Jakarta, Humas UNJ — Dalam upaya meningkatkan standar pelayanan kehumasan dan keprotokoleran di lingkungan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) oleh duta universitas maupun fakultas, Kantor Humas dan Informasi Publik UNJ menyelenggarakan pelatihan bertajuk “Pelatihan Kehumasan dan Keprotokoleran bagi Duta di Lingkungan Universitas Negeri Jakarta”. Kegiatan berlangsung pada Rabu, 9 Juli 2025 dan bertempat di Gedung Syafei, Kampus UNJ.
Pada pelatihan ini dibuka oleh Masus Subekti yang mewakili Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Sistem Informasi, Prof. Fahrurrozi. Dalam sambutannya, Masus menyampaikan pentingnya pelatihan kehumasan dan keprotokoleran bagi para Duta Universitas dan Fakultas.
“Kegiatan ini bersifat eksklusif. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk memperoleh keterampilan seperti ini,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keterampilan kehumasan dan keprotokoleran tidak hanya berguna saat menjalankan tugas sebagai duta, tetapi juga bermanfaat untuk pengembangan karier di masa depan, terutama dalam hal keluwesan berkomunikasi dan menjaga sikap.

“Menjadi duta bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga representasi dari lembaga. Pelayanan terhadap tamu mencerminkan citra institusi,” tambahnya.
Masus juga menekankan bahwa seorang duta tidak hanya bertugas melayani, tetapi juga harus mampu menghormati setiap tamu yang hadir serta memiliki kemampuan tambahan seperti menjadi pembawa acara (MC), liaison officer, dan pemandu kegiatan. Ia mengingatkan bahwa padatnya aktivitas menuntut para Duta memiliki kondisi fisik yang prima agar dapat menjalankan tugas dengan optimal.
Pelatihan ini menghadirkan narasumber Widya Parimita, Kepala Humas UNJ tahun 2011 yang juga Kepala BPU UNJ, yang membawakan materi bertema “Keprotokolan Duta UNJ dan Duta Fakultas”. Dalam paparannya, Widya menyampaikan bahwa kehadiran Duta merupakan bagian dari strategi branding universitas kepada publik.
“Melalui peran duta, gagasan branding universitas dapat diwujudkan melalui sikap dan pelayanan yang ditampilkan,” jelasnya.
Widya juga membahas peran strategis Humas dan Keprotokoleran, termasuk pengertian, regulasi, fungsi, unsur, etika, serta praktik keprotokoleran. Ia menekankan pentingnya pemahaman terhadap tata tempat kegiatan, tata hormat kepada tamu, dan dampak citra duta terhadap citra lembaga.
“Keterampilan menjadi duta adalah kemampuan untuk menjadi diri sendiri yang kehadirannya perlu dilatih,” ujarnya.
Widya menambahkan bahwa banyak lulusan UNJ yang pernah menjadi duta kini memiliki karier yang baik, sebagai hasil dari keterampilan yang mereka peroleh selama menjalankan peran tersebut.
Narasumber lainnya, Mercy Lona Silitonga, Certified Public Relations dan Assessor Certified Public Relations, membawakan materi bertema “Dasar Public Speaking Kehumasan dan Karakter Duta”. Ia menekankan pentingnya kemampuan berbicara di depan umum dalam menunjang karier dan membangun koneksi.
“Berbicara itu ada ilmunya. Tujuannya bukan hanya menyampaikan pesan, tetapi juga memengaruhi dan membangun hubungan dengan audiens,” tuturnya.
Menurut Mercy, public speaking berbeda dengan public talking karena tidak hanya berbicara, tetapi juga menciptakan interaksi yang hidup dan bermakna.
Kegiatan pelatihan ditutup dengan sesi praktik storytelling oleh para Duta dari masing-masing fakultas dan Duta Universitas, serta pemaparan ringkas materi penutup.