JAKARTA, Humas UNJ – Sebanyak 18 anggota Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam (KMPA) Eka Citra Universitas Negeri Jakarta (UNJ) melaksanakan Ekspedisi Ranta Gayo di Aceh pada 23 Agustus 2026. Mengusung tema “Mengukir dengan Jejak, Lestari dalam Langkah, Merangkul Kebersamaan”, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi alam, tetapi juga memperkuat kepedulian terhadap lingkungan melalui aksi reboisasi.
Salah satu agenda utama ekspedisi berlangsung di kawasan Gunung Burni Greudong, Desa Mulia, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah, Aceh. KMPA Eka Citra berkolaborasi dengan Kelompok Tani Hutan (KTH) Gurung Greudong melakukan penanaman pohon di kawasan yang mengalami kerusakan tutupan lahan.
Kegiatan reboisasi tersebut diarahkan untuk membantu memulihkan tutupan vegetasi sekaligus menjaga keberadaan sumber mata air di kawasan Gunung Burni Greudong. Bagi peserta ekspedisi, kegiatan tersebut menjadi bentuk kontribusi langsung terhadap lingkungan dan masyarakat yang hidup di sekitar kawasan hutan.
Dukungan terhadap kegiatan penghijauan juga datang dari Gayo Environmental Community (GEC), lembaga swadaya masyarakat lokal yang telah menyalurkan hingga 1.000 bibit untuk mendukung upaya penghijauan. Keterlibatan GEC memperluas kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, kelompok tani hutan, dan organisasi lingkungan dalam menjaga keberlanjutan kawasan.
Direktur Kemahasiswaan dan Alumni UNJ, Yasep Setiakarnawijaya, mengapresiasi inisiatif KMPA Eka Citra yang mengintegrasikan kegiatan ekspedisi dengan aksi pelestarian lingkungan. Menurutnya, aktivitas mahasiswa di alam terbuka seharusnya tidak berhenti pada pengalaman menjelajah, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
“Ekspedisi seperti ini memiliki nilai yang sangat penting karena mahasiswa tidak hanya belajar mengenali alam dan membangun kekompakan, tetapi juga hadir memberikan kontribusi nyata. Kegiatan reboisasi menunjukkan bahwa semangat kemahasiswaan dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan dan kolaborasi bersama masyarakat,” ujarnya.
Menurut Yasep, keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan berbasis lingkungan juga menjadi bagian dari proses pembentukan karakter. Pengalaman berinteraksi dengan masyarakat, menghadapi kondisi alam, serta terlibat langsung dalam kegiatan konservasi dapat melatih tanggung jawab, kepemimpinan, kepedulian, dan kemampuan bekerja sama.
Tema “Mengukir dengan Jejak, Lestari dalam Langkah, Merangkul Kebersamaan” mencerminkan orientasi ekspedisi yang tidak semata-mata mengejar pencapaian perjalanan, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan hubungan dengan masyarakat lokal. Jejak yang ditinggalkan diharapkan bukan berupa kerusakan, melainkan manfaat yang dapat dirasakan melalui penanaman pohon dan pemulihan kawasan.
Kolaborasi dengan KTH Gurung Greudong dan GEC juga menunjukkan bahwa upaya konservasi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Mahasiswa dapat mengambil peran sebagai penggerak kegiatan, sementara pengetahuan dan pengalaman masyarakat setempat menjadi modal penting agar upaya pelestarian lingkungan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan kawasan.
Melalui Ekspedisi Ranta Gayo, KMPA Eka Citra UNJ memperlihatkan bahwa kegiatan kemahasiswaan di alam terbuka dapat dipadukan dengan pendidikan lingkungan, pengabdian kepada masyarakat, dan konservasi. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk membangun kesadaran mahasiswa bahwa menjaga alam bukan hanya tanggung jawab masyarakat di sekitar kawasan, tetapi juga membutuhkan peran generasi muda.