Kiprah Kinkin Yuliaty Subarsa Putri dalam Kembangkan Ilmu Komunikasi dan Literasi Media

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Perkuat Pemeringkatan Internasional Kampus, UNJ Turut…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

UNJ Gelar Program Pengembangan Karakter bagi Mahasiswa Mappi

UNJ Lantik Kepala Bagian dan Kepala Subbagian Labschool Periode 2026–2030

Fragmen Suara Abadi, Resital Mahasiswa Pendidikan Musik FBS UNJ

UNJ Jajaki Kerja Sama Internasional dengan Royal Thai Army untuk Pengembangan SDM

Dua Mahasiswi UNJ Berhasil Taklukkan Puncak Gokyo Ri Nepal

Jakarta, Humas UNJ – Menjadi dosen bukanlah cita-cita awal bagi Kinkin Yuliaty Subarsa Putri, melainkan panggilan hati yang tumbuh dari rasa ingin tahu mendalam terhadap pentingnya komunikasi. Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) ini memulai perjalanan akademiknya di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI), dari jenjang sarjana dan magister. Ia kemudian melanjutkan studi doktoral di Universitas Padjadjaran (Unpad). Ia mulai bergabung sebagai dosen di UNJ pada tahun 2006.

Pada awal kariernya di dunia pendidikan tinggi, Kinkin menyadari bahwa komunikasi bukan sekadar teori, melainkan ilmu yang dinamis dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Kesadaran inilah yang mendorongnya menulis buku ajar yang lahir dari evaluasi pembelajaran, kebutuhan mahasiswa, serta hasil penelitian. Mulai tahun 2008, ia konsisten menerbitkan buku ajar, lalu pada 2017 menjalin kerja sama dengan penerbit RajaGrafindo. Hingga kini, hampir setiap tahun ia tetap produktif melahirkan karya baru.

“Awalnya saya menulis untuk kebutuhan mata kuliah. Tapi lama-lama berkembang, karena literasi media itu bisa masuk ke berbagai bidang—kesehatan, politik, ekonomi, bahkan bencana dan pariwisata,” ujarnya.

Sumber : Dokumentasi pribadi Kinkin Yuliaty sebagai dosen praktisi dan bedah buku Komunikasi Kesehatan 2025

Buku-buku karya Kinkin kini tidak hanya digunakan di UNJ, tetapi juga dirujuk oleh mahasiswa dan dosen dari berbagai perguruan tinggi, terutama di bidang kesehatan. Ketertarikannya terhadap literasi media bermula sejak masa kuliah, ketika ia menyadari bahwa meskipun teknologi berkembang pesat, kemampuan masyarakat dalam memahami informasi masih rendah.

“Kepemilikan media seperti telepon genggam tinggi, tapi literasi medianya masih perlu ditingkatkan. Itu sebabnya saya fokus pada literasi media lebih dari 15 tahun terakhir,” tuturnya.

Bagi Kinkin, literasi bukan sekadar konsep akademis, melainkan bagian dari tanggung jawab sosial. Ia aktif memberikan edukasi kepada berbagai komunitas, termasuk lansia di Jakarta melalui program Sekolah Lansia yang bekerja sama dengan UNJ. Dalam program tersebut, ia mengajarkan cara membedakan informasi valid dan hoaks, terutama yang beredar di media sosial.

Literasi media menjadi benang merah dalam hampir seluruh karya tulisnya, seperti Literasi Media bagi Kecerdasan Manusia (2019), Literasi Media Digital (2024), serta buku-buku bertema literasi di bidang kesehatan, pendidikan, dan politik.

“Literasi media itu tidak terbatas pada media baru. Bisa melalui film, lagu, atau buku. Intinya, bagaimana masyarakat memahami isi pesan, bukan sekadar mengonsumsi,” jelasnya.

Sumber : Dokumentasi pribadi Kinkin Yuliaty sebagai dosen praktisi dan bedah buku Komunikasi Kesehatan 2025

Salah satu perhatian besar Kinkin adalah isu komunikasi kesehatan. Ia menyoroti bahwa hal-hal sederhana seperti mencuci tangan dan menjaga kesehatan gigi masih sering diabaikan, padahal berdampak besar terhadap kualitas hidup masyarakat.

“Fokus saya sebenarnya sederhana, hanya pada dua hal: cuci tangan dan sikat gigi. Tapi faktanya, dua hal ini sering diabaikan. Padahal kesehatan gigi, misalnya, sangat memengaruhi kualitas hidup. Banyak penyakit serius berawal dari masalah gigi,” ungkapnya.

Isu tersebut melahirkan sejumlah buku, termasuk Komunikasi Kesehatan (2021, 2022, dan 2025), yang kini menjadi rujukan penting di beberapa program studi Kesehatan dan olah raga di Indonesia.

