Jakarta, Humas UNJ — Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) sukses menjadi tuan rumah kegiatan Seminar Nasional yang mengangkat tema “Transformasi Pendidikan Ilmu Sosial untuk Pendidikan Tinggi yang Berdampak” dan Pelantikan Pengurus Pusat Himpunan Sarjana Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia (HISPISI) Periode 2024–2028. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, yakni pada 1–2 Agustus 2025, bertempat di Aula Latief Hendraningrat, Gedung Dewi Sartika, Kampus A UNJ, Rawamangun, Jakarta.
HISPISI merupakan organisasi nasional yang menghimpun para akademisi dari berbagai perguruan tinggi terkemuka di Indonesia yang memiliki komitmen terhadap pengembangan pendidikan ilmu-ilmu sosial. Anggota HISPISI tersebar luas di berbagai wilayah Indonesia, antara lain Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Negeri Semarang (UNNES), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Negeri Manado (UNIMA), Universitas Negeri Makassar (UNM), Universitas Pendidikan Ganesha (UNDIKSHA), Universitas Negeri Padang (UNP), Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Universitas Negeri Medan (UNIMED), serta Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA).
Keberagaman latar belakang kampus dalam keanggotaan HISPISI memperkaya diskursus dan kolaborasi antar anggota, serta menjadi bukti nyata bahwa HISPISI menjembatani kekuatan akademik lintas wilayah demi kemajuan ilmu sosial di tingkat nasional dan global. Melalui kerja sama yang solid antar institusi, HISPISI terus memperkuat perannya dalam menggelar seminar ilmiah, mendorong penerbitan akademik, merumuskan kurikulum, serta menjadi mitra strategis dalam advokasi kebijakan publik berbasis ilmu sosial.
Dalam laporan pembukaan acara, Ketua Panitia Firdaus Wajdi yang juga menjabat sebagai Dekan FISH UNJ menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan nasional ini. Ia menekankan pentingnya peran HISPISI sebagai wadah intelektual untuk pengembangan ilmu sosial di Indonesia. “Kami sebagai tuan rumah, berharap kegiatan ini dapat menjadi momentum bagi para anggota HISPISI untuk konsolidasi akademik dan kelembagaan dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berubah,” ujar Firdaus.
Sementara itu, Prof. Komarudin selaku Ketua Umum Pengurus Pusat HISPISI sekaligus Rektor UNJ menegaskan bahwa penguatan peran pendidikan ilmu-ilmu sosial sangat relevan dalam menjawab dinamika sosial masyarakat kontemporer. “HISPISI bukan hanya organisasi profesi, tetapi juga wahana strategis untuk membangun nalar kebangsaan yang kuat melalui ilmu sosial,” ungkap Prof. Komarudin dalam sambutannya.

Kegiatan hari pertama ditandai dengan pembukaan resmi serta pelantikan Pengurus Pusat HISPISI Periode 2024–2028 oleh Prof. Haryono selaku Sekretaris Dewan Pembina.
Pada arahannya Prof. Haryono menyampaikan bahwa momen pelantikan ini menjadi pemicu untuk bekerja lebih keras dan membuktikan bahwa ilmu sosial mampu memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara. Agar kita melesat bukan meleset.
Selanjutnya bagi pengurus agar menyusun program kerja yang komprehensif dan berkelanjutan serta mempublikasikannya di website agar mudah diakses oleh seluruh anggota dan masyarakat luas. Program kerja mencakup berbagai kegiatan seperti penelitian, publikasi, pelatihan, seminar dan advokasi.
“Turut serta aktif memberi masukan kepada pemerintah, dan masukan ini disampaikan melalui saluran resmi dan disusun berdasarkan kajian ilmiah serta mengusulkan juga mengenai pengaturan jumlah hari libur nasional yang ideal dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap produktivitas kerja, kesejahteraan masyarakat dan sektor pariwisata.” Pesan Prof. Haryono
Di momen yang sama, turut diluncurkan secara resmi dua laman digital, yaitu website HISPISI di https://hispisi.org/ serta website baru FISH UNJ di “ https://fish.unj.ac.id/”. Kedua website ini sebagai bagian dari transformasi digital lembaga.

