Dosen FPsi UNJ Perkuat Ketahanan Keluarga Pemulung melalui Psikoedukasi Berbasis Resiliensi

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Dosen FPsi UNJ Perkuat Ketahanan Keluarga…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Humas dan IP UNJ Raih Penghargaan Gold dan Silver di Ajang The 8th Anugerah Humas Indonesia 2026

SPs UNJ Dorong Pemanfaatan AI yang Berpusat pada Manusia dalam Pendidikan

BP3 UNJ Sambut Delegasi Capitol University Filipina dalam Program Pertukaran Mengajar SEA Teacher Batch 14

SPs UNJ dan UNIMED Jalin Kerja Sama Pengembangan Linguistik Terapan

Mahasiswa Mappi PGSD FIP UNJ Tingkatkan Kompetensi Bahasa Inggris Melalui English Camp Interaktif di Puncak Bogor

JAKARTA, Humas UNJ – Di tengah tekanan ekonomi dan berbagai persoalan sosial yang dihadapi keluarga prasejahtera, ketahanan keluarga menjadi fondasi penting untuk menjaga kualitas hidup dan kesejahteraan anggotanya. Berangkat dari pemahaman tersebut, Fakultas Psikologi Universitas Negeri Jakarta (FPsi UNJ) menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Psikoedukasi: Refleksi Ketahanan Keluarga pada Keluarga Pemulung” di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (4/8/26).

Program ini menyasar para ibu yang berprofesi sebagai pemulung sebagai upaya meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya membangun keluarga yang tangguh di tengah keterbatasan ekonomi. Melalui pendekatan psikologi yang aplikatif dan partisipatif, peserta tidak hanya memperoleh materi mengenai ketahanan keluarga, tetapi juga diajak merefleksikan pengalaman hidup, berbagi cerita, serta menemukan strategi bersama dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Kegiatan dipimpin oleh Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat FPsi UNJ, Mira Ariyani, bersama tim dosen yang terdiri atas Lussy Dwiutami Wahyuni dan Anna Armeni Rangkuti. Program ini juga melibatkan mahasiswa Program Studi Magister Sains Psikologi UNJ, Fanny Soraya Siregar dan Sabrina Ayu Maswati, serta relawan Talitha Natzua Rania dari SMP Islam At-Taubah.

Materi utama disampaikan oleh psikolog sekaligus dosen FPsi UNJ, Irma Rosalinda, yang mengulas “Walsh Family Resilience Framework” atau Kerangka Ketahanan Keluarga Walsh. Menurutnya, keluarga yang resilien bukanlah keluarga yang tidak pernah menghadapi masalah, melainkan keluarga yang mampu bertahan, beradaptasi, dan bangkit ketika menghadapi tekanan hidup.

Irma menjelaskan bahwa terdapat tiga pilar utama dalam membangun ketahanan keluarga. Pertama, “belief systems” atau sistem keyakinan yang membantu keluarga memaknai setiap tantangan secara positif. Kedua, “organizational patterns” atau pola organisasi keluarga yang menekankan kemampuan berbagi peran, saling mendukung, dan beradaptasi terhadap perubahan. Ketiga, “communication and problem solving”, yakni kemampuan membangun komunikasi yang terbuka dan menyelesaikan persoalan secara bersama-sama.

“Ketahanan keluarga tidak berarti bebas dari masalah. Justru keluarga yang tangguh adalah keluarga yang mampu mengubah tantangan menjadi kekuatan melalui komunikasi yang sehat, saling mendukung, dan memiliki harapan bersama dalam menghadapi setiap perubahan,” ujar Irma.

Suasana kegiatan berlangsung hangat dan interaktif. Selain mengikuti sesi pemaparan materi, para peserta terlibat aktif dalam diskusi kelompok, sesi tanya jawab, serta pengisian kuesioner yang dirancang untuk membantu mereka mengenali tingkat ketahanan keluarga masing-masing.

Berbagai pengalaman hidup pun mengemuka. Para ibu berbagi cerita mengenai tantangan mengasuh anak di tengah tuntutan mencari nafkah, mengelola konflik keluarga, hingga mempertahankan keharmonisan rumah tangga meski hidup dalam keterbatasan ekonomi. Diskusi tersebut menjadi ruang refleksi yang memperlihatkan bahwa setiap keluarga memiliki potensi dan kekuatan untuk terus bertahan apabila memperoleh dukungan yang tepat.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat FPsi UNJ, Mira Ariyani, mengatakan bahwa penguatan ketahanan keluarga merupakan investasi sosial yang sangat penting, terutama bagi kelompok masyarakat yang hidup dalam kondisi rentan.

“Melalui psikoedukasi ini kami ingin menunjukkan bahwa setiap keluarga memiliki modal psikologis untuk bangkit. Harapannya, para peserta semakin mampu membangun komunikasi yang sehat, saling mendukung antaranggota keluarga, serta memiliki kemampuan beradaptasi dalam menghadapi perubahan dan tekanan kehidupan,” kata Mira.

Ia menambahkan, kegiatan ini menjadi wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui penerapan ilmu psikologi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Pengabdian kepada masyarakat bukan hanya menghadirkan pengetahuan dari kampus kepada warga, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama. Kami memperoleh banyak pelajaran dari pengalaman hidup para peserta, sementara mereka mendapatkan penguatan psikologis yang diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Inilah bentuk kolaborasi yang memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat,” ujarnya.

Mira berharap program serupa dapat terus dikembangkan dengan menjangkau lebih banyak kelompok masyarakat yang menghadapi kerentanan sosial dan ekonomi. Menurutnya, ilmu psikologi memiliki peran strategis dalam memperkuat kualitas kehidupan keluarga Indonesia apabila diterapkan secara nyata melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat.

Melalui kegiatan ini, FPsi UNJ menegaskan komitmennya untuk menghadirkan ilmu psikologi yang tidak berhenti di ruang akademik, tetapi hadir sebagai solusi yang membumi dalam memperkuat ketahanan keluarga, meningkatkan kesejahteraan psikologis masyarakat, serta mendukung terwujudnya keluarga Indonesia yang lebih tangguh, adaptif, dan berdaya menghadapi berbagai tantangan zaman.