Empat Belas Lentera Guru Besar dalam Satu Langit Ilmu, UNJ Nyalakan 131 Cahaya untuk Peradaban Pendidikan Indonesia

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. UNJ Kembali Pertahankan Predikat “Badan Publik…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Jawab Tantangan “Mismatch” Dunia Kerja, UNJ Siapkan Ratusan Skema Sertifikasi Kompetensi Futuristik

FISH UNJ Gelar Employer Meeting untuk Perkuat Lulusan Adaptif dan Kompeten dalam Dunia Kerja

Batavia Team UNJ Raih Juara 5 Kategori Battery Electric di Shell Eco-Marathon Asia Pacific and the Middle East 2026

Comdev Program EQUITY UNJ Hadirkan Trauma Healing bagi Siswa di Daerah Rawan Bencana Cianjur

FT UNJ Gelar Employer Meeting 2026, Perkuat Kolaborasi Industri untuk Revitalisasi Kurikulum Berbasis OBE dan Kebutuhan Dunia Kerja

Jakarta, Humas UNJ – Awal bulan Juni 2025 menjadi panggung megah bagi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), saat ilmu, dedikasi, dan perjuangan berpadu dalam satu harmoni, yakni pengukuhan empat belas guru besar sebagai lentera cahaya yang menuntun arah masa depan peradaban ilmu pengetahuan dan pendidikan Indonesia. UNJ tidak hanya menorehkan sejarah di bulan Juni 2025, tetapi menyalakan nyala abadi di ruang intelektual keilmuan Indonesia. Sebuah parade agung ilmu pengetahuan telah bergema dari Aula Latif Hendraningrat, menyapu lorong-lorong fakultas, menembus buku-buku tua di perpustakaan, dan memantul dalam dada generasi para dosen muda yang bermimpi untuk menjadi “Guru Besar” kebanggaan UNJ dan Indonesia.

Dari tanggal 3 Juni 2025 hingga 12 Juni 2025, empat belas Guru Besar dikukuhkan sekaligus yang menjadikan jumlah Guru Besar UNJ kini mencapai 131. Jumlah ini akan terus bertambah dengan lahirnya para Guru Besar UNJ. Jumlah Guru Besar UNJ saat ini bukan hanya sebuah loncatan prestasi yang lebih dari sekadar angka. Namun angka itu bukan angka biasa. Ia adalah simbol dari ribuan jam riset yang sunyi, malam-malam panjang yang menangguhkan tidur demi menjawab pertanyaan-pertanyaan tak kasatmata, lembaran jurnal yang ditulis dengan peluh dan nurani, serta pengabdian yang tak kenal gempita. Inilah kisah tentang mereka, empat belas sosok yang kini berdiri di puncak tangga akademik. Bukan karena pencapaian pribadi semata, tetapi karena mereka telah menyerahkan hidup mereka pada satu hal yang paling suci dalam peradaban, yaitu ilmu pengetahuan.

Di antara mereka, berdiri Prof. Ifan Iskandar, sang penjaga sunyi tata bunyi Bahasa Inggris. Dalam keheningan fonetik dan dentingan fonologi, ia menemukan irama pembelajaran. Ia bukan sekadar mengajarkan pelafalan, tetapi mengurai bagaimana bunyi menjadi jembatan makna, dan makna menjadi gerbang peradaban antarbangsa. Berjalan berdampingan dengan Prof. Ifan Iskandar, adalah Prof. Liliana Muliastuti, yang memahat sejarah dalam Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Di ruang-ruang pengajaran lintas benua, ia menyulam Indonesia dalam kata, menyebar kasih dalam kalimat. Melalui pengajarannya, bahasa ibu kita menjadi obor yang menerangi dunia.

Dari gelanggang dunia gerak dan olahraga, lahirlah Prof. Nuraini, penggagas Ilmu Pembelajaran Permainan Modifikasi. Ia tidak sekadar menyusun permainan, ia mencipta ruang pembelajaran yang membebaskan dan membangun karakter melalui kreativitas gerak. Di sisinya, Prof. Ika Novitaria Marani menegaskan bahwa olahraga bukan sekadar lari dan peluh. Sebagai Guru Besar Komunikasi Olahraga, ia memperlihatkan bahwa antara sorak penonton dan strategi lapangan, terdapat sistem komunikasi yang mampu memengaruhi bangsa. Sementara itu Prof. Hernawan, Guru Besar Pendidikan Luar Kelas, memilih langit sebagai atap kelasnya dan bumi sebagai papan tulisnya. Ia mengajarkan bahwa pendidikan tidak pernah dibatasi tembok, yang dimana alam adalah guru, dan pengalaman adalah kurikulum terbaik.

