Jakarta, Humas UNJ – Kegemarannya dalam bidang gerak sejak kecil telah mengantarkan Fahmi Fachrezzy meraih banyak prestasi dalam olahraga senam aerobik. Atas prestasi dan keberhasilannya, ia kerap disebut sebagai “master” aerobik Indonesia.
Tidak hanya senam aerobik, Fahmi juga pernah menggeluti taekwondo meski tidak lama. Hingga usianya yang sudah menginjak 60 tahun, ia masih tetap hobi bermusik sekaligus senam aerobik. Bagi Fahmi, pengalaman paling berkesan dalam taekwondo adalah ketika menjadi orang pertama yang memimpin pertandingan cabang olahraga taekwondo pada PON 1985 mewakili DKI Jakarta hingga meraih juara umum.
Fahmi menjelaskan bahwa olahraga dalam kehidupan sehari-hari adalah satu hal yang tidak terpisahkan. Semangat mengolah gerak ini juga tertanam sejak dirinya bergabung dalam kegiatan pramuka semasa sekolah hingga tingkat Pramuka Garuda.
“Saya memiliki latar belakang Pramuka Garuda dan di sini saya belajar disiplin, menyemangati diri dan orang lain, serta berkreasi. Ini yang saya terapkan ketika menjadi mahasiswa,” katanya.
Fahmi Fachrezzy adalah alumni Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK), Universitas Negeri Jakarta, sejak menempuh pendidikan S1, S2, hingga S3 pada bidang Pendidikan Jasmani. Sejak tahun 1988, Ia resmi menjadi dosen di FIKK UNJ hingga saat ini di Program Studi Pendidikan Jasmani.
“Ketika saya masuk olahraga, selain karena saya suka olahraga, saya menemukan kehidupan baru di sini. Di sinilah saya berkembang, karena saya menemukan banyak pengalaman baru dan sampai akhirnya saya menekuni senam irama itu,” ungkapnya.
Fahmi mengatakan bahwa melalui senam, ia telah berkeliling dunia dalam upaya membangun hubungan internasional, menggali pengalaman baru, sekaligus mengenalkan UNJ kepada dunia melalui senam aerobik.
“Melalui kompetisi senam ini, UNJ dikenal banyak negara,” pungkasnya.
Fahmi juga mengatakan bahwa ketekunannya pada bidang olahraga senam tidak terlepas dari dukungan para dosen dan koleganya di UNJ yang selalu mendukung dan menyemangatinya.
“Pada tahun 1984, saya mendapat mata kuliah senam irama dan semua dosen menganjurkan saya untuk bertahan karena ini adalah bidang yang seharusnya milik kita tapi belum ada orang yang menekuni senam irama. Saya fokus pada bidang ini dan mulai mengikuti kejuaraan-kejuaraan nasional,” katanya.
Meniti Karir Hingga Prestasi
Fahmi mengatakan bahwa sejak menggeluti senam aerobik, dirinya mulai bersinggungan dengan berbagai kompetisi baik di level nasional maupun internasional. Pada tahun 2000, ia aktif terlibat dalam kompetisi Pekan Olahraga Nasional (PON) hingga 2004 sebagai kompetisi PON terakhir yang ia ikuti.
“Saya pernah meraih emas 2 kali di PON di kategori pasangan, beregu, dan perorangan. Hingga akhirnya pada tahun 2004, saya gantung sepatu di kompetisi nasional karena sudah usia 40 tahun,” katanya sambil berseloroh.
Meski selesai pada kompetisi nasional, Fahmi masih terlibat dalam perhelatan SEA Games pada tahun 2003 hingga 2005 dengan perolehan perak dan perunggu. Tahun 2005 menjadi tahun terakhir kompetisi tingkat internasionalnya.
Kemudian pada tahun 2006, ia mengikuti kompetisi terakhirnya di Suzuki World Cup Aerobic Championship di Tokyo, Jepang, dan meraih peringkat lima sekaligus meneguhkan dirinya sebagai orang Indonesia dan dari UNJ pertama yang pernah meraih trofi tersebut.
Sekian banyak pengalaman kompetisi yang pernah ia ikuti, kini Fahmi Fachrezzy membentuk tim senam dalam upaya membagikan ilmunya sekaligus membentuk mental baru bagi kaum muda dalam olahraga senam di bawah kepelatihannya.
“Sekarang saya melatih klub senam Estafet Indonesia dan pernah membawa tim nasional Indonesia untuk berbagai kompetisi nasional dan internasional. Meski namanya tim Indonesia, tapi pemainnya dari UNJ semua,” katanya.
Tidak hanya berkontribusi pada prestasi, Fahmi Fachrezzy juga merupakan salah seorang yang turut terlibat mendorong senam aerobik menjadi salah satu cabang olahraga kompetisi di Pekan Olahraga Nasional (PON) pada tahun 2000 yang terselenggara hingga hari ini. “Mungkin gara-gara perjuangan itu saya dianggap legenda aerobik,” sambil berseloroh.
