FEB UNJ Perkuat Kualitas Proposal Riset Dosen melalui Coaching RIIM Kompetisi BRIN 2026

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Peringatan Nuzulul Qur’an Jadi Momentum Soft…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Dosen FIKK UNJ Latih Guru PJOK dan Guru SD di Indramayu untuk Perkuat Pembelajaran Olahraga dan Identifikasi Bakat Siswa

Perkuat Jejaring Internasional, Tim Pencak Silat UNJ dan Politeknik Malaysia Gelar Latihan Bersama

Rangga Kusuma Putra Antar UNJ Raih Prestasi Juara 1 Perdana di Pilmapres Nasional 2026 Kategori Mahasiswa Disabilitas

FIKK UNJ Tingkatkan Kompetensi Guru PJOK dalam Pengembangan Gerak dan Penilaian Motorik Siswa

Dosen Prodi Pendidikan Teknik Bangunan FT UNJ Revitalisasi Sanitasi SMA di Jonggol dan Dorong Lingkungan Belajar yang Lebih Sehat

JAKARTA, Humas UNJ – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Jakarta (FEB UNJ) terus mendorong peningkatan daya saing riset dosen dan peneliti melalui kegiatan “Coaching Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Kompetisi BRIN 2026 Batch 2”. Kegiatan yang diselenggarakan pada Senin (20/7/26) di Gedung SFD Lantai 10 ini bertujuan memperkuat kualitas proposal penelitian sekaligus meningkatkan peluang sivitas akademika memperoleh pendanaan riset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Kegiatan tersebut diikuti dosen dan peneliti dari berbagai program studi di lingkungan UNJ. Berbeda dengan sosialisasi yang umumnya berfokus pada penjelasan persyaratan administratif, coaching kali ini dirancang sebagai forum pendampingan yang menitikberatkan pada strategi penyusunan proposal yang lebih kompetitif sesuai perspektif penilai.

Acara dipandu oleh Surya Anugrah sebagai master of ceremony dan menghadirkan tiga narasumber yang telah berpengalaman memperoleh pendanaan RIIM yang juga dosen FEB UNJ, yakni Ayatulloh Michael Musyaffi dan Hera Khairunnisa yang merupakan penerima pendanaan RIIM VIII, serta Muhammad Yusuf sebagai awardee RIIM X.

Ketiga narasumber membagikan pengalaman mereka sejak proses merumuskan gagasan penelitian, menyusun kebaruan (novelty), menentukan metode penelitian, menyusun peta jalan (roadmap) riset, hingga merancang luaran dan anggaran yang sesuai dengan ketentuan program RIIM Kompetisi BRIN.

Dalam sesi pemaparan, para narasumber menegaskan bahwa proposal yang memiliki peluang tinggi untuk didanai tidak cukup hanya menawarkan topik yang menarik. Proposal harus mampu menunjukkan persoalan yang nyata, menjelaskan kesenjangan penelitian yang masih terbuka, menawarkan solusi berbasis riset, serta memberikan kontribusi yang terukur bagi pengembangan ilmu pengetahuan, penyusunan kebijakan, dunia industri, maupun masyarakat.

Pembahasan mengenai kebaruan penelitian juga menjadi perhatian utama. Peserta diarahkan untuk menyusun argumentasi yang didukung kajian literatur terkini, hasil penelitian sebelumnya, rekam jejak tim peneliti, serta perkembangan terbaru pada bidang yang dikaji. Dengan demikian, kebaruan tidak sekadar menjadi klaim, melainkan dapat dibuktikan melalui posisi penelitian yang jelas dan kontribusi ilmiah yang spesifik.

Ayatulloh Michael Musyaffi menjelaskan bahwa konsistensi antarkomponen proposal menjadi salah satu aspek penting yang selalu diperhatikan reviewer.

“Penting untuk menjaga konsistensi antara rumusan masalah, tujuan, tahapan penelitian, metode pengumpulan dan analisis data, jadwal kegiatan, kebutuhan anggaran, serta luaran setiap tahun. Peta jalan penelitian perlu menggambarkan kesinambungan antara penelitian terdahulu, kegiatan yang sedang diusulkan, dan arah pengembangan riset setelah pendanaan berakhir,” ujar Ayatulloh Michael Musyaffi yang juga Wakil Dekan Bidang 3 FEB UNJ.

Selain substansi penelitian, penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) juga dibahas secara mendalam. Para narasumber mengingatkan bahwa setiap komponen pembiayaan harus memiliki keterkaitan langsung dengan metode penelitian dan target luaran yang ingin dicapai. Anggaran yang diajukan tidak disusun untuk memenuhi batas maksimal pendanaan, melainkan berdasarkan kebutuhan riil, standar biaya yang berlaku, serta proporsi pembiayaan sesuai pedoman RIIM Kompetisi BRIN 2026.

Setelah sesi materi, kegiatan dilanjutkan dengan pembahasan draf proposal peserta. Dalam forum tersebut, peserta memperoleh masukan secara langsung mengenai ketepatan judul penelitian, kekuatan latar belakang, kebaruan penelitian, kelayakan metode, komposisi tim peneliti, target luaran berupa publikasi ilmiah maupun kekayaan intelektual, hingga rasionalitas anggaran yang diusulkan.

Melalui proses pendampingan tersebut, peserta diharapkan tidak hanya memahami ketentuan teknis pengajuan proposal, tetapi juga mampu melihat proposal dari sudut pandang reviewer. Proposal yang baik dinilai memiliki alur yang runtut, urgensi yang jelas, kebaruan yang dapat dipertanggungjawabkan, metode yang realistis, tim yang sesuai dengan kompetensi, luaran yang terukur, serta anggaran yang efisien.

Kegiatan coaching ini menjadi bagian dari komitmen UNJ dalam memperkuat budaya riset yang berkualitas, kolaboratif, dan kompetitif. Pengalaman para penerima pendanaan RIIM diharapkan menjadi pembelajaran praktis bagi dosen dan peneliti dalam menyempurnakan proposal sebelum diajukan pada skema pendanaan RIIM Kompetisi BRIN 2026, sekaligus meningkatkan kontribusi riset UNJ terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan penyelesaian berbagai persoalan di masyarakat.