FMIPA UNJ Jadi Tuan Rumah Rapat Tahunan AMLI 2026, Menaker RI Tekankan Pentingnya Lulusan Siap Kerja

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. UNJ dan Communication University of Zhejiang…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Mengenal Batavia Team UNJ, Wadah Inovasi Kendaraan Hemat Energi dan Mobilitas Berkelanjutan

UNJ Tuan Rumah Sarasehan Diaspora Indramayu, Bahas Pengembangan Potensi Daerah

Dit. Mawani UNJ Apresiasi Peran Ormawa dan Opmawa Sukseskan PKKMB 2026

Kembangkan Layanan Kesehatan dan Sport Science, UNJ Resmikan UUK Pusat Rehabilitasi Medik

UNJ dan Royal University of Bhutan Jajaki Kerja Sama di Bidang Pendidikan

JAKARTA, Humas UNJ – Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Jakarta (FMIPA UNJ) menjadi tuan rumah Rapat Tahunan Asosiasi MIPA LPTK Indonesia (AMLI) Tahun 2026 yang berlangsung di Novotel Pulomas, Jakarta Timur, Kamis (6/8/2026). Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian Dies Natalis ke-62 UNJ sekaligus menjadi forum strategis bagi fakultas-fakultas MIPA dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) di Indonesia untuk membahas arah pengembangan pendidikan tinggi bidang MIPA.

Mengusung tema “Ekosistem MIPA LPTK Unggul: Integrasi Penjaminan Mutu, Inovasi Pendidikan Tinggi, dan Akselerasi Keterserapan Dunia Kerja”, pertemuan ini mempertemukan pimpinan perguruan tinggi, pengelola program studi, akademisi, serta para pemangku kepentingan untuk membahas penguatan mutu pendidikan MIPA yang selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan dunia kerja.

Dekan FMIPA UNJ, Hadi Nasbey, dalam laporan penyelenggaraan menyampaikan bahwa kepercayaan yang diberikan kepada FMIPA UNJ sebagai tuan rumah merupakan momentum untuk memperkuat kolaborasi antarfakultas MIPA LPTK di Indonesia. Menurutnya, tema yang diangkat pada AMLI 2026 merupakan refleksi atas tantangan pendidikan tinggi saat ini, di mana bidang MIPA dituntut tidak hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga adaptif dan mampu bersaing di dunia kerja. Melalui forum ini, AMLI diharapkan menjadi ruang strategis untuk memperkuat kolaborasi antarlembaga, menyelaraskan kebijakan akademik, berbagi praktik baik dalam penjaminan mutu, serta merumuskan langkah bersama guna meningkatkan kualitas pendidikan MIPA di Indonesia.

“Melalui forum ini kami berharap lahir berbagai rekomendasi strategis yang dapat memperkuat peran MIPA LPTK dalam mencetak pendidik, peneliti, dan lulusan yang mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan dunia kerja,” ujar Hadi.

Mewakili Rektor UNJ, Sekretaris Universitas, Prof. Suyono menyampaikan bahwa tema Rapat Tahunan AMLI 2026 sangat relevan dengan tantangan pendidikan tinggi di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), transformasi digital, dan perubahan kebutuhan dunia kerja. Menurutnya, LPTK bidang MIPA dituntut menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga adaptif, inovatif, dan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan masa depan.

Ia menambahkan bahwa penguatan ekosistem pendidikan MIPA perlu dibangun melalui tiga pilar utama, yakni penjaminan mutu yang berkelanjutan, inovasi pendidikan tinggi melalui pembaruan kurikulum dan penguatan riset, serta kolaborasi yang erat dengan dunia usaha, dunia industri, pemerintah, dan berbagai mitra strategis agar keterserapan lulusan semakin meningkat.

“Melalui forum AMLI ini, kami berharap lahir berbagai gagasan dan langkah bersama untuk memperkuat kualitas pendidikan MIPA di LPTK. Sinergi antarperguruan tinggi menjadi modal penting dalam menghasilkan lulusan yang adaptif, inovatif, dan mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan nasional,” ujar Prof. Suyono.

Sementara itu, Ketua Asosiasi MIPA LPTK Indonesia (AMLI), Prof. Edi Cahyono, menjelaskan bahwa rapat tahunan AMLI menjadi forum strategis bagi program studi MIPA di LPTK untuk berdiskusi dan berkolaborasi dalam menjawab berbagai tantangan pendidikan tinggi. Melalui tema yang diusung, ia berharap forum ini dapat menghasilkan inovasi, rekomendasi, dan langkah bersama untuk meningkatkan kualitas program studi serta memperkuat relevansi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja.

