Jakarta, Humas UNJ — Momen unik terjadi dalam prosesi Wisuda Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Semester Genap Tahun Akademik 2024/2025 gelombang pertama di sesi ketiga yang digelar di Gedung Olahraga UNJ pada Rabu, 8 Oktober 2025. Salah satu nama wisudawan yang disebutkan untuk maju ke panggung adalah “Gunung Mahameruh”, yang langsung menarik perhatian peserta wisuda lainnya.
Nama yang tidak biasa itu dimiliki oleh mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) angkatan 2020. Sosok yang akrab disapa “Ero” oleh teman-temannya ini dikenal bukan hanya karena namanya yang mencolok, tetapi juga karena semangat dan kiprahnya selama menjalani masa kuliah.
Selama lima tahun berkuliah, Ero aktif dalam berbagai kegiatan kampus, mulai dari organisasi kemahasiswaan, kepanitiaan, magang profesional, hingga menyusun skripsi yang melibatkan pejabat daerah sebagai narasumber.
Menurut Ero, nama “Gunung Mahameruh” bukan sekadar unik, tetapi memiliki makna mendalam. Nama tersebut diberikan oleh sang ayah yang berasal dari Bali dan memiliki hobi mendaki gunung. Mahameru sendiri merupakan puncak tertinggi Gunung Semeru dan dikenal sebagai titik tertinggi di Pulau Jawa.
“Bapak saya ingin nama ini jadi doa. Harapannya saya tumbuh jadi pribadi yang tenang tapi tegas seperti gunung. Tapi nyatanya saya justru aktif banget,” ujar Ero sambil tertawa.

Meski sempat merasa canggung dengan namanya, Ero kini menjadikan nama tersebut sebagai bagian dari identitas dan personal branding.
“Waktu kecil bingung, orang-orang suka salah manggil. Sekarang teman-teman manggil saya Ero, biar lebih gampang. Jadi nama ini juga ikut membentuk personal branding saya,” tambahnya.
Selama kuliah, Ero menjalani magang selama tujuh bulan di USAID HEPI Project, sebuah lembaga kerja sama pembangunan milik pemerintah Amerika Serikat. Pengalaman tersebut menjadi inspirasi bagi skripsinya yang berjudul Pola Komunikasi antara Pimpinan dan Karyawan di USAID HEPI Project, yang mengangkat isu perbedaan budaya antara Indonesia dan Amerika Serikat. Ia bahkan sempat mewawancarai Pejabat Bupati Kudus secara daring sebagai triangulator dalam penelitiannya.
“Saya ingin eksplorasi bagaimana budaya memengaruhi gaya komunikasi di lingkungan kerja multinasional,” jelasnya.
Nama Mahameruh juga kerap menjadi perhatian dosen dan pihak program studi. Ia sering diminta menjadi moderator, pembawa acara, hingga perwakilan dalam berbagai kegiatan kampus.
“Mungkin karena nama saya unik, saya sering diminta bantu Prodi. Nama jadi pembuka jalan juga,” katanya.
Kini, setelah resmi menyandang gelar sarjana, Ero bertekad untuk mengembangkan diri di bidang komunikasi strategis, khususnya dalam ranah pembangunan sosial dan budaya.
“Saya percaya komunikasi itu bukan hanya tentang berbicara, tapi juga menjembatani perbedaan. Saya ingin terus belajar dan berkontribusi di sektor-sektor yang bisa membawa perubahan positif,” tuturnya.
Kisah Gunung Mahameruh menjadi bukti bahwa nama bukan sekadar identitas, tetapi juga bisa menjadi sumber inspirasi dan motivasi untuk terus berkarya dan memberi dampak positif.