Jakarta, Humas UNJ – Perjalanan penuh perjuangan mengantarkan Abdul Muin Program Magister Pendidikan Geografi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) meraih predikat wisudawan terbaik dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,87. Capaian ini bukan sekadar angka, melainkan hasil dari proses panjang yang sarat makna, ketekunan, serta doa dan dukungan keluarga.
Abdul Muin mengaku tidak menyangka dapat mencapai titik tersebut. “Rasanya campur aduk antara bahagia dan haru. Selama kuliah, saya benar-benar ditempa, bukan hanya secara akademik, tetapi juga cara berpikir dan memandang persoalan, khususnya terkait lingkungan dan pembangunan wilayah,” ungkapnya saat diwawancarai oleh Tim Humas pada 15 April 2026 pada acara Wisuda UNJ Tahun Akademik 2025/2026 Sesi III di GOR UNJ.
Selama menempuh studi di Program Magister Pendidikan Geografi FISH UNJ, ia menghadapi berbagai tantangan, terutama saat menyusun tesis. Namun, fase itu justru menjadi titik pembelajaran penting tentang kesabaran, konsistensi, dan ketahanan diri.
Bagi Abdul Muin, pendidikan bukan sekadar meraih gelar, tetapi menjadi bekal untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, khususnya dalam pembangunan desa berkelanjutan.
Motivasi utama yang mendorongnya meraih prestasi tinggi adalah komitmen untuk memberikan hasil terbaik dari setiap kesempatan. Ia memandang studi sebagai amanah yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh.
“Capaian ini bukan hanya tentang IPK, tetapi hasil dari proses panjang yang dijalani dengan disiplin, doa, dan konsistensi,” ujarnya.
Ketertarikannya pada isu lingkungan, sumber daya alam, dan pembangunan wilayah menjadi alasan utama memilih bidang studi geografi. Ia melihat bahwa ilmu geografi memiliki peran strategis dalam memahami potensi daerah serta merancang pembangunan berbasis kearifan lokal.
Di balik keberhasilannya, terdapat peran besar keluarga, terutama sang istri dan orang tua. Dukungan moral dan doa yang terus mengalir menjadi sumber kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan selama studi.
Ia juga mengenang perjuangan sang ibu yang berprofesi sebagai petani. Dengan kondisi ekonomi sederhana, ibunya tetap berjuang agar ia dapat mengenyam pendidikan tinggi. Sementara itu, nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan oleh almarhum ayahnya menjadi fondasi penting dalam perjalanan akademiknya.
“Kalau hari ini saya bisa sampai di titik ini, itu bukan karena saya hebat, tapi karena doa seorang ibu yang tidak pernah putus,” tuturnya haru.
Dalam tesisnya, Abdul Muin mengangkat topik tentang indikator sumber daya alam dalam mendukung pembangunan desa berkelanjutan di Kasepuhan Cibarani, Lebak, Banten. Penelitian tersebut mengkaji potensi desa, mulai dari sumber daya alam, wisata budaya, ketersediaan air, hingga pengelolaan hutan adat.
Ia menekankan bahwa desa memiliki potensi besar untuk berkembang secara mandiri, asalkan dikelola dengan bijak dan berkelanjutan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi masyarakat dan pemerintah dalam merancang pembangunan yang sesuai dengan potensi lokal.
Selama menjalani studi, tantangan terbesar yang dihadapi adalah menjaga keseimbangan antara tuntutan akademik dan tanggung jawab pribadi. Ia mengatasi hal tersebut dengan manajemen waktu yang baik, menetapkan target realistis, serta menjaga ritme belajar secara konsisten.
“Kunci utamanya bukan kerja keras sesaat, tapi konsistensi dalam hal-hal kecil yang dilakukan terus-menerus,” jelasnya.
Sebagai wisudawan terbaik, Abdul Muin berharap dapat terus berkontribusi di dunia pendidikan serta terlibat dalam penelitian yang berkaitan dengan pembangunan desa berkelanjutan. Baginya, menjadi pendidik bukan sekadar menyampaikan ilmu, tetapi juga membentuk cara berpikir dan memberi inspirasi.
Ia juga berpesan kepada mahasiswa agar tidak takut berproses dan terus menjaga semangat belajar.
“Tidak harus selalu jadi yang paling pintar. Yang penting mau terus belajar, tidak mudah menyerah, dan tetap ingat tujuan awal,” pesannya.
Menutup kisahnya, ia menegaskan bahwa keberhasilan bukan hanya tentang kemampuan individu, tetapi juga tentang doa, perjuangan, dan dukungan orang-orang terdekat. Sebuah kisah yang menjadi pengingat bahwa dari kesederhanaan pun, lahir prestasi yang membanggakan.