Jakarta, Humas UNJ — Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, seorang perempuan muda bernama Nandita menyalakan lentera harapan bagi anak-anak pesisir Jakarta Utara. Lulusan Program Studi Pendidikan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) tahun 2024 ini tak hanya menyelesaikan pendidikannya, tetapi juga menghadirkan makna pendidikan di tempat yang jarang dijangkau institusi formal, yakni di bawah kolong jembatan kawasan Cilincing, Jakarta Utara.
Sejak masa kuliah, Nandita—akrab disapa Anin—telah aktif dalam berbagai kegiatan pengabdian masyarakat. Ia terlibat dalam organisasi kampus seperti Pusat Studi Mahasiswa (Pusdima) FISH UNJ, menjabat sebagai Ketua Angkatan, dan dikenal sebagai Srikandi FISH UNJ. Ia juga sempat memperluas wawasan sosial dan pendidikan melalui program akademik di Istanbul Sabahattin Zaim University, Turki.

Keterlibatannya dalam komunitas literasi Abang None Buku Jakarta Utara tahun 2018 menjadi titik balik semangat pengabdiannya. Bersama komunitas tersebut, yang kini dikenal sebagai Duta Baca DKI Jakarta, Anin mulai memahami pentingnya pendidikan di tengah masyarakat.
“Menjadi Abang None Buku 2018 membuat saya banyak turun langsung ke masyarakat. Saya mengajar anak-anak, membacakan dongeng, dan memperkenalkan literasi. Dari situ saya sadar, banyak anak di Jakarta Utara yang tidak tersentuh pendidikan,” kenangnya.
Perjalanan itu mempertemukannya dengan dua sahabat, Islah Satrio dan Marselino Stefanus, melalui komunitas sosial Turun Tangan Jakarta. Bersama mereka, Anin menyusuri kampung nelayan di Cilincing dan menyaksikan langsung berbagai persoalan sosial seperti kemiskinan, anak putus sekolah, dan buta huruf.
“Kami mendata sekitar 165 anak di wilayah itu. Ada yang belum sekolah, tidak bersekolah, bahkan ada yang sudah sekolah tapi belum bisa baca-tulis,” ujar Anin.

Berangkat dari kondisi tersebut, Anin menggagas pendidikan alternatif yang diberi nama “Sekolah di Utara”. Dengan menyewa sebidang lahan sempit di bawah kolong jembatan, ia mendirikan ruang belajar sederhana yang dilengkapi papan tulis, tikar, meja kecil, dan alat belajar lainnya. Para relawan direkrut melalui media sosial, dengan Instagram sebagai kanal utama untuk menyebarkan informasi, menggalang bantuan, dan memperluas jejaring.
“Kami ngamen dari kafe ke kafe. Sebagai mahasiswa, kami tidak hanya bernyanyi, tapi juga membuat acara teater, menjual kaus “Sekolah di Utara”, dan menggalang donasi untuk mendukung operasional sekolah,” tuturnya.
Dukungan pun mulai berdatangan dari mahasiswa berbagai kampus, komunitas, hingga lembaga internasional. Salah satu kenangan berharga adalah bantuan dari Kedutaan Besar Maroko yang memberikan kontainer usaha kepada warga setempat pada tahun 2022 sebagai bentuk kepercayaan terhadap keberadaan “Sekolah di Utara”.

Namun, pada tahun 2024, Anin harus menghadapi kenyataan pahit. Rumah belajar yang menjadi simbol “Sekolah di Utara” dirobohkan karena berdiri di lahan milik pemerintah. Penggusuran tersebut juga berdampak pada warga yang tinggal di sekitar lokasi.
“Waktu itu saya baru punya bayi yang sedang sakit. Saya tak bisa berbuat banyak. Semua isi sekolah kami hilang. Barang-barang yang tersisa kami titipkan di PAUD setempat agar tetap bisa dimanfaatkan,” ucapnya lirih.
Meski bangunan fisik telah tiada, semangat “Sekolah di Utara” tetap hidup. Bekas lokasi sekolah kini menjadi arena bermain anak-anak. Anin masih menjadi penghubung antara relawan dan masyarakat, termasuk saat kegiatan sosial digelar oleh pihak luar, seperti Putri Indonesia DKI Jakarta yang pernah merayakan Hari Kemerdekaan bersama anak-anak di sana.
Anin menyadari bahwa perjuangan tidak selalu berjalan mulus. Kebaikan sering kali berhadapan dengan konflik sosial dan minimnya dukungan dari pemerintah maupun masyarakat sekitar. Namun, ia tetap yakin bahwa pendidikan alternatif adalah jalan menuju perubahan sosial.
“Jangan sampai pendidikan berhenti di ruang alternatif. Pendidikan harus menjadi ruang wajib,” tegasnya.
Kini, di tengah kesibukannya sebagai guru profesional di sebuah sekolah di Jakarta Selatan dan sebagai ibu muda, Anin masih menyimpan mimpi untuk menghidupkan kembali “Sekolah di Utara”. Ia berencana mencari lahan baru yang lebih aman dan diakui untuk membangun ruang belajar bagi anak-anak pesisir.
“Banyak orang tidak seberuntung kita bisa sekolah. Saya ingin “Sekolah di Utara” hidup lagi, karena di sanalah saya belajar bahwa perubahan bisa dimulai dari tempat paling sederhana,” ujarnya penuh harap.
“Sekolah di Utara” mungkin lahir di bawah kolong jembatan, tetapi cahaya mimpi yang dipancarkannya telah menembus batas. Ia menyadarkan banyak orang bahwa pendidikan bukanlah hak istimewa, melainkan hak setiap anak Indonesia—sekaligus jalan menuju perubahan sosial yang lebih baik.