Fahmi mengatakan berbagai program kepelatihan baik sertifikasi maupun short course kepelatihan hingga ke luar negeri dilakukan melalui jerih payah secara mandiri. Ia bersyukur mendapat sponsor dari perusahaan dalam berbagai kegiatan pentingnya itu. “Ilmu terus berkembang di luar negeri, kita harus terus upgrade pengetahuan diri,” katanya.

Menjadi Tutor Senam di Televisi
Fahmi mengatakan suatu ketika saat dirinya menjadi pelatih tamu (guest star) senam di salah satu tempat fitness, ia kemudian mendapatkan kartu nama yang dititipkan kepada seorang resepsionis dari seseorang yang melihatnya melatih pada salah satu kelas senam.
“Seseorang itu saya lihat tidak ikut senam dan setelah itu pergi. Ketika saya ke resepsionis, saya ditinggali kartu nama,” katanya.
Setelah mendatangi kartu nama tersebut, pada tahun 2006 Fahmi Fachrezzy resmi bergabung dalam program senam Primaraga bersama Vicky Burki di saluran televisi ANTV. Hal ini pula yang turut membesarkan nama Fahmi Fachrezzy dalam dunia senam aerobik.
“Namanya rezeki kadang tidak diduga-duga datangnya,” ungkapnya sambil tersenyum.
Ia mengatakan bahwa gerakan senam telah menjadi bagian aktivitasnya yang melekat setiap hari. “Setiap hari saya selalu melakukan gerak dan jika tidak melakukan gerak merasa ada yang kurang dan merasa bersalah. Biasanya akan saya ganti lebih di olahraga gerak berikutnya,” katanya.
Fahmi mengatakan dirinya juga turut meramu gerak senam khusus yang ia lakukan setiap hari. Menurutnya, gerakan tersebut berfungsi untuk membakar lemak, mengencangkan tubuh, dan menjaga keseimbangan tubuh.
Senam dan Terapi Postur Tubuh
Pada suatu kesempatan, Fahmi Fachrezzy mengatakan bahwa senam tidak saja berguna untuk membantu menjaga daya tahan tubuh dan berbagai fungsi kesehatan lainnya. Ia mengatakan bahwa senam dapat menjadi terapi memperbaiki postur tubuh bahkan tubuh yang bengkok.
Atas manfaat yang berlimpah dari gerak senam, Fahmi mengatakan saat ini akan melangsungkan kompetisi senam karet yang akan diikuti oleh sekolah dasar se-DKI Jakarta pada tanggal 21 Juni 2025.
“Saat ini kebiasaan anak-anak main game sampai miring-miring tubuhnya dapat menyebabkan bengkok pada tulang. Harapannya melalui senam karet ini dengan rancangan gerak yang ringan dan tertuju pada perbaikan postur tubuh, selain dapat menjadi tindakan preventif memperbaiki postur tubuh pada anak-anak juga dapat menjadi ajang prestasi berkelanjutan,” katanya.
Fahmi menambahkan bahwa gerakan senam harus diatur sedemikian rupa dan harus diperhatikan fungsi dari gerak tersebut. “Gerakan senam itu ada aturannya untuk siapa, keperluannya apa, dan tidak boleh sembarangan terlebih hanya karena tren semata,” katanya.
Kenyataan itu juga yang menjadi pedoman bagi Fahmi dalam merancang senam SICITA (Senam Indonesia Cinta Tanah Air) yang belakangan mencuat dan turut membesarkan namanya melalui berbagai tayangan video YouTube dengan antusiasme penonton yang cukup tinggi.
Menurutnya, SICITA dibentuk sebagai olahraga dalam bentuk senam sekaligus menumbuhkan kesadaran nasionalisme kebangsaan. Senam SICITA berusaha memadukan gerakan senam dengan paduan lagu daerah serta lagu nasional Indonesia.
“Meski begitu, SICITA memiliki rancangan yang cukup rumit karena memadukan gerak dengan lagu nasional dan daerah,” katanya.
Ia merasa bangga kini SICITA hadir di tengah masyarakat dari dedikasi dan dukungan yang tidak terlepas dari dirinya semata melainkan juga dukungan dari Program Studi Pendidikan Musik UNJ yang digawangi oleh R.M Aditya Andriyanto untuk memadukan olah gerak dan musik hingga menciptakan perpaduan yang apik.
Pada kesempatan itu, Fahmi juga berpesan agar senam seharusnya memudahkan dengan gerakan yang mudah dan ringan dengan alunan musik yang nyaman. “Semakin sulit gerakan senam, semakin orang tidak mau melakukannya,” tutupnya.