“Saya agak kaget ketika rumpun kesehatan menjadikan buku saya sebagai referensi utama untuk mata kuliah. Itu membuat saya makin yakin bahwa komunikasi kesehatan memang sangat dibutuhkan,” ujarnya.

Sumber : Dokumentasi pribadi Kinkin Yuliaty pada bedah buku Strategi Komunikasi & Statistik Sosial Tahun 2019

Pada tahun 2022, Kinkin menerbitkan Komunikasi Kesehatan dan Hoaks, yang membahas bahaya disinformasi di bidang kesehatan. Ia menilai bahwa media sosial dapat berdampak lebih besar daripada senjata biologis.

“Ketika netizen berkomentar sembarangan, dampaknya bisa seperti bom psikologis. Itu bisa menimbulkan ketakutan massal. Karena itu, semua pihak—pemerintah, media, akademisi, dan masyarakat—harus bertanggung jawab,” tegasnya.

Kinkin juga menyoroti tantangan literasi media di era kecerdasan buatan. Dalam Literasi Media Digital (2024), ia membahas manipulasi visual dan teks berbasis AI, meski sempat ingin mengubah isi bukunya karena perkembangan teknologi yang sangat cepat.

“Sebenarnya saya ingin mengganti konten buku itu ketika ChatGPT muncul, tapi naskah sudah masuk tahap penyuntingan. Akhirnya saya putuskan untuk menyiapkan edisi baru di tahun 2026,” kisahnya.

Sumber : Dokumentasi pribadi Kinkin Yuliaty pada bedah buku Strategi Komunikasi & Statistik Sosial Tahun 2019

Ia menambahkan, “AI membuat literasi semakin menantang. Misalnya foto yang dimodifikasi, wajah bisa asli tapi tubuhnya tidak. Kalau orang tidak kritis, mereka mudah percaya. Itu sebabnya literasi media harus diperkuat.”

Bagi Kinkin, peran dosen tidak berhenti di ruang kelas. Ia memandang mengajar, meneliti, dan menulis sebagai satu kesatuan dalam Tridharma Perguruan Tinggi.

“Tridharma harus berkesinambungan. Mengajar, meneliti, dan menulis tidak bisa dipisahkan,” ujarnya.

Pengalaman mengajar di UNJ menjadi ruang interaksi yang dinamis. Ia kerap mengajak mahasiswa meneliti fenomena komunikasi, mewawancarai narasumber, hingga memproduksi konten. Dari proses tersebut lahir berbagai temuan menarik, seperti perilaku anak muda dalam dunia gim dan kajian komunikasi lintas budaya.

Sumber : Dokumentasi pribadi Kinkin Yuliaty pada bedah buku tahun 2021

“Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNJ itu sangat kreatif dan inovatif. Saya tidak hanya mengajar, tapi juga ikut belajar dari mereka. Kadang mereka menemukan hal baru yang bahkan saya sendiri belum tahu,” ungkapnya.

Menurut Kinkin, setiap program studi komunikasi di Indonesia memiliki kekhasan masing-masing. UNJ, misalnya, menonjol di bidang komunikasi bisnis.

“Kenapa komunikasi bisnis? Karena ke depan orang akan membutuhkan transaksi yang berjalan dengan komunikasi kuat, baik individu maupun antarorganisasi. Ini yang membuat Ilmu Komunikasi UNJ punya kekhasan sendiri dibanding prodi lain,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa perkembangan komunikasi di Indonesia sangat pesat karena menjadi irisan dari berbagai ilmu sosial.

Sumber : Dokumentasi pribadi Kinkin Yuliaty pada bedah buku Strategi Komunikasi & Statistik Sosial Tahun 2019

“Komunikasi itu irisan dari berbagai bidang—politik, kesehatan, pendidikan, ekonomi. Itulah yang membuatnya selalu dibutuhkan,” tambahnya.

Menutup wawancara, Kinkin berpesan kepada mahasiswa Ilmu Komunikasi UNJ agar terus berinovasi dan berkontribusi.

“Saya berharap mahasiswa UNJ punya ciri khas, keterampilan, dan dampak nyata bagi masyarakat. Jangan menunggu lulus untuk bermanfaat, sejak di bangku kuliah pun sudah bisa berkontribusi,” pungkasnya.

Dengan konsistensi menulis, dedikasi terhadap literasi, serta komitmen mendidik generasi muda, Kinkin Yuliaty Subarsa Putri membuktikan bahwa dosen bukan hanya pengajar, tetapi juga peneliti dan penulis produktif yang memberi manfaat nyata bagi ilmu komunikasi dan masyarakat luas.