Kiprah Prof. Setia Budi, Guru Besar Muda FMIPA UNJ yang Visioner dan Inovatif Pada Riset Energi dan Lingkungan Berkelanjutan

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Perkuat Pemeringkatan Internasional Kampus, UNJ Turut…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

UNJ Gelar Program Pengembangan Karakter bagi Mahasiswa Mappi

UNJ Lantik Kepala Bagian dan Kepala Subbagian Labschool Periode 2026–2030

Fragmen Suara Abadi, Resital Mahasiswa Pendidikan Musik FBS UNJ

UNJ Jajaki Kerja Sama Internasional dengan Royal Thai Army untuk Pengembangan SDM

Dua Mahasiswi UNJ Berhasil Taklukkan Puncak Gokyo Ri Nepal

Jakarta, Humas UNJ — Prof. Setia Budi, Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Jakarta (UNJ), merupakan sosok inspiratif dalam dunia akademik dan riset. Di usia yang relatif muda, Guru Besar Bidang Ilmu Kimia Material ini berhasil meraih jabatan akademik tertinggi berkat ketekunan, kerja keras, dan dedikasinya terhadap penelitian, khususnya di bidang Kimia Material.

“Alhamdulillah, semua ini atas izin dan karunia Allah SWT. Saya tidak pernah menargetkan kapan harus menjadi guru besar. Saya hanya mengikuti alur, meneliti dan menulis sesuai minat, sebagai bagian dari tigas tridharma perguruan tinggi,” ujar Prof. Setia Budi saat ditemui tim Humas UNJ.

Minatnya terhadap sains tumbuh sejak masa sekolah dan semakin berkembang saat menempuh studi magister di Malaysia. Di sana, ia memperoleh akses ke laboratorium berfasilitas lengkap yang memperkuat ketertarikannya pada riset nanomaterial.

Namun, tantangan muncul ketika kembali ke Indonesia, di mana fasilitas riset masih terbatas. Hal ini tidak menyurutkan semangatnya. Ia aktif membangun jejaring dengan peneliti luar negeri dan mengajukan pendanaan riset kompetitif.

“Tahun 2015 saya mendapatkan hibah nasional pertama dari DIKTI. Alhamdulillah,  sejak itu, saya selalu memperoleh dana penelitian kompetitif nasional setiap tahun,” tuturnya.

Berbagai hibah dari Direktorat Pendidikan Tinggi, BRIN, hingga LPDP turut mendukung pengembangan risetnya. Fokus utama Prof. Setia Budi adalah pengembangan material berstruktur nano dalam bentuk thin film untuk teknologi energi bersih, seperti photoelectrochemical water splitting dan ethanol fuel cell.

Selain itu, ia juga mengembangkan material fotokatalis untuk menguraikan limbah organik berbahaya, seperti pewarna sintetis pada industri tekstil dan batik. “Kami berharap hasil riset ini dapat menjadi solusi bagi UKM batik yang belum memiliki instalasi pengolahan limbah (IPAL),” jelasnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok risetnya mulai mengeksplorasi lapisan tipis untuk antioksidan dan antiaging yang berpotensi diterapkan dalam industri kosmetik.

“Riset yang kami lakukan memang belum langsung bisa dimanfaatkan. Namun, jika dikembangkan secara konsisten, kami berharap dapat berkontribusi terhadap target nasional net zero emission 2060 dan solusi bagi masalah lingkungan,” ujarnya.

Prof. Setia Budi juga memiliki pengalaman riset yang berkesan di Jepang. Melalui program sandwich di Japan Advanced Institute of Science and Technology (JAIST) pada 2016, tempat dimana ia menyelesaikan riset untuk disertasi S3.

“Laboratorium di Jepang buka 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Komitmen mereka terhadap riset luar biasa. Itulah yang membuat teknologi mereka sangat maju meskipun sumber daya alamnya terbatas,” ungkapnya.

Ia juga menjalin kolaborasi dengan berbagai universitas di Jepang, Malaysia, Arab Saudi, Uzbekistan, dan sejumlah negara di Eropa. Kolaborasi tersebut mencakup pertukaran pengetahuan, akses fasilitas riset, hingga pengembangan material fungsional bersama.

“Sebagian besar riset saya berangkat dari permasalahan nyata, seperti kebutuhan katalis murah dan stabil untuk energi bersih atau pengolahan limbah berbahaya. Dengan pendekatan ini, hasil penelitian diharapkan tidak hanya dapat berkontribusi pada ilmu pengetahuan, tetapi juga bermanfaat langsung bagi masyarakat dan industri,” katanya.

Sebagai Guru Besar FMIPA UNJ, Prof. Setia Budi berkomitmen melanjutkan riset strategis di bidang kimia material yang berdampak nyata. Dalam lima tahun ke depan, ia berharap dapat mewujudkan sistem penguraian limbah aliran kontinu berbasis fotokatalisis yang dapat digunakan oleh UKM batik di Indonesia.

Ia juga menekankan pentingnya peran UNJ dalam riset nasional. “UNJ telah menunjukkan keinginan yang positif untuk membangun riset yang berkualitas. Tantangannya adalah bagaimana mewujudkannya dalam sistem dan kultur yang mendukung. Jika atmosfer riset berhasil dibangun dan secara bertahap ditopang dengan pengembangan prasarana dan sarana riset yang memadai, UNJ memiliki potensi untuk menjadi bagian dari ekosistem riset dan inovasi nasional,” pungkasnya.

Bagi Prof. Setia Budi, menjadi akademisi berarti memberi nilai dan dampak bagi orang lain. “Saya ingin keberadaan saya bermanfaat, baik bagi keluarga, mahasiswa, maupun institusi. Itu tantangan yang tidak mudah, tapi menjadi prinsip yang saya pegang dan ikhtiarkan,” tuturnya.

Ia juga berpesan kepada mahasiswa dan peneliti muda untuk belajar dengan tulus. “Belajarlah dengan tulus, bukan sekadar untuk lulus. Ketika belajar melakukan riset, jangan takut gagal, karena kegagalan adalah bagian dari proses menemukan,” tutupnya.