Jakarta, Humas UNJ — Setiap tanggal 2 Oktober, masyarakat Indonesia memperingati Hari Batik Nasional sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya yang telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya takbenda dunia. Universitas Negeri Jakarta (UNJ) turut memeriahkan momen ini dengan menghadirkan suara para Duta Mahasiswa UNJ yang menyampaikan pandangan mereka mengenai makna batik, kebanggaan mengenakannya, serta peran aktif dalam pelestarian dan promosi batik di lingkungan kampus maupun masyarakat luas.
Falisha, Duta Mahasiswa dari Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), menyampaikan bahwa batik bukan sekadar pakaian, melainkan identitas budaya. “Ketika mengenakan batik, saya merasa bangga karena membawa warisan budaya yang telah diakui dunia. Batik juga menjadi pengingat bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab untuk menjaganya. Batik tidak hanya cocok dikenakan dalam acara formal, tetapi juga relevan untuk digunakan dalam keseharian di kampus,” ujarnya.
Senada dengan Falisha, Mia, Duta Mahasiswa dari FBS yang berasal dari program studi seni rupa, melihat batik dari sisi artistik dan estetik. “Batik adalah karya seni. Setiap motif, garis, dan warna menyimpan filosofi serta cerita yang mendalam, layaknya sebuah lukisan. Mengenakan batik bukan hanya tampil rapi, tetapi juga membawa seni rupa Indonesia ke dalam kehidupan sehari-hari,” katanya penuh semangat.

Rizal, alumni Duta Mahasiswa UNJ tahun 2022 yang baru saja meraih prestasi sebagai delapan besar Abang Jakarta 2025, turut menyuarakan pendapatnya. Ia menegaskan bahwa batik merupakan identitas bangsa yang harus terus diperkenalkan kepada dunia. “Jika batik bisa berbicara, saya yakin ia akan berkata: ‘Hai anak muda Indonesia, gunakanlah aku, kenalkanlah keindahanku pada dunia, dan sebarkanlah keanggunanku ke seluruh jagat raya,’” ungkapnya.
Al Wahibi, Duta Mahasiswa UNJ lainnya, menyoroti fenomena kebebasan berpakaian di kalangan mahasiswa. “Berbeda dengan masa sekolah yang identik dengan seragam, mahasiswa memiliki kebebasan dalam berpakaian. Sayangnya, hal ini kadang membuat mahasiswa memilih busana yang kurang mencerminkan budaya kita. Dengan mengenakan batik, kita bisa melestarikan identitas budaya Indonesia sekaligus mengingatkan diri akan jati diri sebagai bangsa,” tuturnya.
Naurah, Duta Mahasiswa UNJ yang kerap mengenakan batik saat kuliah luring, mengungkapkan bahwa respons dari lingkungan kampus sangat positif. “Teman-teman sering menantikan motif batik yang saya kenakan. Bahkan dosen pun memberikan apresiasi. Ini membuktikan bahwa batik dekat dengan keseharian kita dan memperkuat rasa bangga memilikinya,” jelasnya.

Muhammad Sholeh Fuddin, Duta dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, menekankan bahwa generasi muda merupakan garda terdepan dalam menjaga keberlangsungan batik. “Harapannya, anak muda melihat batik bukan hanya sebagai pakaian, tetapi sebagai simbol jati diri bangsa. Kita harus mampu memperkenalkan batik kepada masyarakat luas agar warisan ini tetap hidup di tengah perkembangan zaman,” tegasnya.
Sebagai bentuk nyata pelestarian, Adisti, Duta dari Fakultas Teknik, aktif mengembangkan kegiatan kreatif terkait batik. Dengan latar belakang pendidikan kriya batik, ia menggagas workshop batik bersama organisasi mahasiswa yang akan dilaksanakan di UNJ. “Saya juga membuat konten gaya berbatik sesuai kepribadian anak muda agar batik semakin relevan tanpa mengurangi makna keagungannya. Harapannya, langkah kecil ini berdampak bagi kelestarian batik di UNJ maupun di luar,” tuturnya.

Dudin Mahfudin, Duta dari Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH), menambahkan bahwa batik dapat menjadi bahasa universal. “Kami para Duta bukan hanya representasi wajah kampus, tetapi juga jembatan budaya. Setiap kali tampil sebagai MC, pendamping acara, atau menghadiri kegiatan formal, kami selalu berusaha mengenakan batik. Ini adalah cara sederhana namun bermakna untuk memperkenalkan Indonesia,” ungkapnya.
Rangkaian pendapat dari para Duta Mahasiswa UNJ menunjukkan bahwa batik tidak hanya dipandang sebagai pakaian tradisional, melainkan sebagai simbol identitas, kebanggaan, dan ruang ekspresi kreatif. Melalui pemahaman, apresiasi, serta inisiatif nyata seperti workshop dan kampanye gaya berbatik, mereka berupaya menjaga agar batik tetap relevan bagi generasi muda.
Peringatan Hari Batik Nasional di UNJ menjadi momentum penting untuk meneguhkan komitmen sivitas akademika dalam melestarikan budaya bangsa. Dengan semangat para Duta Mahasiswa, UNJ terus menggaungkan batik sebagai warisan luhur yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan Indonesia.