Sebagai keynote speaker, Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Prof. Yassierli, mengapresiasi langkah AMLI yang memperkuat sinergi antarfakultas dalam menyiapkan lulusan yang lebih siap menghadapi dunia kerja. Menurutnya, upaya tersebut sejalan dengan arahan Presiden untuk memperkuat pendidikan berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), khususnya sains, sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

“Saya sangat mengapresiasi. Ada sekian banyak dekan beserta jajarannya melakukan koordinasi dan sinergi terkait bagaimana mereka bisa mempersiapkan lulusan yang lebih baik. Ini hal yang positif dan tentu kami dukung,” ujar Yassierli usai memberikan keynote speech.

Ia menilai peluang kerja bagi lulusan MIPA sangat terbuka karena bidang sains merupakan fondasi utama dalam pengembangan STEM. Namun demikian, perguruan tinggi perlu terus meninjau kurikulum agar kompetensi yang diberikan tetap relevan dengan perkembangan dunia industri.

“Kompetensi dalam melakukan analisis, melakukan perhitungan, dan kemampuan-kemampuan dasar lainnya akan tetap dibutuhkan. Itu menjadi basic competency yang penting dimiliki para pekerja kita. Dunia industri memiliki peta kebutuhan jabatan tersendiri, sementara kampus memiliki profil lulusan yang harus terus diselaraskan,” jelasnya.

Dalam keynote speech, Yassierli juga menyoroti masih adanya kesenjangan (skill mismatch) antara kompetensi lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja. Ia mengungkapkan bahwa saat ini sekitar 900 ribu lulusan perguruan tinggi masih menganggur, sementara banyak perusahaan justru mengalami kesulitan memperoleh tenaga kerja dengan kompetensi yang sesuai.

Menurutnya, transformasi digital, perkembangan AI, ekonomi hijau, hingga perubahan pola kerja telah mengubah kebutuhan kompetensi di berbagai sektor industri. Karena itu, perguruan tinggi perlu lebih adaptif dalam memperbarui kurikulum, memperkuat kolaborasi dengan industri, serta membekali mahasiswa dengan pengalaman kerja sebelum lulus melalui program magang maupun pembelajaran berbasis proyek.

Ia juga menegaskan bahwa AI bukan hanya menghilangkan sejumlah pekerjaan, tetapi juga menciptakan profesi baru dengan kebutuhan kompetensi yang berbeda. Di masa depan, kemampuan analisis, pemecahan masalah, kreativitas, kolaborasi, serta human skills akan semakin dibutuhkan dan tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi.

Untuk mendukung transisi lulusan menuju dunia kerja, Kementerian Ketenagakerjaan terus mengembangkan berbagai program, antara lain Magang Nasional, fasilitasi sertifikasi kompetensi melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), serta pengembangan Talent and Innovation Hub di balai pelatihan vokasi. Program-program tersebut diharapkan dapat memperkecil kesenjangan kompetensi sehingga lulusan perguruan tinggi lebih siap memasuki pasar kerja.

Dalam sesi seminar, peserta memperoleh pemaparan pada talkshow pertama dari Ketua Umum LAMDIK, Prof. Muchlas Samani, dan Ketua Umum LAMSAMA, Prof. Ing. Mitra Djamal, yang membahas penguatan sistem penjaminan mutu, akreditasi, serta peningkatan kualitas penyelenggaraan pendidikan MIPA. Sementara itu, pada talkshow kedua, Kepala Tim Hilirisasi dan Industri Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Adhi Indra Hermanu, yang hadir mewakili Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Mohammad Fauzan Adziman, memaparkan kebijakan penguatan riset, hilirisasi inovasi, serta kolaborasi antara perguruan tinggi dan sektor industri sebagai bagian dari strategi peningkatan daya saing nasional.

Rapat Tahunan AMLI 2026 tidak hanya menjadi forum diskusi akademik, tetapi juga ruang konsolidasi bagi fakultas-fakultas MIPA LPTK untuk memperkuat jejaring kerja sama. Berbagai isu strategis, mulai dari pengembangan kurikulum, peningkatan kapasitas dosen, penguatan riset kolaboratif, hingga implementasi kebijakan pendidikan tinggi menjadi bagian dari agenda yang dibahas.