Dari jagat eksakta, hadir Prof. Esmar Budi, sang arsitek atom dan molekul. Ia menyelami Fisika Material Komposit bukan hanya untuk membangun bahan kuat, tetapi juga membangun daya tahan bangsa dalam teknologi dan riset unggul. Sementara itu, Prof. Maria Paristiowati membawa kimia ke dimensi kemanusiaan. Sebagai Guru Besar Teknologi Pembelajaran Kimia, ia memampukan reaksi kimia berbicara dalam bahasa siswa, membuat sains terasa dekat dan relevan.

Dalam manajemen pembelajaran, Prof. Wahyu Sri Ambar Arum menjadi pemahat strategi. Ia menjadikan pengelolaan pembelajaran sebagai seni berpikir, seni memfasilitasi, dan seni menyentuh hati manusia. Ia memastikan bahwa dalam dunia pendidikan, tidak ada siswa yang tercecer dan tidak ada pengetahuan yang tersia-sia.

Dari kedalaman air dan struktur kehidupan, bangkit Prof. Ratna Komala, Guru Besar Ekologi Perairan, dan Prof. Yulia Irnidayanti, Guru Besar Struktur dan Perkembangan Hewan. Keduanya menelusuri dunia mikro dan makro, memahami denyut alam dan kehidupan yang terpendam, membawa kesadaran ekologis dan keilmuan yang melampaui batas-batas ruang kelas.

Dan ketika dunia mulai memanas oleh ketidakpedulian lingkungan, muncul suara dari Prof. Diana Vivanti Sigit, Guru Besar Pendidikan Lingkungan Hidup. Ia bukan sekadar mengingatkan, tetapi menggerakkan. Pendidikan menjadi alat kesadaran ekologis, dan ia menanamkan bahwa bumi harus diwariskan dalam keadaan yang lebih baik daripada saat kita menerimanya.

Dalam dunia yang sering kali retak oleh konflik, Prof. Abdul Haris Fatgehipon hadir sebagai Guru Besar Ilmu Damai dan Resolusi Konflik. Ia adalah penutur damai, penyulam dialog, dan penenun rekonsiliasi. Melalui keilmuannya, ia menulis bahwa damai bukan utopia, tetapi hasil dari kerja keras ilmu dan hati.

Berikutnya Prof. Ciek Julyati Hisyam, Guru Besar Ilmu Sosiologi Perilaku Menyimpang, menyelami sisi tergelap masyarakat bukan untuk mengutuk, melainkan untuk memahami. Ia membuka ruang bagi empati dalam sosiologi, bahwa setiap perilaku menyimpang adalah jeritan struktur sosial yang harus diperbaiki. Dan di ujung parade ini, berdiri Prof. Robet, Guru Besar Ilmu Filsafat Sosial, sosok yang menolak berhenti bertanya. Ia merumuskan makna, menantang kenyamanan intelektual, dan mengajak kita untuk merenungkan, untuk siapa sebenarnya ilmu ini dipertahankan?

Empat belas guru besar. Empat belas jiwa. Empat belas cerita perjuangan. Tapi satu napas yang sama, yaitu ilmu adalah pengabdian. Mereka bukan hanya menambah jumlah, tetapi membangun kualitas. Mereka bukan sekadar akademisi, tetapi penjaga obor, penjaga nalar, dan penjaga nurani bangsa.

UNJ tidak hanya melahirkan guru besar baru. Ia membangunkan kembali kesadaran bahwa akademia bukan menara gading, melainkan menara cahaya. Bahwa ilmu bukan sekadar tulisan dalam jurnal, tetapi denyut dalam kehidupan masyarakat. Bahwa gelar guru besar bukan akhir pencapaian, tetapi awal dari tanggung jawab baru.

Di langit Rawamangun yang mulai memerah, para mahasiswa menatap para guru besarnya dengan bangga. Mereka tahu, di depan mereka berdiri bukan hanya pengajar, tetapi penjaga nyala peradaban. Dan kampus UNJ akan terus berjalan tegak, dengan lentera-lentera baru yang siap menyalakan zaman bersama barisan para Guru Besarnya. (Syf).