Jakarta, Humas UNJ – Dalam pidato Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) pada prosesi wisuda Semester Genap Tahun Akademik 2024/2025 Gelombang I, Senin (6/10), nama Muhammad Izat disebut sebagai salah satu mahasiswa berprestasi. Ia berhasil meraih Bronze Medalist dalam kategori Research Project for College Students pada ajang The 2nd International Conference of Biology for Student x Open Bioproject Competition 2023.
Izat merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNJ yang dikenal sebagai sosok yang tekun, berdedikasi, dan penuh semangat dalam menempuh pendidikan. Lulusan sarjana UNJ ini kini melanjutkan studi ke jenjang magister melalui program fast track yang merupakan jalur percepatan pendidikan yang hanya diikuti oleh mahasiswa dengan capaian akademik unggul.
Lahir dan besar di Utan Kayu Selatan, Jakarta Timur, Izat berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya, yang berasal dari Pekalongan, Jawa Tengah, dahulu berprofesi sebagai pedagang sayur keliling sebelum jatuh sakit pada 2016. Ibunya, yang berasal dari Kuningan, Jawa Barat, kini bekerja sebagai guru bantu di TK Mentari Kayu Manis.

“Ayah dulu pedagang sayur keliling, tapi sejak 2016 beliau jatuh sakit dan tidak lagi bekerja. Ibu kemudian menjadi guru bantu di TK,” kenang Izat.
Sejak kecil, Izat menunjukkan minat besar terhadap dunia sains dan pendidikan. Ia mengawali pendidikan di SDN 19 Petang Jakarta dan sejak duduk di bangku SMP sudah aktif membantu teman-temannya belajar.
“Saya tertarik dengan dunia pendidikan karena sejak SMP sudah sering mengajar teman-teman. Biologi membuat saya kagum pada keajaiban kehidupan,” ujarnya.
Izat merupakan penerima beasiswa Kartu Jakarta Pintar (KJP) sejak SD dan melanjutkan dengan Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU) saat kuliah. Beasiswa tersebut menjadi penopang utama dalam menyelesaikan pendidikan tinggi di UNJ.
“Beasiswa ini bukan sekadar bantuan biaya kuliah, tapi juga kesempatan untuk terus melangkah. Saya ingin menunjukkan bahwa latar belakang sederhana bukan alasan untuk berhenti bermimpi,” tegasnya.
Setelah menyelesaikan studi sarjana, Izat diterima di Program Fast Track Pendidikan Biologi UNJ. Program ini memungkinkan mahasiswa menempuh studi magister lebih cepat, dengan dua semester awal magister dijalani bersamaan dengan penyusunan skripsi sarjana.
“Rasanya sangat senang bisa ikut fast track karena setelah lulus S1, saya langsung lanjut ke semester tiga di jenjang S2,” jelasnya.
Program ini juga memberikan efisiensi biaya karena dua semester awal magister sudah termasuk dalam biaya kuliah sarjana. “Itu jadi motivasi tersendiri. Program ini sangat membantu mahasiswa berprestasi yang memiliki keterbatasan ekonomi,” tambahnya.
Izat mengenal program fast track dari Koordinator Program Studi Pendidikan Biologi dan seniornya, Aulia, yang merupakan peserta angkatan pertama. Ia menjadi satu dari dua mahasiswa yang diterima di angkatannya.
Menjalani dua jenjang pendidikan sekaligus bukan hal mudah. Izat harus membagi waktu antara kuliah S2, penyusunan skripsi, dan berbagai kegiatan organisasi kampus. Ia aktif di BEMP Pendidikan Biologi, Bengkel Sastra UNJ, dan Duta UNJ.
“Tantangan terbesar adalah membagi waktu dan energi. Tapi saya belajar memprioritaskan hal-hal penting dan tidak menunda pekerjaan,” ujarnya.
Pengalaman sebagai Duta UNJ membantunya mengasah kemampuan komunikasi dan manajemen waktu. “Setiap kegiatan menjadi ruang belajar di luar kelas,” katanya.

Untuk menjaga prestasi akademik, Izat konsisten mengikuti perkuliahan, memperdalam materi, dan berlatih TOEFL sebagai syarat fast track. “Saya selalu berusaha menjaga IPK agar tidak turun. Dosen-dosen UNJ juga sangat suportif dan mudah dihubungi,” ungkapnya.
Kini, di jenjang magister, Izat tengah mengembangkan riset terkait media pembelajaran berbasis Artificial Intelligence (AI). Ia percaya bahwa teknologi dan pendidikan harus berjalan beriringan.
“Perkuliahan magister menuntut tanggung jawab lebih besar. Tapi saya menikmati prosesnya karena saya tahu arah dan tujuannya,” ucapnya.
Meski penuh tantangan, Izat tak pernah menyerah. Ia selalu mengingat perjuangan orang tuanya sebagai sumber semangat. “Sering sekali ingin menyerah. Tapi kalau ingat ibu, ayah, dan usaha sejauh ini, saya tidak tega berhenti,” tuturnya.
Bagi Izat, program fast track bukan hanya tentang percepatan studi, tetapi juga efisiensi waktu, biaya, dan kesiapan mental. “Fast track mengajarkan saya disiplin dan tanggung jawab. Jalur ini ideal untuk mahasiswa yang punya target tinggi dan siap berkomitmen,” ujarnya.
Ia berpesan kepada mahasiswa sarjana UNJ yang ingin mengikuti jejaknya:
“Terus belajar, jangan takut mencoba, dan jalani setiap tanggung jawab sebaik mungkin. Lelah itu pasti, tapi hasilnya akan sepadan.”
Ketika diminta merangkum perjalanannya dalam satu kata, Izat menjawab: “Menggelorakan. Karena proses belajar dan hidup ini melelahkan sekaligus membakar semangat, ucapnya.