandirian anak. Selain itu, para ibu juga diperkenalkan pada strategi pengelolaan stres agar mampu menjaga kesehatan mental selama menjalankan peran sebagai pendamping utama.

Program ini menjadi bagian dari upaya hilirisasi hasil penelitian dosen FPsi UNJ sehingga tidak berhenti sebagai luaran akademik, tetapi berkembang menjadi model intervensi yang dapat diterapkan secara langsung di masyarakat. Pendekatan tersebut sejalan dengan komitmen perguruan tinggi untuk menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Melalui dukungan Program BIMA Tahun Anggaran 2026, dosen FPsi UNJ berharap model komunikasi suportif berbasis psikoedukasi ini dapat terus dikembangkan dan diterapkan secara lebih luas. Sinergi antara perguruan tinggi, organisasi masyarakat, tenaga kesehatan, serta keluarga diharapkan mampu menciptakan ekosistem pendampingan yang lebih komprehensif bagi penyandang hemofilia, sekaligus memperkuat peran keluarga sebagai fondasi utama dalam mendukung tumbuh kembang dan kesejahteraan psikologis anak.