Kenalkan SDGs Lewat Permainan Edukatif, Siswa SMA Labschool Cibubur Menang di Kompetisi Internasional I3C dan IWC 2026

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Refleksi Hardiknas Dalam Kilasan Pemikiran Tiga…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Dosen FT UNJ Latih UMKM Jatinegara Kaum Kembangkan Produk Singkong dan Pemasaran Digital

Dosen FT UNJ Latih Kader PKK Jatinegara Kaum Jadi Affiliate TikTok

Dua Mahasiswa UNJ Melaju ke Pilmapres Nasional 2026

Dosen UNJ Bekali Warga Kampung Melayu Keterampilan Jahit dan Pemasaran Digital

FEB UNJ Terima Benchmarking Pengembangan Magister Manajemen UAI

Jakarta, Humas UNJ – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh siswa SMA Labschool Cibubur di kancah internasional. Melalui inovasi permainan edukatif bertajuk “Balancing SDGs”, tim yang terdiri atas Inspira Ainunnisa, Audrey Trista Farras, Nira Ayu Latifa, Aurellia Salsabila Ayumni, dan Khansa Qanitha Partakusuma berhasil meraih Platinum Award pada ajang International Invention and Innovation Competition (I3C) and Innovation World Cup (IWC) 2026 yang diikuti oleh 211 tim  dari berbagai negara dengan total peserta mencapai 1.266 orang. Ajang ini diselenggarakan di Aula Latief Hendraningrat, Kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rawamangun, Jakarta Timur, pada 6 Juni 2026.

Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa kreativitas dan kepedulian generasi muda terhadap isu global dapat diwujudkan melalui inovasi yang sederhana, edukatif, dan menyenangkan. Melalui permainan “Balancing SDGs”, para siswa menghadirkan media pembelajaran interaktif yang bertujuan meningkatkan pemahaman anak-anak dan remaja mengenai 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Permainan ini mengombinasikan konsep menara balok ala Jenga dengan kartu edukatif yang berisi berbagai pertanyaan dan tantangan terkait isu-isu pembangunan berkelanjutan. Melalui pendekatan tersebut, proses belajar tidak lagi terasa seperti kegiatan akademik yang kaku, melainkan menjadi pengalaman bermain yang menarik sekaligus bermakna.

Menurut Audrey Trista Farras, gagasan mengembangkan permainan tersebut berangkat dari hasil pengamatan mereka terhadap masih rendahnya tingkat literasi SDGs di kalangan pelajar. Padahal, SDGs merupakan agenda global yang akan menjadi arah pembangunan dunia hingga tahun 2030.

“Di lingkungan sekolah kami masih banyak siswa yang belum memahami SDGs. Padahal tujuan pembangunan berkelanjutan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Karena itu kami ingin menghadirkan media belajar yang menyenangkan, mudah dipahami, dan dapat dimainkan bersama,” ujar Audrey.

Permainan “Balancing SDGs” terdiri atas tiga komponen utama, yaitu menara balok, kartu pertanyaan, dan kartu SDGs. Dalam setiap putaran permainan, peserta harus mencocokkan berbagai permasalahan atau situasi yang terdapat pada kartu pertanyaan dengan tujuan SDGs yang paling relevan. Apabila jawaban yang diberikan kurang tepat, pemain harus mengambil balok dari menara permainan, sehingga menambah tantangan dan keseruan selama bermain.

Inspira Ainunnisa menjelaskan bahwa konsep tersebut tidak hanya dirancang untuk meningkatkan pemahaman mengenai SDGs, tetapi juga mengembangkan berbagai keterampilan penting abad ke-21 seperti berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, konsentrasi, dan pengendalian emosi.

“Melalui permainan ini peserta tidak hanya belajar tentang SDGs, tetapi juga belajar bekerja sama, berpikir kritis, fokus, dan bersabar ketika menghadapi tantangan dalam permainan,” jelas Inspira.

Di balik keberhasilan meraih penghargaan internasional, tim mengaku harus bekerja keras menyelesaikan pengembangan produk dalam waktu sekitar satu bulan. Seluruh komponen permainan masih dibuat secara manual (handmade) di tengah padatnya aktivitas akademik dan pelaksanaan ujian akhir tahun.

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, kerja keras tersebut terbayar ketika dewan juri internasional memberikan apresiasi tinggi terhadap inovasi yang mereka kembangkan. Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi tim adalah ketika para juri tidak hanya menilai presentasi dan produk, tetapi juga ikut memainkan permainan secara langsung.

“Para juri memberikan banyak masukan yang sangat berharga. Mereka bahkan mencoba memainkan game kami dan memberikan perspektif baru tentang bagaimana permainan ini dapat semakin mudah dipahami oleh anak-anak,” tutur Audrey.

Melalui pencapaian ini, tim berharap “Balancing SDGs” dapat menjadi sarana pembelajaran yang efektif untuk memperkenalkan pembangunan berkelanjutan kepada generasi muda sejak dini. Mereka juga berharap inovasi tersebut dapat menginspirasi lebih banyak pelajar untuk berkontribusi dalam menjawab berbagai tantangan sosial, lingkungan, dan ekonomi melalui kreativitas serta inovasi.

Prestasi yang diraih siswa SMA Labschool Cibubur ini menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus lahir dari teknologi yang kompleks. Dengan ide yang relevan, semangat kolaborasi, dan kepedulian terhadap masa depan, generasi muda Indonesia mampu menghadirkan solusi edukatif yang berdampak serta memperoleh pengakuan di tingkat internasional.