GOR UNJ Jadi Tuan Rumah SEA Deaf Games Tahun 2025

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. UNJ Kembali Pertahankan Predikat “Badan Publik…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Jawab Tantangan “Mismatch” Dunia Kerja, UNJ Siapkan Ratusan Skema Sertifikasi Kompetensi Futuristik

FISH UNJ Gelar Employer Meeting untuk Perkuat Lulusan Adaptif dan Kompeten dalam Dunia Kerja

Batavia Team UNJ Raih Juara 5 Kategori Battery Electric di Shell Eco-Marathon Asia Pacific and the Middle East 2026

Comdev Program EQUITY UNJ Hadirkan Trauma Healing bagi Siswa di Daerah Rawan Bencana Cianjur

FT UNJ Gelar Employer Meeting 2026, Perkuat Kolaborasi Industri untuk Revitalisasi Kurikulum Berbasis OBE dan Kebutuhan Dunia Kerja

Jakarta, Humas UNJ – Gedung Olahraga (GOR) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menjadi salah satu venue penyelenggaraan ajang olahraga internasional SEA Deaf Games (SDG) II yang berlangsung pada 20–26 Agustus 2025. Kompetisi ini mempertemukan atlet tunarungu dari 11 negara Asia Tenggara dengan mengusung semangat “Winning Through Unity”.

SEA Deaf Games 2025 mempertandingkan enam cabang olahraga, yaitu atletik, bulu tangkis, boling, catur, futsal, dan tenis meja. Penyelenggaraan ajang ini berada di bawah koordinasi Perhimpunan Olahraga Tunarungu Indonesia (Porturin) yang ditunjuk oleh ASEAN Deaf Sports Federation.

Tujuan utama dari SEA Deaf Games adalah mendorong inklusivitas dalam dunia olahraga bagi komunitas tunarungu di kawasan Asia Tenggara. Selain itu, ajang ini juga menjadi wadah untuk meningkatkan prestasi dan membangun sportivitas para atlet tunarungu, baik di tingkat regional maupun nasional.

Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) UNJ, Prof. Nofi Marlina Siregar, menyampaikan rasa bangganya atas terpilihnya GOR UNJ sebagai salah satu lokasi penyelenggaraan SEA Deaf Games 2025. Menurutnya, hal ini menjadi bukti bahwa fasilitas olahraga UNJ telah memenuhi standar internasional.

“Keterlibatan ini menjadi bukti bahwa fasilitas olahraga UNJ telah memenuhi standar internasional dan mampu mendukung penyelenggaraan event olahraga multinasional yang inklusif bagi penyandang disabilitas,” ujarnya.

Lebih lanjut, Prof. Nofi menambahkan bahwa penggunaan GOR UNJ dalam ajang ini memberikan dampak positif, antara lain menunjukkan komitmen UNJ dalam mendukung olahraga inklusif dan kesetaraan akses bagi atlet disabilitas, memberikan pengalaman langsung kepada civitas akademika dalam mendukung event internasional, serta meningkatkan reputasi UNJ sebagai institusi pendidikan yang peduli terhadap keberagaman dan sportivitas.

GOR UNJ digunakan sebagai lokasi upacara pembukaan dan penutupan SEA Deaf Games 2025 yang berlangsung pada 21–25 Agustus 2025. Prof. Nofi berharap keterlibatan UNJ dalam ajang ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat peran universitas dalam mendukung olahraga disabilitas.

“Semoga GOR ini terus menjadi pusat kegiatan olahraga yang mendunia dan ramah disabilitas, serta menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan masyarakat luas untuk lebih peduli dan inklusif melalui peran olahraga,” tutupnya.

Sementara itu Prof. Komarudin selaku Rektor UNJ mengatakan bahwa UNJ merasa bangga dan bersyukur karena Gedung Olahraga (GOR) UNJ dipercaya menjadi salah satu tuan rumah penyelenggaraan SEA Deaf Games II Tahun 2025. Kehadiran event olahraga internasional ini di kampus kita bukan hanya menegaskan bahwa fasilitas UNJ telah diakui berstandar internasional, tetapi juga menjadi simbol komitmen kami terhadap inklusivitas dan kesetaraan dalam dunia olahraga, ungkap Prof. Komarudin.

Prof. Komarudin menambahkan bahwa melalui ajang ini, UNJ ingin menunjukkan bahwa olahraga adalah ruang yang merangkul semua, tanpa terkecuali, serta menjadi medium untuk memperkuat solidaritas, sportivitas, dan persaudaraan di antara bangsa-bangsa Asia Tenggara. Semoga pengalaman ini menjadi inspirasi bagi sivitas akademika UNJ dan masyarakat luas untuk terus mendukung keberagaman dan pemberdayaan, khususnya bagi komunitas disabilitas, tambah Prof. Komarudin.