JAKARTA, Humas UNJ – Dosen Desain Mode Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta (FT UNJ), Sri Listiani, mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih memahami prinsip keberlanjutan dalam industri fashion. Pesan tersebut disampaikan melalui sesi edukatif bertajuk “Sustainable Hijab: Where Style Meets Sustainability” pada gelaran ASIA FASHION SHOW di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (27/8/26).
Dalam sesi tersebut, Sri membahas penerapan konsep sustainable fashion melalui produk hijab. Menurutnya, fashion tidak hanya berkaitan dengan tren dan penampilan, tetapi juga berhubungan dengan lingkungan, pola konsumsi, serta kebiasaan masyarakat dalam memilih dan menggunakan produk.
Ia menjelaskan, penerapan sustainable fashion tidak berarti mengesampingkan gaya. Prinsip tersebut justru dapat diterapkan melalui pilihan produk yang lebih bijak, mulai dari material, kualitas, hingga cara merawat dan menggunakan pakaian.
“Sustainable fashion bukan berarti kita harus meninggalkan gaya dan tren. Justru bagaimana kita dapat tetap tampil stylish dengan membuat pilihan yang lebih bijak, mulai dari material, kualitas produk, hingga bagaimana kita merawat dan menggunakan produk tersebut agar masa pakainya lebih panjang,” ujar Sri.

Menurut Sri, pemilihan material menjadi salah satu hal penting dalam menentukan keberlanjutan sebuah produk hijab. Konsumen tidak hanya perlu mempertimbangkan tampilan dan kenyamanan bahan, tetapi juga kualitas serta daya tahannya.
Produk yang memiliki kualitas baik dan dapat digunakan dalam jangka panjang, kata dia, berpotensi mengurangi kebiasaan konsumsi berlebihan dan timbulan limbah fashion.
Selain pemilihan material, Sri menekankan pentingnya perilaku konsumen setelah membeli produk. Perawatan yang tepat, penggunaan berulang, serta pemanfaatan kembali produk yang sudah tidak digunakan menjadi bagian dari praktik sederhana yang dapat diterapkan sehari-hari.
“Kesadaran terhadap sustainability sebenarnya dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Kita bisa memilih produk yang memang dibutuhkan, merawat hijab dengan baik, menggunakannya selama mungkin, dan ketika sudah tidak digunakan, kita dapat mencari cara untuk reuse atau mengolahnya kembali. Dari kebiasaan kecil tersebut, kita belajar menjadi konsumen fashion yang lebih bertanggung jawab,” tambahnya.
Sesi edukatif tersebut memberikan perspektif kepada peserta bahwa gaya personal dan prinsip keberlanjutan dapat berjalan beriringan. Produk fashion dapat tetap memenuhi kebutuhan estetika sekaligus mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan.
Bagi Sri, pendekatan sustainable fashion perlu dilihat secara menyeluruh, tidak hanya dari produk yang dihasilkan, tetapi juga dari siklus penggunaannya. Proses produksi, pemilihan bahan, pola konsumsi, perawatan, penggunaan kembali, hingga pengelolaan produk setelah tidak digunakan merupakan bagian dari persoalan keberlanjutan dalam industri fashion.
Kehadiran dosen Desain Mode FT UNJ dalam ASIA FASHION SHOW juga menjadi bagian dari kontribusi akademisi dalam memperluas literasi masyarakat mengenai perkembangan industri fashion yang lebih berkelanjutan.
Melalui edukasi tersebut, generasi muda diharapkan semakin kritis dalam menentukan pilihan fashion dan memahami konsekuensi dari pola konsumsi yang dilakukan. Dengan demikian, fashion tidak hanya menjadi sarana ekspresi diri, tetapi juga dapat menjadi bagian dari perubahan menuju pola konsumsi yang lebih sadar dan bertanggung jawab.
Konsep sustainable hijab yang diperkenalkan Sri Listiani menunjukkan bahwa style dan sustainability tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang berlawanan. Keduanya dapat berjalan bersama melalui pilihan material, kualitas produk, perawatan, penggunaan jangka panjang, dan pemanfaatan kembali produk fashion.