Agenda berikutnya pada Hari kedua, Sabtu (2/8), diisi dengan Seminar Nasional dalam bentuk diskusi ilmiah yang menghadirkan enam pembicara, yaitu: Prof. Hariyono dari UM, Prof. Warsono dari UNESA, Prof. Cecep Darmawan dari UPI, Afriva Khaidir dari UNP, Wiwik Sri Utami dari UNESA dan Prof. Ahman Sya dari UNJ dengan moderator Kurniawati yang juga Wakil Dekan Bidang 1 FISH UNJ.
Rektor Universitas Negeri Malang, Prof. Hariyono, dalam paparannya berjudul “Transformasi Pendidikan Ilmu Sosial di Perguruan Tinggi: Membangun Sensibilitas dan Aktualitas”, menekankan bahwa ilmuwan sosial tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga berperan dalam membentuk manusia yang sadar akan realitas sosial dan memiliki kecerdasan sosial.
Ia juga menegaskan pentingnya pendidikan yang berbasis budaya dan sosial. Mengutip pemikiran Prof. Tilaar, Prof. Hariyono menyatakan bahwa karakter, kecerdasan sosial, dan keberanian untuk reflektif merupakan kunci dalam menciptakan generasi pelajar yang mampu berbakti kepada negeri.
“Pembelajaran yang kritis dan reflektif harus selalu mempertanyakan doxa dalam sains. Maka, penting bagi mahasiswa untuk mempelajari ilmu sosial guna memahami realitas sosial sekaligus potensi perubahannya,” ujarnya.

Sementara itu, Prof. Warsono, Guru Besar Universitas Negeri Surabaya, dalam materi berjudul “Pendidikan IPS untuk Membentuk Warga Negara yang Demokratis dan Bertanggung Jawab”, menekankan bahwa pendidikan IPS bertujuan membentuk warga negara yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga secara sosial dan moral.
Menurutnya, Pancasila harus menjadi landasan reflektif dalam pendidikan, dengan menolak mentah-mentah nilai-nilai kebebasan individualistik Barat yang tidak sepenuhnya relevan dengan nilai-nilai bangsa Indonesia.
“Tujuan pendidikan IPS adalah membentuk warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri, sesama, dan Tuhan. Warga negara yang kaya ilmu, sosial, dan moral,” tegasnya.
Prof. Cecep Darmawan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengangkat isu krisis dalam ilmu sosial akibat kesenjangan antara teori akademik dan realitas sosial. Ia menilai perguruan tinggi terlalu banyak menghasilkan sarjana pekerja, bukan pemikir sosial.
Ia mengusulkan transformasi pendidikan ilmu sosial melalui revolusi ilmiah, pendekatan transdisipliner, pembelajaran berbasis proyek, serta integrasi teknologi digital secara kritis.
“Pendidikan ilmu sosial harus menciptakan lulusan yang pancasilais, kritis, reflektif, dan peduli sosial,” ujarnya.

Afriva Khaidir, dalam sesi bertema “Transformasi Pendidikan Ilmu Sosial untuk Pendidikan Tinggi yang Berdampak”, menyoroti keterkaitan antara ilmu sosial dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Ia menekankan pentingnya membekali mahasiswa dengan kemampuan analisis kritis, sensitivitas sosial, dan keterampilan komunikasi untuk menjawab tantangan global secara holistik.
“Ilmu sosial harus menjadi penggerak kemanusiaan,” katanya.
Wiwik Sri Utami, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Surabaya (UNESA), dalam materi bertema “Manajemen Risiko, Kampus Berdampak, dan Berkelanjutan”, menyoroti pentingnya manajemen risiko sebagai bagian dari strategi keberlanjutan kampus.
“Kita tidak hanya bicara soal risiko ekstrem, tetapi bagaimana menjadikan risiko tinggi sebagai peluang strategis,” ujarnya.
Sebagai penutup, Prof. Ahman Sya menyampaikan materi bertema “Transformasi Pendidikan Ilmu Sosial untuk Pendidikan Tinggi Berdampak”. Ia mengingatkan bahwa makna “sarjana” dalam bahasa Sanskerta adalah “pembawa cahaya”, sehingga anggota HISPISI diharapkan terus menjadi penerang bagi masa depan bangsa.
Ia menekankan pentingnya Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS) dalam membentuk warga negara yang memahami dan menjalankan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Menurutnya, transformasi pendidikan harus dilakukan melalui kolaborasi pentahelix dan hexahelix, serta penguatan organisasi HISPISI sebagai motor perubahan.

Acara ini mendapat apresiasi dan dihadiri dari berbagai peserta yang berasal dari para dosen di lingkungan FISH UNJ dan berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Diharapkan kegiatan Seminar Nasional dan Pelantikan PP HISPISI Periode 2024–2028 menjadi langkah konkret untuk memperkuat kolaborasi antar akademisi ilmu-ilmu sosial serta memperluas kontribusi HISPISI dalam membentuk ekosistem pendidikan nasional yang progresif dan inklusif.